Thursday, March 3, 2016

Makalah : Islam di Andalusia Spanyol



BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR  BELAKANG
Pusat kekuasaan Islam adalah Spanyol Selatan atau Andulusia. Nama Andalusia berasal dari istilah Al-Andalus yang digunakan oleh orang Arab, berasal dari orang-orang Vandal yang telah menetap di wilayah ini. Stabilitas pada Muslim Spanyol terwujud pada pembentukan Bani Umayyah Andalusia, yang berlangsung tahun 756 hingga 1031. Yang berjasa adalah Amir Abd al-Rahman, yang mampu menyatukan berbagai kelompok-kelompok Muslim yang telah menaklukkan Spanyol untuk bersama-sama menguasainya. Pada tahun 711 pasukan Muslim datang ke Spanyol dan dalam tujuh tahun menaklukkan Semenanjung Iberia. Ini lalu menjadi salah satu peradaban Islam yang besar; mencapai puncaknya pada Khalifah Umayyah Cordoba pada abad ke-10. Kekuasaan Muslim menurun setelah itu dan berakhir pada tahun 1492 ketika Granada ditaklukkan. Jantung kekuasaan Islam adalah Spanyol Spanyol atau Andulusia. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana, Islam memainkan peranan yang sangat besar.
Maka dalam hal ini, kami akan membahas lebih lanjut masalah “ISLAM DI ANDALUSIA”.
B.      RUMUSAN MASALAH
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini yaitu sebagai berikut:
1.      Bagaimana proses berdirinya Islam di Andalusia?
2.      Bagaimana proses  kemajuan Islam di Andalusia?
3.      Apa saja yang menjadi faktor kemunduran dan kehancuran Islam di Andalusia?
BAB II
PEMBAHASAN

A.     SEJARAH BERDIRINYA ISLAM DI ANDALUSIA
Ketika berada di bawah kekuasan Romawi, wilayah ini dikenal dengan nama Asbania. Pada abad ke– 5 M, Andalusia dikuasai olah Bangsa Vandal yang berasal dari wilayah ini sejak itu wilayah ini disebut Vandalusia yang oleh umat Islam akhirnya disebut “ Andalusia “.
Sejak pertama kali berkembang di Andalusia sampai dengan berakhirnya kekuasaan Islam di sana, Islam telah memainkan peranan yang sangat besar. Masa ini berlangsung selama hampir delapan abad ( 711 – 1492 M ). Pada tahap awal semenjak menjadi kekuasaan Islam, Andalusia diperintah oleh wali-wali yang diangkat oleh pemerintah Bani Ummayah di Damaskus. Pada periode ini kondisi sosial politik Andalusia masih diwarnai perselisihan disebabkan karena kompleksitas etnis dan golongan. Disamping itu juga timbul gangguan dari sisa- sisa musuh Islam di Andalusia yang bertempat tinggal di wilayah - wilayah pedalaman. Periode ini berakhir dengan datangnya Abdur Rahman Al – Dakhil ke Andalusia. Sebagaimana disebutkan terdahulu, Andalusia di duduki umat Islam pada zaman Khalifah Al – Walid ( 705 – 715 M ), salah seorang Khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Sebelum penaklukan Andalusia, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari Dinasti Bani Umayyah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman khalifah Abdul Malik ( 685 – 705 M).[1]
 Jika kita melihat ke belakang, sebelum mereka menaklukkan Andalusia, pada masa pemerintahan Khalifah sebelum Al–Walid yaitu khalifah Abdul Malik (685–705 M ), umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya salah satu provinsi dari dinasti Umayyah, dan yang menjadi Gubernurnya adalah Hasan Bin Nu’man Al Ghassani. Namun pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah pada khalifah Al – Walid, Gubernur di Afrika Utara tersebut digantikan kepada Musa Ibn Nushair. Pada Musa Ibn Nushair, mereka berhasil memduduki Al -Jazair dan Maroko dan daerah bekas Barbar.
Peristiwa pengambil alihan kekuasaan dari para wali ke tangan para Amir yang disebut dengan periode keamiran hingga terbentuknya sistem khilafah saat itu. Dari situlah mulai dikenal khilafah Bani Umayah II. Amir pertama yang berhasil menguasai Andalusia adalah Abdurrahman al-Dakhil, salah seorang cucu Abdul Malik Ibn Marwan yang berhasil meloloskan diri dari kejaran pasukan Abu Abbas al-Saffah. Melalui rute yang tidak biasa dia lalui, akhirnya ia berhasil memasuki wilayah Palestina, terus ke Mesir, Afrika Utara hingga tiba di Ceuta (Septah). Di wilayah inilah ia mendapat bantuan dari bangsa Barbar dan menyusun kekuatan militer guna menyelesaikan konflik etnik politik antara bangsa Arab Mudhariyah dengan Himyariyah di Andalusia.[2] Abdurrahman diminta oleh pihak Arab Himyariyah untuk membantu merencanakan dan melaksanakan pemberontakan terhadap kelompok Mudhariyah. Gubernur Yusuf Ibn Abdurrahman al-Fikry, yang mewakili kelompok Arab Mudhariyah, menindas kelompok Arab Himyariyah. Sebelum melancarkan serangan, Abdurrahman mengutus orang kepercayaannya bernama Badar untuk mencari tahu tentang perkembangan terakhir yang terjadi. Utusan itu diterima dengan baik oleh kabilah-kabilah Arab karena ia merupakan utusan dari keturunan Bani Umayah yang pernah berkuasa di Damaskus. Badar memperoleh informasi mengenai perkembangan politik mutakhir yang terjadi di Andalusia. Berita inilah yang kemudian ia sampaikan kepada Abdurrahman al-Dakhil. Dari data dan informasi yang dikumpulkan, akhirnya Abdurrahman dan para pendukungnya memasuki wilayah Andalusia pada tahun 755 M. Dan memenangkan peperangan di Massarat pada tahun itu juga, sehingga ia menduduki tahta kekuasaan Andalusia sebagai bagian dari kekuasaan Dinasti Umayah di Andalusia, yang saat itu telah hancur dikalahkan oleh kekuatan Bani Abbas.
Kedatangan Abdurrahman al-Dakhil dan para pendukungnya membuat marah Yusuf Ibn Abdurrahman al-Fikry. Karena ia dianggap penentang dan mengancam kekuasaannya di Andalusia. Kedatangan mereka ke Andalusia ini tidak dianggap oleh Yusuf. Dengan berbagai cara, Yusuf mencoba mengusir Abdurrahman al-Dakhil keluar dari Andalusia. Sikap dan perbuatan Yusuf Ibn Abdurrahman al-Fikry ini menimbulkan kemarahan Abdurrahman al-Dakhil dan para pendukungnya. Sehingga kelompok Abdurrahman melakukan serangan atas kekuasaan Yusuf di Cordova pada tahun 139 H/758 M. Kemenangan ini membawa harum nama Abdurrahman al-Dakhil. Sejak saat itulah ia mendirikan kekuasaan Islam di Andalusia, sebagai bagian dari kepanjangan kekuasaan Bani Umayyah yang telah dihancurkan Bani Abbas pada tahun 132 H/750 M.
B.      PROSES KEMAJUAN ISLAM DI ANDALUSIA
Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di Andalusia, umat Islam telah mencapai kejayaannya disana. Banyak prestasi yang mereka peroleh bahkan pengaruhnya membawa ke Eropa, dan kemudian dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks, diantara yang telah terbangun adalah :


1. Kemajuan Intelektual
Masyarakat Andalusia Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan), Al-Muwalladun (orang-orang Andalusia yang masuk islam), Barbar (umat islam yang berasal dari Afrika Utara) Al-Shaqallibah (penduduk antara konstantinipel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa islam untuk dijadikan tentara bayaran). Yahudi Kristen yang berbudaya arab dan Kristen yang masih menentang kehadiran islam. Semua komunitas ini kecuali yang terakhir, memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang melahirkan kebangkitan ilmiah, sastra dan pembangunan fisik di Andalusia.[3] Kemajuan-kemajuan intelektual ini dapat dilihat di berbagai bidang antara lain :
      a. Filsafat
        Minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, yaitu Muhammad Ibn Abdl Al-Rahman (832-886 M).[4]
Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat Arab-Andalusia adalah Abu Bakr Muhammad Ibn Al-Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah. Tokoh utama kedua adalah Abu Bakr Ibn Thufail, ia banyak menulis masalah kedokteran, astronomi dan filsafat. Karya filsafatnya yang sangat terkenal adalah Hay Ibn Yaqzhan. Bagian akhir abad ke 12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang dikenal sebagai komentator pikiran-pikiran dialah Ibn Rusyd (Averroes) hidup antara 1126-1198 M, karena itu pula ia dijuluki sebagai Aristoteles II, pengaruhnya sangat menonjol atas pendukung filsafat skholastik Kristen dan pikiran-pikiran Sarjana Eropa pada abad pertengahan.[5]
      b. Sains
Dalam bidang ini bermunculan tokoh-tokoh ilmuwan seperti Abbas Ibn Farnas termashyur dalam ilmu kimia dan astronomi orang yang pertama menemukan pembuatan kaca dari batu, Ibrahim bin Naqqash dalam bidang astronomi dapat menentukan kapan terjadinya gerhana matahari dan kapan lamanya, ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ahmad ibn Abbas dari Cordova ahli dalam bidang obat-obatan dan banyak lagi tokoh-tokoh yang disebutkan namun sangat besar jasanya dalam perkembangan dan pencerahan ilmu pengetahuan pada masa itu.[6]
      c. Fikih
Dalam bidang fikih, Andalusia Islam dikenal sebagai penganut mahzab Maliki. Yang memperkenalkan mahzab ini adalah Ziad Ibn Abd Al-Rahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi qadhi pada masa Hisyam Ibn abd.Al-Rahman. Ahli-ahli fikihnya lainnya diantaranya adalah Abu Bakar Ibn Al-Quthiyah, Munzir Ibn Sa’id Al-Baluti, dan Ibn Hazm yang terkenal.[7]
      d. Musik dan Kesenian
Tokohnya Al-Hasan Ibn Nafi yang dijuluki Zaryab, Zaryab yang selalu tampil mempertunjukkan kebolehannya yang terkenal sebagai pengubah lagu.
Karya-karya sastra banyak bermunculan, seperti Al-Iqad Al-Farid karya Ibn Abd Rabbih, Al-Dzakhirah fi Mahasin Ahl Al-Jazirah oleh ibn Bassam, Kitab Al-Qalaid buah karya Al-Fath Ibn Khaqan dan banyak lagi yang lain.
      2. Kemajuan Pembangunan
Kemajuan Bani Umayyah di Andalusia diraih pada masa pengganti Abd al-Rahman al-Dakhil. Kemajuan Kordova ditandai dengan pembangunan yang megah diantaranya:
1.       al-Qashr al-Kabir , kota satelit yang didalamnya terdapat gedung-gedung istana megah.
2.      Rushafat, istana yang dikelilingi oleh taman yang di sebelah barat laut Cordova.
3.      Masjid jami’ Cordova, dibangun tahun 170 H/786 M yang hingga kini masih tegak.
4.      Al-Zahra, kota satelit di bukit pegunungan Sierra Monera pada tahun 325 H/936 M. Kota ini dilengkapi dengan masjid tanpa atap (kecuali mihrabnya) dan air mengalir ditengah masjid, danau kecil yang berisi ikan-ikan yang indah, taman hewan (margasatwa), pabrik senjata, dan pabrik perhiasan. [8]

3. Perkembangan Ekonomi
Perkembangan baru spanyol juga didukung oleh kemakmuran ekonomi pada abad ke-9 dan abad ke-10. Perkenalan dengan pertanian irigasi yang didasarkan pada pola-pola negeri Timur mengantarkan pada pembudidayaan sejumlah tanaman pertanian yang dapat diperjual-belikan, meliputi buah ceri, apel, buah delima, pohon ara, buah kurma, tebu, pisang, kapas, rami dan sutera. Pada saat yang sama, Spanyol memasuki fase perdagangan yang cerah lantaran hancurnya penguasaan armada Bizantium terhadap wilayah barat laut Tengah. Beberapa kota seperti seville dan Cordova mengalami kemakmuran lantaran melimpahnya produksi pertanian dan perdagangan internasional.
4. Kemegahan Pembangunan Fisik
Aspek pembangunan fisik yang mendapat perhatian umat islam sangat banyak seperti dalam perdagangan. Jalan-jalan dan pasar dibangun seindah mungkin. Di samping itu pula bidang pertanian juga tidak ketinggalan dengan memperkenalkan sistem irigasi, kemudian memperkenalkan pertanian padi, jeruk, kebun dan taman-taman.
                                                           


C.      FAKTOR KEMUNDURAN DAN KEHANCURAN ISLAM DI ANDALUSIA
          Dalam masa kekuasaan Islam di Spanyol yang begitu lama tentu memberikan catatan besar dalam mengembangkan dan memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi peradaban dunia. Namun, sejarah panjang yang telah diukir kaum muslim menuai kemunduran dan kehancuran. Kemunduran dan kehancuran disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
      1. Konflik Islam dengan Kristen
Keadaan ini berawal dari kurang maksimalnya para penguasa muslim di Andalusia dalam melakukan proses Islamisasi. Hal ini mulai terlihat ketika masa kekuasaan setelah al-Hakam II yang dinilai tidak secakap dari khalifah sebelumnya. Bagi para penguasa, dengan ketundukan kerajaan-kerajaan kristen dibawah kekuasaan kristen hanya dengan membayar upeti saja, sudah cukup puas bagi mereka. Mereka membiarkan umat Kristen menganut agamanya dan menjalankan hukum adat dan tradisi kristen, termasuk hirarki tradisional, asal tidak ada perlawanan senjata.[9]
Namun, kehadiran Arab Islam tetap dianggap sebagai penjajah sehingga malah memperkuat nasionalisme masyarakat Spanyol Kristen. Hal ini menjadi salah satu penyebab kehidupan negara Islam di Andalusia tidak pernah berhenti dari pertentangan antara Islam dan Kristen. Akhirnya pada abad ke-11, umat Islam Andalusia mengalami kemunduran, sedang umat Kristen memperoleh kemajuan pesat dalam bidang IPTEK dan strategi perang.
      2. Tidak Adanya Ideologi Pemersatu
Hal ini terjadi hingga abad ke-10 atas perlakuan para penguasa muslim sebagaimana politik yang dijalankan Bani Umayyah terhadap para mu’allaf yang berasal dari umat setempat. Mereka diperlakukan tidak sama seperti tempat-tempat daerah taklukan Islam lainnya. Kenyataan ini ditandai dengan masih diberlakukannya istilah ibad dan muwalladun, suatu ungkapan yang dinilai merendahkan.
Akhirnya kelompok-kelompok etnis non-Arab terutama etnis Salvia dan Barbar, sering menggerogoti dan merusak perdamaian. Hal ini menimbulkan dampak besar bagi perkembangan sosio-ekonomi di Andalusia. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada ideologi pemersatu yang mengikat kebangsaan mereka. Bahkan banyak diantara mereka yang berusaha menghidupkan kembali fanatisme kesukuan guna mengalahkan Bani Umayyah.
      3. Kesulitan Ekonomi
Dalam catatan sejarah, pada paruh kedua masa Islam di Andalusia, para penguasa begitu aktif mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam, sehingga mengabaikan pengembangan perekonomian. Akibatnya timbul kesulitan ekonomi yang memberatkan dan berpengaruh bagi perkembangan politik dan militer. Kenyataan ini diperparah lagi dengan datangnya musim paceklik dan membuat para petani tidak mampu membayar pajak. Selain itu, penggunaan keuangan negara tidak terkendali oleh para penguasa muslim.

      4. Tidak jelasnya Sistem Peralihan kekuasaan
Kekuasaan merupakan hal yang menjadi perebutan diantara ahli waris. Karena inilah kekuasaan Bani Umayyah runtuh dan Muluk al-Thawaif muncul. Maka, Granada yang awalnya menjadi pusat kekuasaan Islam terakhir di Spanyol akhirnya jatuh ke tangan Ferdinand dan Isabella.
      5. Keterpencilan
Spanyol Islam bagaikan negeri terpencil dari dunia Islam yang lain. Ia selalu berjuang sendirian, tanpa mendapat bantuan kecuali dari Afrika Utara. Oleh karena itu, tidak ada kekuatan alternatif yang mampu membendung kebangkitan Kristen disana. [10]
AKHIR KEKUASAAN ISLAM DI ANDALUSIA
                Pada pertengahan abab ke – 11 Posisi non-Muslim di Spanyol memburuk secara substansial, ketika para penguasa lebih ketat dan Islam datang di bawah tekanan besar dari luar. Orang Kristen tidak diizinkan memiliki rumah lebih tinggi daripada umat Islam, tidak boleh mempekerjakan pelayan Muslim, dan harus memberi jalan kepada umat Islam di jalanan. Orang Kristen tidak boleh menampilkan simbol-simbol iman mereka di luar, bahkan tidak boleh membawa Alkitab. Ada penganiayaan dan eksekusi. Salah satu peristiwa terkenal adalah pembunuhan terencana di Granada pada tahun 1066, dan ini diikuti dengan kekerasan dan diskriminasi lebih lanjut di mana kerajaan Islam itu sendiri berada di bawah tekanan. Bersamaan dengan mundurnya kerajaan Islam, dan lebih banyak wilayah yang diambil alih kembali oleh penguasa Kristen, orang Muslim di daerah Kristen menemukan diri mereka menghadapi tekanan-tekanan yang sama dengan yang sebelumnya mereka telah lakukan terhadap orang lain. Namun, secara keseluruhan, banyak kelompok agama minoritas akan menjadi lebih buruk setelah Islam digantikan di Spanyol oleh Kristen. Ada juga budaya aliansi, terutama dalam arsitektur - 12 singa di istana Al-Hambra adalah pengaruh Kristen.
Masjid di Cordoba, sekarang diubah menjadi katedral masih, agak ironis, yang dikenal sebagai La Mezquita atau secara harfiah, masjid. Masjid ini dibangun pada akhir abad ke-8 oleh pangeran Ummayyad Abd Al-Rahman bin Muawiyah. Di bawah pemerintahan Abdul Rahman III (r. 912-961) Islam Spanyol mencapai kekuasaan terbesarnya, setiap Mei, kampanye diluncurkan menuju perbatasan Kristen, ini juga merupakan puncak budaya peradaban Islam di Spanyol.
Runtuhnya kekuasaan Islam di Spanyol adalah karena tidak hanya meningkatkan agresi dari negara-negara Kristen, tapi juga melahirkan perpecahan di antara para penguasa muslim. Bencana itu datang baik dari pusat dan ekstremitas. Pada awal abad ke-11, kekhalifahan Islam satu-satunya telah hancur menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Pusat Islam besar pertama yang jatuh ke tangan Kristen adalah Toledo pada tahun 1085.







BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Andalusia, sebuah negeri yang meninggalkan jejak begitu besar di sepanjang sejarah umat Islam pada awal perkembangan Islam di dunia Eropa.Tentu hal ini menyita banyak perhatian besar dari berbagai khalayak umat Islam.Dikatakan demikian, karena penguasaan Islam terhadap semenanjung Iberia lebih khusus Andalusia, telah menunjukkan bahwa Islam telah tersebar ke negara Eropa.
Mulai dari tahapan awal proses masuknya Islam, dimana wilayah Spanyol diduduki oleh khalifah-khalifah dalam setiap dinasti-dinasti yang didirikan dalam setiap periodenya. Tentu, hal ini banyak memiliki peranan yang sangat penting dan besar dalam perkembangan umat Islam.Dimana  pada akhirnya Islam pernah berjaya di Spanyol dan berkuasa selama tujuh setengah abad. Suatu masa kekuasaan dalam waktu yang sangat lama untuk mengembangkan Islam.
Namun, di balik usaha keras umat Islam mempertahankan kejayaan pada masa sekian abad itu, umat Islam menghadapi kesulitan yang amat berat.Dimana pada suatu ketika, umat Islam diterpa serangan-serangan penguasa Kristen yang sampai-sampai umat Islam tidak kuasa menahan serangan-serangan penguasa Kristen yang semakin kuat itu.Sehingga pada akhirnya Islam menyerahkan kekuasaannya dan semenjak itu berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol.
Demikianlah Islam di Andalusia, walaupun pada akhirnya berakhir dengan kekalahan, namun islam muncul sebagai suatu kekuatan budaya dan sekaligus menghasilkan cabang-cabang kebudayaan dalam segala ragam dan jenisnya. Banyak sekali kontribusi Islam bagi kebangunan peradaban dan kebudayaan baru Barat. Sumbangan Islam itu  telah menjadi dasar kemajuan Barat terutama dalam bidang-bidang politik, ekonomi, sains dan teknologi, astronomi, filsafat, kedokteran, sastra, sejarah dan hukum.
B.      Saran

Demikianlah yang sempat kami paparkan dalam makalah kami, dan penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran dari para pembaca sekalian.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, Samsul Munir,, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah, 2009.
Ismail, Faisal, Paradigma Kebudayaan Islam, Yogyakarta: Titian Ilahi Press,     1996. 
Mubarok, Jaih, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004.

A.Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, jilid 2, Pustaka al – Husna, Jakarta, 1983

Badry Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1993





[1]Ibid ,hal.88
[2]Prof.K.A,Sejarah Islam ( Tarikh Pra Modern ), Cet.II , 1997,Raja Grafindo Persada,Jakarta ,2000,hal.301-302.


[3] Harun Nasution , Op.cit,hal. 82
[4]Majdid Fakhri , Sejarah Filsafat Islam , Pustaka Jaya , 1996,Jakarta,hal.357

[5] Faisal Ismail , Paradigma Kebudayaan Islam , Cet I , Titian Ilahi , Press , 1996 , Yogyakarta , hal. 154
[6] Ahmad Syahlabi , Op.Cit,hal. 86
[7] Badry Yatim , Op.Cit,hal. 102 - 103


[8]Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004), hlm. 71.

[9] Hasan Ibrahim Hasan , Tarikh al-Islam al-Sitasi wa al-Dini wa al-Tsaqafi wa al-Ijtima’,Maktabah al-Nahdhah , t.t , Kairo . hal . 502


[10]Badri Yatim, op. cit., hlm. 107

1 comment:

makalah-makalah dan tugas power point (ppt): Metode Kajian Hadis

makalah-makalah dan tugas power point (ppt): Metode Kajian Hadis : BAB I PENDAHULUAN A.   Latar Belakang Petunjuk-petunjuk agama men...