Thursday, March 3, 2016

Makalah : Filsafat dan Tujuan Mempelajari



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Manusia adalah mahluk istimewa yang diciptakan Allah SWT. Keistimewaan manusia terletak pada potensi-potensi yang Allah berikan kepadanya. Baik itu potensi yang berupa fisik ataupun non-fisik. Semua potensi fisik manusia memiliki fungsi yang sangat luar biasa kegunaannya bagi keberlangsungan hidup manusia itu sendiri, begitupun dengan potensi non-fisik yang terdiri atas: jiwa (psyche), akal (ratio) dan rasa (sense).
Dengan potensi akalnya, manusia mampu menjadi mahluk yang lebih mulia kedudukannya dari pada mahluk lain. Allah telah mengarunia manusia sebuah anugerah yang mampu menjadikan manusia mahluk yang berbudaya.
Berbeda dengan hewan yang tidak mampu berbudaya dikarenakan hewan tidak memiliki akal. Dengan akalnya ini pula manusia mampu berfikir, bernalar dan memahami diri serta lingkungannya, berefleksi tentang bagaimana ia sebagai seorang manusia memandang dunianya dan bagaimana ia menata kehidupannya.
Karena kemampuan dalam menggunakan nalarnya, manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia-rahasia kekuasaan-Nya. Contohnya para ilmuwan muslim seperti Al-khawarizmi (825M) yang mampu menyusun buku matematika aljabar dan arimetika yang kemudian di Eropa menjadi jalan pembuka untuk menggunakan angka desimal yang menggantikan cara penulisan dengan angka romawi. Ibnu Sina (980-1037) adalah bapak kedokteran modern, ia menulis buku Al-Qonuun fi Ath-Thib (The Canon of Medicine) dan Kitab Asy-Syifa’ (The Book of Healing) yang telah dijadikan bahan rujukan ahli-ahli kedokteran modern. Ibnu al-Haitam (965-1040) seorang cendikiawan multidisiplin ilmu yang menghasilkan karya besar Al-Manadhir (The Optic). Ibnu Ismail Al-Jaziri (1136-1206), tokoh besar bidang mekanik dan industri ini berhasil mengembangkan prinsip hidrolik untuk menggerakkan mesin yang dikenal sebagai mesin robot.
Di dunia baratpun dikenal tokoh-tokoh ilmuwan yang telah menorehkan sejarah emasnya bagi generasi penerus mereka. Sebut saja Newton (1643-1727) yang berhasil menciptakan teori gravitasi, teorinya memberikan penjelasan yang luas sekali tentang peristiwa-peristiwa fisika mulai dari ukuran molekuler sampai ukuran astronomis. Selain itu, Newton juga berhasil menyusun perhitungan kalkulus yang disebut diferensial integral.
Lantas, bagaimana mereka mampu melakukan hal besar itu semua? Itu semua tentunya mampu mereka capai karena mereka dapat mengoptimalkan potensi akal yang Allah SWT berikan kepada mereka dan tentunya kepada kita juga. Dan salah satu bidang keilmuan yang membelajarkan manusia untuk dapat mengoptimalkan akalnya adalah Ilmu Filsafat. Filsafat adalah sebuah disiplin ilmu yang membutuhkan refleksi dan pemikiran sistematis-metodis dengan secara aktif menggunakan intelek dan rasio kita.
B.     Rumusan Masalah
Sebagai sebuah pengantar filsafat, dalam makalah ini akan dibahas beberapa
permasalahan sebagai berikut:
a.  Bagaimana definisi pengertian filsafat?
b.  Apamempelajari filsafat?
c.  Apa tujuan mempelajari filsafat










BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN FILSAFAT
a.      Pengertian filsafat secara umum
      Secara etimologis, filsafat diambil dari bahasa Arab, falsafah-berasal dari bahasa Yunani, Philosophia, kata majemuk yang berasal dari kata Philos yang artinya cinta atau suka, dan kata Sophia yang artinya bijaksana. Dengan demikian secara etimologis, filsafat memberikan pengertian cinta kebijaksanaan.
      Di dalam Encyclopedia of philosophy (1967:216) ada penjelasan sebagai berikut: “The creek word Sophia is ordinary translated as ‘wisdom’, and the compound philosophia, from wich philosophy derives, is translated as the ‘love of wisdom’.” Abu Bakar Atjeh (1970:6) juga mengutip seperti itu. Berdasarkan kutipan tersebut dapat di ketahui bahwa filsafat ialah keinginan yang mendalam untuk mendapatkan kebijakan atau untuk menjadi bijak.
      Secara terminologis, filsafat mempunyai arti yang bermacam-macam, sebanyak orang yang memberikan pengertian. Berikut ini dikemukakan beberapa definisi retsebut : · Plato (477 SM-347 SM). Ia seorang filsuf Yunani terkenal, gurunya Aristoteles, ia sendiri berguru kepada Socrates. Ia mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada, ilmu yang berminat untuk mencapai kebenaran yang asli.
      Aristoteles (381SM-322SM), mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu; metafisika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. · Marcus Tulius Cicero (106SM-43SM), seorang politikus dan ahli pidato Romawi merumuskan filsafat sebagai pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha-usaha untuk mencapainya. · Al-Farabi (wafat 950M), seorang filsuf muslim mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.

b.      Pengertian filsafat menurut sudut pandang Islam
      Pengertian Filsafat Islam adalah hasil pemikiran filsuf tentang ajaran ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam yang disinari ajaran Islam dalam suatu aturan pemikiran yang logis dan sistematis. Sedangkan menurut Ahmad Fuad al-Ahwani filsafat Islam ialah pembahasan tentang alam dan manusia yang disanari ajaran Islam.
      Sejarah singkat timbulnya Filsafat Islam. Cara pemikiran Filsafat secara teknis muncul pada masa permulaan jayanya Dinasti Abbasiyah. Di bawah pemerintahan Harun al Vrasyid, dimulailah penterjemahan buku-buku bahasa Yunani kedalam bahasa Arab. Orang-orang banyak dikirim ke kerajaan Romawi di Eropa untuk membeli manuskrip. Awalnya yang dipentingkan adalah pengetahuan tentang kedokteran, tetapi kemudian juga pengetahuan-pengatahuan lain termasuk filsafat.
      Penterjemahan ini sebagian besar dari karangan Aristoteles, Plato, serta karangan mengenai Neoplatonisme, karangan Galen, serta karangan mengenai ilmu kedokteran lainya, yang juga mengenai ilmu pengetahuan Yunani lainnya yang dapat dibaca alim ulama Islam. Tak lama kemudian timbulah para filosof-filofof dan ahli ilmu pengetahuan terutama kedokteran di kalam umat Islam.

B.     MANFAAT MEMPELAJARI FILSAFAT
Dalam pelajaran-pelajaran permulaan,sering mahasiswa bertanya : “Untuk apa kita belajar filsafat?”, “Apa manfaat filsafat?”, dan “Apa filsafat berguna bagi saya dalam hidup saya?”. Banyak filosof yang memikirkan soal-soal ini. Sidney Hook, dalam suatu makalah tentang filsafat mengatakan bahwa kita akan dapat mengetahui filsafat itu dengan menyelidiki manfaatnya. Ia menunjukkan bahwa filsafat bukannya aktivitas yang member jawaban-jawaban pasti terhadap pertanyaan, akan tetapi sebagai aktivitas yang mempersoalkan jawaban-jawaban.

          Kegagalan untuk memperoleh suatu jawaban yang pasti kadang-kadang menyebabkan rasa frustasi. Walaupun begitu, kita tetap berpendirin bahwa manfaat yang besar dari filsafat adalah untuk menjajagi bidang pemecahan yang mungkin terhadap problema filsafat. Sekalipun pemecahan tersebut sudah diidentifikasi dan diperiksa, akan lebih mudah untuk menghadapi problema dan akhirnya untuk kita mengadakan pemecahan sendiri. Agar dapat menjadi efektif dalam tugasnya, seorang filosof harus dapat melampaui cara berpikir yang biasa agar dapat menghadapi munculnya problem baru yang tidak dapat diharapkan sebelumnya. Dengan begitu, pertama, kita dapat menjawab untuk sementara akan pertanyaan: “Mengapa kita mempelajari filsafat?”, dengan menunjukkan perlunya mempersoalkan hal yang tradisional, konvensional dan yang sudah melembaga.
Kedua adalah untuk  menunjukkan bahwa ide itu merupakan satu dari hal-hal yang praktis didunia. Ide-ide falsafi mempunyai relevansi yang langsung dengan kejadian-kejadian hari ini. Umpamanya, konsepsi filsafat tentang watak manusia, tentang jiwa manusia atau personality, tentang kemerdekaan kemauan, semua itu membentuk pengalaman kita sekarang. Kita pernah mendengarkan kata-kata : “Apa yang menjadi kepercayaan seseorang itu tidak penting selama ia melakukan hal-hal yang benar”. Hal ini berarti bahwa sebagian orang mempunyai kecenderungan untuk menilai tindakan-tindakan diatas keyakinan dan kepercayaan. Akan tetapi ide adalah dasar dari tindakan dengan pasti, kecuali jika ia percaya suatu prinsip. Sebagai yang kita ketahui, bahwa komunisme mungkin tidak akan lahir seandainya Karl Marx tidak meletakkan dasar-dasarnya dalam filsafatnya, sekali orang menerima ide-idennya, sudah dapat ditentukan bahwa ide-ide tersebut harus diekspresikan dengan tindakan.
Dengan sadar atau tidak, kita harus mengakui bahwa filsafat itu adalah suatu bagian dari keyakinan kita dan tindakan kita berdasarkan atas keyakinan  tersebut. JIka kita ingin mengambil suatu keputusan secara bijaksana dan suatu tindakan secara konsisten, maka kita perlu menemukan nilai-nilai dan arti benda-benda, kita perlu memecahkan persoalan kebenaran atau kebohongan, keindahan atau keburukan, kebenaran atau kesalahan. Pencarian ukuran dan tujuan adalah suatu bagian yang penting dari tugas filsafat. Filsafat mementingakan aspek benda-benda secara kualitatif. Filsafat tidak mau menganggap sepi suatu aspek yang otentik dari pengalaman kemanusiaan dan berusaha untuk merumuskan ukuran dan tujuan-tujuan dengan cara yang sangat sesuai dengan akal.

          Manfaat filsafat yang terpenting adalah kemampuannya untuk memperluas bidang-bidang keinsafan kita, untuk menjadi lebih hidup, lebih bergaya, lebih kritis, dan lebih cerdas. Dalam beberapa lapangan pengetahuan spesialisasi terdapat sekelompok fakta yang jelas dan khusus, mahasiswa diberi problema sehingga mereka dapat memperoleh kemampuan untuk mendapatkan jawaban yang cepat dan mudah. Akan tetapi dalam filsafat terdapat pandangan yang berbeda-beda dan harus dipikirkan, dan ada pula problema-problema yang belum terpecahkan tetapi penting bagi kehidupan kita. Dengan begitu maka rasa keheranan si mahasiswa, rasa ingin tahu dan kesukaannya dalam bidang pemikiran akan tetap hidup.

          Sebagaimana yang dikatakan oleh para filosof zaman purba, filsafat adalah mencari kebijaksanaan. Kita mengerti bahwa seseorang mungkin memiliki pengetahuan yang banyak tetapi tetap dianggap orang bodoh yang berilmu. Dalam zaman kita yang penuh dengan kekalutan dan ketidakpastian, kita memerlukan ilmu pengarahan (sense of direction). Kebijaksanaan akan memberi kita ilmu tersebut, ia adalah soal nilai-nilai. Kebijaksanaan adalah penanganan yang cerdik terhadap urusan-urusan manusia. Kita merasakan tidak enak dari segi pemikiran jika kita dihadapkan pada pandangan dunia yang terpecah-pecah dan terbaur. Tanpa kesatuan pandangan dan response, jiwa kita akan terbagi, filsafat akan sangat berguna bagi kiata karena ia memberikan kita integrasi dalam membantu kita mengetahui arti dari eksistensi manusia.


a.      Manfaat mempelajari filsafat dari sudut pandang secara umum
       Sesuatu di atas awan dan mencari rahasia di bawah bumi, sedangkan lubang di depan rumahnya pun tidak tahu. Kalau begitu, apa ada faidahnya mempelajari filsafat? Sekurang-kurangnya ada empat macam manfaat mempelajari filsafat:
a.  agar terlatik berpikir serius.
b. agar mampu memahami filsafat.
c.  agar mungkin menjadi filosofi, dan
d.   agar menjadi warga Negara yang baik.
                  Disamping itu manfaat/kegunaan belajar filsafat bisa didasarkan pada dua pertimbangan, dari sisi ilmu pengetahuan dan kehidupan sehari-hari. Jan Hendrik Rappar membagi kegunaan filsafat ke dalam dua hal, yakni bagi ilmu pengetahuan dan bagi kehidupan sehari-hari.
a.  Kegunaan Filsafat Bagi Ilmu Pengetahuan Tatkala filsafat lahir dan mulai tumbuh, ilmu pengetahuan masih merupakan bagian yang tak terpisahkan dari filsafat. Pada masa itu, para pemikir yang terkenal sebagai filsuf adalah juga ilmuwan. Para filsuf pada masa itu adalah ahli-ahli matematika, astronomi, ilmu bumi, dan berbagai ilmu pengetahuan lainnya. Bagi mereka, ilmu pengetahuan itu adalah filsafat, dan filsafat adlh ilmu pengetahuan. Dengan demikian jelas terlihat bahw pad mulanya filsafat mencakup keseluruhan ilmu pengetahuan. Berkat ilmu pengetahuanlah manusia dapat meraih kemajuan yang sangat menakjubkan dalam segal bidang kehidupan. Teknologi canggih yang semakin mencengangkan dan fantastis adalah salah satu produk dari ilmu pengetahuan. Bahkan pada abad-abad terakhir ini dalam peradapan dan kebudayaan barat, ilmu pengetahuan telah berperan sedemikian rupa sehingga telah menjadi tumpuan harapan banyak orang.
b.   Kegunaan Filsafat Bagi Kehidupan Sehari-Hari Meskipun filsafat itu abstrak, bukan berarti ia sama sekali tidak bersangkut paut dengan kehidupan sehari-hari yang kongret. Keabstrakan filsafat tidak berarti bahwa filsafat itu tidak memiliki hubungan apa pun dengan kehidupan nyata sehari-hari. Kendati tidak memberi petunjuk praktis tentang bagaimana bangunan yang artistik dan elok, filsafat sanggup membantu manusia dengan memberi pemahaman tentang apa itu artistik dan elok dalam kearsitekturan sehingga nilai keindahan yang diperoleh lewat pemahaman itu akan menjadi patokan utama bagi pelaksanaan pekerjaan pembangunan tersebut.
            Dengan demikian, filsafat menggiring manusia ke pengertian yang terang dan pemahaman yang jelas. Tak hanya itu, ia pun menuntun manusia ke dalam tindakan dan perbuatan yang kongret. Berdasarkan pengertian yang terang dan pemahaman yang jelas.

b.      Manfaat mempelajari filsafat dari sudut pandang Islam   
manfaat mempelajarinya ialah :
1.  Dapat menolong dan meididik, menbangun diri sendiri untuk berfikir lebih mendalam dan menyadari bahwa ia mahluk Tuhan.
2.   Dapat memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan memecahkan persoalan.
            Pengaruh Filsafat Islam terhadap berbagai studi keislaman, khususnya dalam bidang tasawuf, teologi, dan fiqih.
Filsafat Islam dengan Ilmu Tasawuf
            Tasawuf sebagai suatu ilmu yang mempelajari cara dan bagaimana seorang muslim berada dekat, sedekat mungkin dengan Allah. Tasawuf terbagi dua, yaitu Tasawuf Amali dan Tasawuf Falsafi. Dari pengelompokan tersebut tergambar adanya unsur-unsur kefilsafatan dalam ajaran tasawuf, seperti penggunaan logika dalam menjelaskan maqamat (al-fana, al-baqa, ittihad, hulul, wahdat al- wujud).



Filsafat Islam dengan Ilmu Kalam (Teologi)
            Setelah abad ke-6 Hijriah terjadi percampuran anatara filsafat dengan ilmu kalam, sehingga ilmu kalam menelan filsafat secara mentah-mentah dan dituangkan dalam berbagai bukti dengan mana Ilmu Tauhid. Yaitu pembmahasan problema ilmu kalam dengan menekankan penggunanaan semantic (logika) Aristoteles sebagai metode, sama dengan metode yang ditempuh para filosof. Kendatipun Ilmu Kalam tetap menjadikan nash-nash agama sebagai sumber pokok, tetapi dalam kenyataannya penggunaan dalil naqli yang tampak pada perbincangan mutakalimin. Atas dasar itulah sejumlah pakar memasukkan Ilmu Kalam dalam lingkup Filsafat Islam.
Filsafat Islam dengan Ilmu Fiqh
            Dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran yang berkenaan dengan hokum diperlukan ijtihad, yaitu suatu usaha dengan mempergunakan akal dan prinsip kelogisan untuk mengeluarkan ketentuan-ketentuan hukum dari sumbernya. Syaikh Mustafa Abdurrazaq dalam bukunya yang berjudul Tauhid Li Tarikhul Falsafatil Islamiyah (pengantar sejarah Islam) menyatakan, bahwa Ilmu Ushul Fiqh sepenuhnya diciptakan dan diletakkan dasar-dasar oleh Asy-Syafiie, tentu akan melihat dengan jelas adanya berbagai gejala pemikiran filsafat.
C.    TUJUAN MEMPELAJARI FILSAFAT
          Kita hidup dalam suatu periode yang mirip dengan tahap-tahap terakhir dari kebudayaan Greko-Romawi, Renaissanse, Reformasi dan Revolusi industry, dimana terjadi perubahan besar dalam cara manusia berpikir, dalam nilai dan praktek. Terjadi perubahan-perubahan yang mengenai dasar-dasar kehidupan manusia dan masyarakat. Sekarang manusia memiliki kemampuan yang sangat besar untuk menguasai alam dan ruang angkasa. Manusia telah melakukan loncatan-loncatan raksasa dalam bidang sains, teknologi pertanian, kedokteran, ilmu-ilmu social dan pendidikan. Dalam abad ini, khususnya dalam dasa warsa terakhir, kita menyaksikan kemajuan pengetahuan manusia, lelaki dan perempuan hidup lebih panjang, bepergian lebih cepat, memiliki kenikmatan dan alat-alat yang menghemat tenaga serta menghasilkan bahan yang lebih banyak dalam waktu yang lebih singkat. Perkembangan zaman mesin jelas akan menghilangkan kelelahan jasmani, menambah produksi dan mengurangi jam kerja. Kemampuan untuk menguasai sumber-sumber energy dari atom, matahari, ombak laut serta angin akan menjelmakan dalam kehidupan kita perubahan-perubahan yang diluar khayalan kita.

          Akan tetapi disamping kemajuan-kemajuan yang menakjubkan, banyak pemikir yang resah dan gelisah. Mereka memikirkan situasi dimana kekuatan fisik kita, serta pengetahuan ilmiah dan kekayaan kita berada dalam keadaan kontras dengan kegagalan pemerintah dan individualis untuk memecahkan persoalan-persoalan kehidupan dari segi intelektual dan moral. Pengetahuan menjadi terpisah dari nilai, telah tercapai kekuatan yang besar akan tetapi tanpa kebijaksaan.

          Kejadian-kejadian pada beberapa dasa warsa yang akhir ini menunjukkan bahwa ada kesalahan-kesalahan dalam cara mengurus urusan-urusan manusia. Manusia telah memperoleh kekuatan yang besar dalam sains dan teknologi, tetapi sangat sering mempergunakan kekuatan-kekuatan itu untuk maksud-maksud yang destruktif. Manusia telah memperluas jangkauan dan kuantitas pengetahuan tetapi belum dapat mendekati ideal-ideal individualitas dan realisasi diri. Mereka telah menemukan cara-cara untuk memperoleh keamanan dan kenikmatan, pada waktu yang sama mereka merasa tidak aman dan merasa risau oleh karena mereka tidak yakin akan arti kehidupan mereka dan tidak tahu arah mana yang mereka pilih dalam kehidupan itu.

          Abad ke-20 berbeda dengan abad-abad sebelumnya dengan adanya perang ide disamping perang manusia, material, dan kepentingan-kepentingan nasional yang saling bertentangan. Filsafat-filsafat yang tidak dapat dikompromikan berlomba-lomba mencari penganut. Pada permulaan abad ini perbedaan antara kehidupan dalam Negara-negara demokrasi dan Negara fasis tidak merupakan perbedaan dalam teknologi atau sains atau pendidikan umum.Perbedaan itu adalah dalam ide-ide dasar, ideal dan loyalitas. Dengan cara yang mirip, komunisme telah melemparkan tantangan-tantangan terhadap kepercayaan-kepercayaan dan ideal kita serta memperkeras perjuangan bagi pikiran dan hati manusia.

          Tajuk-tajuk rencana, makalah-makalah, buku-buku, film dan komentator televise bersatu dalam mengajak kita untuk meluruskan arah masyarakat kita. Mereka merasa bahwa kita hanyut tanpa kepemimpinan moral dan intelektual. Sudah jelas bahwa zaman kita adalah zaman yang penuh dengan ketidakseimbangan social dan personal. Kita tidak tahu bagaimana cara membentuk masyarakat yang murni yang akan memberi kepuasan dan harapan bagi anggota-anggotanya. Pada waktu yang sama kita menuntut untuk mengurus kepentingan kita sendiri, kemudian kita menyesalkan usaha kita untuk mendapatkan rasa kesepian. Kebudayaan kita telah sering di-diagnosa,mereka yang melakukan diagnosis itu pandai dalam memberitahukan ciri-ciri berbagai penyakit, akan tetapi jarang ada yang mengusukan obatnya. Yang disetujui oleh  kebanyakan ahli kritik bahwa sudah tiba saatnya untuk melakukan perubahan.

          Perubahan dalam adat kebiasaan dan sejarah biasanya dimulai dengan adanya sekelompok orang yang akan menilai sesuatu yang ideal atau yang menarik oleh pandangan cara hidup yang lain. Setelah abad pertengahan banyak orang yang mulai memikirkan cara hidup yang didasarkan atas keyakinan bahwa hidup didunia ini, pada dasarnya perlu dihayati. Dalam arti yang sangat luas, keyakinan semacam itu telah memungkinkan terjadinya Renaissanse, Reformasi dan timbulnya dunia modern dengan pabrik-pabriknya, produksi secara besar-besaran, uang dan bank, transfortasi yang cepat, tenaga atom dan eksplorasi luar angkasa. Dengan semua hal tersebut dimaksudkan untuk menjadikan dunia ini lebih baik dan untuk memberikan kepada manusia kekuasaan yang lebih besar terhadap alam. Akan tetapi jikakita dapat mengetahui watak manusia secara konsisten, watak masyarakat umum dimana manusia hidup, dan beberapa patokan nilai yang didasarkan atas hal-hal yang lebih tinggi daripada keinginan-keinginan manusia, maka cirri-ciri dunia modern tersebut diatas tidak dapat member dasar yang kukuh bagi dunia kita. Filsafat dengan bekerja sama dengan ilmu-ilmu lainnya, dapat memainkan peran yang sentral dalam memimpin kita kearah keinginan-keinginan dan aspirasi-aspirasi baru.

          William Barret dalam bukunya yang berjudul the illusion of technique, mengatakan bahwa pada waktu sekarang lebih daripada waktu yang lain dalam sejarah, kita harus menempatkan teknik ilmiah dalam hubungan baru dengan kehidupan. Sebagai telah kita katakan masyarakat kita semakin dipengaruhi oleh ahli-ahli sains dan pengetahuan lain yang mengikuti aliran behaviorism (tidak membicarakan nilai). Baret yakin bahwa filsafat modern harus menjawab tantangan teknik dan teknologi, kalau tidak, kemanusiaan akan kehilangan tujuan, arah dan kemerdekaan.

          Sekarang, tiap orang akan mengutamakan “kemerdekaaan” harus melibatkan dirinya dengan wataknya teknik, bidangnya dan batasan-batasannya. Persoalan teknik itu sendiri merupakan persoalan penting bagi filsafat, apalagi filsafat modern yang sering terpengaruh oleh pandangan teknik dalam menentukan sikapnya. Dan lebih penting daripada itu semua, persoalan ini ada hubungannya dengan ketidakpastian seluruh peradaban yang berdasarkan teknologi, karena peradaban yang berdasarkan teknologi tersebut tidak mengetahui dengan pasti batasan-batasannya dan akibat-akibatnya, walaupun telah memiliki kekuatan teknologi yang besar.










BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
1.      Dari pembahasan diatas, dapat ditarik beberapa kesimpulan diantaranya : Secara etimologis, filsafat diambil dari bahasa Arab, falsafah-berasal dari bahasa Yunani, Philosophia, kata majemuk yang berasal dari kata Philos yang artinya cinta atau suka, dan kata Sophia yang artinya bijaksana. Dengan demikian secara etimologis, filsafat memberikanpengertian cinta kebijaksanaan.
2.      Secara terminologis, filsafat adalah ilmu yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu; metafisika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.
3.      Pengertian Filsafat Islam. Filsafat Islam adalah hasil pemikiran filsuf tentang ajaran ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam yang disinari ajaran Islam dalam suatu aturan pemikiran yang logis dan sistematis.
4.      Manfaat mempelajar filsafat diantaranya adalah manfaat dari sisi pengetahuan dan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Dari sisi pengetahuan filsafat disebuat sebagai induk dari setiap disiplian ilmu pengetahuan, maka untuk memahami ilmu pengetahuan dan mampu me-interdisipliner-kan kita butuh filsafat. Filsafat dalam kehidupan sehari-hari bisa dijadikan patokan utama dalam mengembangan kebutuhan-kebutuhan manusia serta piranti dalam memahami proses keseharian secara mendalam dan jelas.
5.      Tujuan mempelajari filsafat Islam ialah mencintai kebenaran dan kebijaksanaan. Sedangkan manfaat mempelajarinya ialah :
v  Dapat menolong dan meididik, menbangun diri sendiri untuk berfikir lebih mendalam dan menyadari bahwa ia mahluk Tuhan.
v  Dapat memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan memecahkan persoalan.

6.      kemajuan pengetahuan manusia, lelaki dan perempuan hidup lebih panjang, bepergian lebih cepat, memiliki kenikmatan dan alat-alat yang menghemat tenaga serta menghasilkan bahan yang lebih banyak dalam waktu yang lebih singkat. Perkembangan zaman mesin jelas akan menghilangkan kelelahan jasmani, menambah produksi dan mengurangi jam kerja. Kemampuan untuk menguasai sumber-sumber energy dari atom, matahari, ombak laut serta angin akan menjelmakan dalam kehidupan kita perubahan-perubahan yang diluar khayalan kita. Itu merupakan perkembangan filsafat melalui akal baik disadari maupun tidak


B.        Saran
Kami menyadari  bahwa dalam penyusunan makalah kami ini masih ada kekurangan dan kelemahan, sebagaimana pepatah mengatakan tidak ada manusia yang luput dari kesalahan dan kekhilafan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca.






DAFTAR PUSTAKA

Kebung, K. (2008). Filsafat dan Perwujudan Diri; Belajar Filsafat dan Berfilsafat. [Online]. Tersedia: http://eputobi.net/eputobi/konrad/temp/ filsafatdanberfilsafat.htm [4 September 2008]
Liang Gee, T. (1996). Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty.
M. Syarif, M. (1996). Para Filosof Muslim. Bandung: Mizan.
R. Semiawan, C. Dkk. (1991). Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.


No comments:

Post a Comment

makalah-makalah dan tugas power point (ppt): Metode Kajian Hadis

makalah-makalah dan tugas power point (ppt): Metode Kajian Hadis : BAB I PENDAHULUAN A.   Latar Belakang Petunjuk-petunjuk agama men...