BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Manusia adalah mahluk istimewa yang
diciptakan Allah SWT. Keistimewaan manusia terletak pada potensi-potensi yang
Allah berikan kepadanya. Baik itu potensi yang berupa fisik ataupun non-fisik.
Semua potensi fisik manusia memiliki fungsi yang sangat luar biasa kegunaannya
bagi keberlangsungan hidup manusia itu sendiri, begitupun dengan potensi
non-fisik yang terdiri atas: jiwa (psyche), akal (ratio) dan rasa (sense).
Dengan potensi akalnya, manusia mampu menjadi mahluk yang lebih mulia kedudukannya dari pada mahluk lain. Allah telah mengarunia manusia sebuah anugerah yang mampu menjadikan manusia mahluk yang berbudaya.
Dengan potensi akalnya, manusia mampu menjadi mahluk yang lebih mulia kedudukannya dari pada mahluk lain. Allah telah mengarunia manusia sebuah anugerah yang mampu menjadikan manusia mahluk yang berbudaya.
Berbeda dengan hewan yang tidak
mampu berbudaya dikarenakan hewan tidak memiliki akal. Dengan akalnya ini pula
manusia mampu berfikir, bernalar dan memahami diri serta lingkungannya,
berefleksi tentang bagaimana ia sebagai seorang manusia memandang dunianya dan
bagaimana ia menata kehidupannya.
Karena kemampuan dalam menggunakan
nalarnya, manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang merupakan
rahasia-rahasia kekuasaan-Nya. Contohnya para ilmuwan muslim seperti
Al-khawarizmi (825M) yang mampu menyusun buku matematika aljabar dan arimetika
yang kemudian di Eropa menjadi jalan pembuka untuk menggunakan angka desimal
yang menggantikan cara penulisan dengan angka romawi. Ibnu Sina (980-1037)
adalah bapak kedokteran modern, ia menulis buku Al-Qonuun fi Ath-Thib (The
Canon of Medicine) dan Kitab Asy-Syifa’ (The Book of Healing) yang telah
dijadikan bahan rujukan ahli-ahli kedokteran modern. Ibnu al-Haitam (965-1040)
seorang cendikiawan multidisiplin ilmu yang menghasilkan karya besar
Al-Manadhir (The Optic). Ibnu Ismail Al-Jaziri (1136-1206), tokoh besar bidang
mekanik dan industri ini berhasil mengembangkan prinsip hidrolik untuk
menggerakkan mesin yang dikenal sebagai mesin robot.
Di dunia baratpun dikenal
tokoh-tokoh ilmuwan yang telah menorehkan sejarah emasnya bagi generasi penerus
mereka. Sebut saja Newton (1643-1727) yang berhasil menciptakan teori gravitasi,
teorinya memberikan penjelasan yang luas sekali tentang peristiwa-peristiwa
fisika mulai dari ukuran molekuler sampai ukuran astronomis. Selain itu, Newton
juga berhasil menyusun perhitungan kalkulus yang disebut diferensial integral.
Lantas, bagaimana mereka mampu
melakukan hal besar itu semua? Itu semua tentunya mampu mereka capai karena
mereka dapat mengoptimalkan potensi akal yang Allah SWT berikan kepada mereka
dan tentunya kepada kita juga. Dan salah satu bidang keilmuan yang
membelajarkan manusia untuk dapat mengoptimalkan akalnya adalah Ilmu Filsafat.
Filsafat adalah sebuah disiplin ilmu yang membutuhkan refleksi dan pemikiran
sistematis-metodis dengan secara aktif menggunakan intelek dan rasio kita.
B. Rumusan
Masalah
Sebagai sebuah pengantar filsafat,
dalam makalah ini akan dibahas beberapa
permasalahan sebagai berikut:
a. Bagaimana definisi pengertian
filsafat?
b. Apamempelajari filsafat?
c. Apa tujuan mempelajari filsafat
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN FILSAFAT
a. Pengertian filsafat secara umum
Secara etimologis, filsafat diambil dari
bahasa Arab, falsafah-berasal dari bahasa Yunani, Philosophia, kata majemuk
yang berasal dari kata Philos yang artinya cinta atau suka, dan kata Sophia
yang artinya bijaksana. Dengan demikian secara etimologis, filsafat memberikan
pengertian cinta kebijaksanaan.
Di
dalam Encyclopedia of philosophy (1967:216) ada penjelasan sebagai berikut:
“The creek word Sophia is ordinary translated as ‘wisdom’, and the compound
philosophia, from wich philosophy derives, is translated as the ‘love of
wisdom’.” Abu Bakar Atjeh (1970:6) juga mengutip seperti itu. Berdasarkan
kutipan tersebut dapat di ketahui bahwa filsafat ialah keinginan yang mendalam
untuk mendapatkan kebijakan atau untuk menjadi bijak.
Secara
terminologis, filsafat mempunyai arti yang bermacam-macam, sebanyak orang yang
memberikan pengertian. Berikut ini dikemukakan beberapa definisi retsebut : ·
Plato (477 SM-347 SM). Ia seorang filsuf Yunani terkenal, gurunya Aristoteles,
ia sendiri berguru kepada Socrates. Ia mengatakan bahwa filsafat adalah
pengetahuan tentang segala yang ada, ilmu yang berminat untuk mencapai
kebenaran yang asli.
Aristoteles
(381SM-322SM), mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu yang meliputi kebenaran
yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu; metafisika, logika, etika, ekonomi,
politik, dan estetika. · Marcus Tulius Cicero (106SM-43SM), seorang politikus
dan ahli pidato Romawi merumuskan filsafat sebagai pengetahuan tentang sesuatu
yang maha agung dan usaha-usaha untuk mencapainya. · Al-Farabi (wafat 950M),
seorang filsuf muslim mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang
alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.
b. Pengertian filsafat menurut sudut pandang Islam
Pengertian Filsafat Islam adalah
hasil pemikiran filsuf tentang ajaran ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam
yang disinari ajaran Islam dalam suatu aturan pemikiran yang logis dan
sistematis. Sedangkan menurut Ahmad Fuad al-Ahwani filsafat Islam ialah
pembahasan tentang alam dan manusia yang disanari ajaran Islam.
Sejarah
singkat timbulnya Filsafat Islam. Cara pemikiran Filsafat secara teknis muncul
pada masa permulaan jayanya Dinasti Abbasiyah. Di bawah pemerintahan Harun al
Vrasyid, dimulailah penterjemahan buku-buku bahasa Yunani kedalam bahasa Arab.
Orang-orang banyak dikirim ke kerajaan Romawi di Eropa untuk membeli manuskrip.
Awalnya yang dipentingkan adalah pengetahuan tentang kedokteran, tetapi
kemudian juga pengetahuan-pengatahuan lain termasuk filsafat.
Penterjemahan
ini sebagian besar dari karangan Aristoteles, Plato, serta karangan mengenai
Neoplatonisme, karangan Galen, serta karangan mengenai ilmu kedokteran lainya,
yang juga mengenai ilmu pengetahuan Yunani lainnya yang dapat dibaca alim ulama
Islam. Tak lama kemudian timbulah para filosof-filofof dan ahli ilmu
pengetahuan terutama kedokteran di kalam umat Islam.
B. MANFAAT MEMPELAJARI FILSAFAT
Dalam pelajaran-pelajaran permulaan,sering mahasiswa
bertanya : “Untuk apa kita belajar filsafat?”, “Apa manfaat filsafat?”, dan
“Apa filsafat berguna bagi saya dalam hidup saya?”. Banyak filosof yang
memikirkan soal-soal ini. Sidney Hook, dalam suatu makalah tentang filsafat
mengatakan bahwa kita akan dapat mengetahui filsafat itu dengan menyelidiki
manfaatnya. Ia menunjukkan bahwa filsafat bukannya aktivitas yang member
jawaban-jawaban pasti terhadap pertanyaan, akan tetapi sebagai aktivitas yang
mempersoalkan jawaban-jawaban.
Kegagalan untuk memperoleh suatu jawaban yang pasti kadang-kadang menyebabkan
rasa frustasi. Walaupun begitu, kita tetap berpendirin bahwa manfaat yang besar
dari filsafat adalah untuk menjajagi bidang pemecahan yang mungkin terhadap
problema filsafat. Sekalipun pemecahan tersebut sudah diidentifikasi dan
diperiksa, akan lebih mudah untuk menghadapi problema dan akhirnya untuk kita
mengadakan pemecahan sendiri. Agar dapat menjadi efektif dalam tugasnya,
seorang filosof harus dapat melampaui cara berpikir yang biasa agar dapat
menghadapi munculnya problem baru yang tidak dapat diharapkan sebelumnya.
Dengan begitu, pertama, kita dapat menjawab untuk sementara akan pertanyaan:
“Mengapa kita mempelajari filsafat?”, dengan menunjukkan perlunya mempersoalkan
hal yang tradisional, konvensional dan yang sudah melembaga.
Kedua adalah untuk menunjukkan bahwa ide itu merupakan
satu dari hal-hal yang praktis didunia. Ide-ide falsafi mempunyai relevansi
yang langsung dengan kejadian-kejadian hari ini. Umpamanya, konsepsi filsafat
tentang watak manusia, tentang jiwa manusia atau personality, tentang
kemerdekaan kemauan, semua itu membentuk pengalaman kita sekarang. Kita pernah
mendengarkan kata-kata : “Apa yang menjadi kepercayaan seseorang itu tidak
penting selama ia melakukan hal-hal yang benar”. Hal ini berarti bahwa sebagian
orang mempunyai kecenderungan untuk menilai tindakan-tindakan diatas keyakinan
dan kepercayaan. Akan tetapi ide adalah dasar dari tindakan dengan pasti,
kecuali jika ia percaya suatu prinsip. Sebagai yang kita ketahui, bahwa
komunisme mungkin tidak akan lahir seandainya Karl Marx tidak meletakkan dasar-dasarnya
dalam filsafatnya, sekali orang menerima ide-idennya, sudah dapat ditentukan
bahwa ide-ide tersebut harus diekspresikan dengan tindakan.
Dengan sadar atau tidak, kita harus mengakui bahwa filsafat
itu adalah suatu bagian dari keyakinan kita dan tindakan kita berdasarkan atas
keyakinan tersebut. JIka kita ingin mengambil suatu keputusan secara
bijaksana dan suatu tindakan secara konsisten, maka kita perlu menemukan
nilai-nilai dan arti benda-benda, kita perlu memecahkan persoalan kebenaran
atau kebohongan, keindahan atau keburukan, kebenaran atau kesalahan. Pencarian
ukuran dan tujuan adalah suatu bagian yang penting dari tugas filsafat.
Filsafat mementingakan aspek benda-benda secara kualitatif. Filsafat tidak mau
menganggap sepi suatu aspek yang otentik dari pengalaman kemanusiaan dan
berusaha untuk merumuskan ukuran dan tujuan-tujuan dengan cara yang sangat
sesuai dengan akal.
Manfaat filsafat yang terpenting adalah kemampuannya untuk memperluas
bidang-bidang keinsafan kita, untuk menjadi lebih hidup, lebih bergaya, lebih
kritis, dan lebih cerdas. Dalam beberapa lapangan pengetahuan spesialisasi
terdapat sekelompok fakta yang jelas dan khusus, mahasiswa diberi problema
sehingga mereka dapat memperoleh kemampuan untuk mendapatkan jawaban yang cepat
dan mudah. Akan tetapi dalam filsafat terdapat pandangan yang berbeda-beda dan
harus dipikirkan, dan ada pula problema-problema yang belum terpecahkan tetapi
penting bagi kehidupan kita. Dengan begitu maka rasa keheranan si mahasiswa,
rasa ingin tahu dan kesukaannya dalam bidang pemikiran akan tetap hidup.
Sebagaimana yang dikatakan oleh para filosof zaman purba, filsafat adalah
mencari kebijaksanaan. Kita mengerti bahwa seseorang mungkin memiliki
pengetahuan yang banyak tetapi tetap dianggap orang bodoh yang berilmu. Dalam
zaman kita yang penuh dengan kekalutan dan ketidakpastian, kita memerlukan ilmu
pengarahan (sense of direction). Kebijaksanaan akan memberi kita ilmu
tersebut, ia adalah soal nilai-nilai. Kebijaksanaan adalah penanganan yang
cerdik terhadap urusan-urusan manusia. Kita merasakan tidak enak dari segi
pemikiran jika kita dihadapkan pada pandangan dunia yang terpecah-pecah dan
terbaur. Tanpa kesatuan pandangan dan response, jiwa kita akan terbagi,
filsafat akan sangat berguna bagi kiata karena ia memberikan kita integrasi
dalam membantu kita mengetahui arti dari eksistensi manusia.
a. Manfaat mempelajari filsafat dari sudut pandang secara umum
Sesuatu di atas awan dan mencari rahasia di
bawah bumi, sedangkan lubang di depan rumahnya pun tidak tahu. Kalau begitu,
apa ada faidahnya mempelajari filsafat? Sekurang-kurangnya ada empat macam
manfaat mempelajari filsafat:
a. agar terlatik berpikir serius.
b. agar mampu memahami filsafat.
c. agar mungkin menjadi filosofi, dan
d. agar menjadi warga Negara yang baik.
Disamping
itu manfaat/kegunaan belajar filsafat bisa didasarkan pada dua pertimbangan,
dari sisi ilmu pengetahuan dan kehidupan sehari-hari. Jan Hendrik Rappar
membagi kegunaan filsafat ke dalam dua hal, yakni bagi ilmu pengetahuan dan
bagi kehidupan sehari-hari.
a. Kegunaan Filsafat Bagi Ilmu
Pengetahuan Tatkala filsafat lahir dan mulai tumbuh, ilmu pengetahuan masih
merupakan bagian yang tak terpisahkan dari filsafat. Pada masa itu, para
pemikir yang terkenal sebagai filsuf adalah juga ilmuwan. Para filsuf pada masa
itu adalah ahli-ahli matematika, astronomi, ilmu bumi, dan berbagai ilmu
pengetahuan lainnya. Bagi mereka, ilmu pengetahuan itu adalah filsafat, dan
filsafat adlh ilmu pengetahuan. Dengan demikian jelas terlihat bahw pad mulanya
filsafat mencakup keseluruhan ilmu pengetahuan. Berkat ilmu pengetahuanlah
manusia dapat meraih kemajuan yang sangat menakjubkan dalam segal bidang
kehidupan. Teknologi canggih yang semakin mencengangkan dan fantastis adalah
salah satu produk dari ilmu pengetahuan. Bahkan pada abad-abad terakhir ini
dalam peradapan dan kebudayaan barat, ilmu pengetahuan telah berperan
sedemikian rupa sehingga telah menjadi tumpuan harapan banyak orang.
b. Kegunaan Filsafat Bagi Kehidupan
Sehari-Hari Meskipun filsafat itu abstrak, bukan berarti ia sama sekali tidak
bersangkut paut dengan kehidupan sehari-hari yang kongret. Keabstrakan filsafat
tidak berarti bahwa filsafat itu tidak memiliki hubungan apa pun dengan
kehidupan nyata sehari-hari. Kendati tidak memberi petunjuk praktis tentang
bagaimana bangunan yang artistik dan elok, filsafat sanggup membantu manusia
dengan memberi pemahaman tentang apa itu artistik dan elok dalam kearsitekturan
sehingga nilai keindahan yang diperoleh lewat pemahaman itu akan menjadi
patokan utama bagi pelaksanaan pekerjaan pembangunan tersebut.
Dengan
demikian, filsafat menggiring manusia ke pengertian yang terang dan pemahaman
yang jelas. Tak hanya itu, ia pun menuntun manusia ke dalam tindakan dan
perbuatan yang kongret. Berdasarkan pengertian yang terang dan pemahaman yang
jelas.
b. Manfaat mempelajari filsafat dari sudut pandang Islam
manfaat mempelajarinya ialah :
1. Dapat menolong dan meididik,
menbangun diri sendiri untuk berfikir lebih mendalam dan menyadari bahwa ia
mahluk Tuhan.
2. Dapat memberikan kebiasaan dan
kepandaian untuk melihat dan memecahkan persoalan.
Pengaruh
Filsafat Islam terhadap berbagai studi keislaman, khususnya dalam bidang
tasawuf, teologi, dan fiqih.
Filsafat Islam dengan Ilmu Tasawuf
Tasawuf
sebagai suatu ilmu yang mempelajari cara dan bagaimana seorang muslim berada
dekat, sedekat mungkin dengan Allah. Tasawuf terbagi dua, yaitu Tasawuf Amali
dan Tasawuf Falsafi. Dari pengelompokan tersebut tergambar adanya unsur-unsur
kefilsafatan dalam ajaran tasawuf, seperti penggunaan logika dalam menjelaskan
maqamat (al-fana, al-baqa, ittihad, hulul, wahdat al- wujud).
Filsafat Islam dengan Ilmu Kalam
(Teologi)
Setelah
abad ke-6 Hijriah terjadi percampuran anatara filsafat dengan ilmu kalam,
sehingga ilmu kalam menelan filsafat secara mentah-mentah dan dituangkan dalam
berbagai bukti dengan mana Ilmu Tauhid. Yaitu pembmahasan problema ilmu kalam
dengan menekankan penggunanaan semantic (logika) Aristoteles sebagai metode,
sama dengan metode yang ditempuh para filosof. Kendatipun Ilmu Kalam tetap
menjadikan nash-nash agama sebagai sumber pokok, tetapi dalam kenyataannya
penggunaan dalil naqli yang tampak pada perbincangan mutakalimin. Atas dasar
itulah sejumlah pakar memasukkan Ilmu Kalam dalam lingkup Filsafat Islam.
Filsafat Islam dengan Ilmu Fiqh
Dalam
menafsirkan ayat-ayat al-Quran yang berkenaan dengan hokum diperlukan ijtihad,
yaitu suatu usaha dengan mempergunakan akal dan prinsip kelogisan untuk
mengeluarkan ketentuan-ketentuan hukum dari sumbernya. Syaikh Mustafa
Abdurrazaq dalam bukunya yang berjudul Tauhid Li Tarikhul Falsafatil Islamiyah
(pengantar sejarah Islam) menyatakan, bahwa Ilmu Ushul Fiqh sepenuhnya
diciptakan dan diletakkan dasar-dasar oleh Asy-Syafiie, tentu akan melihat
dengan jelas adanya berbagai gejala pemikiran filsafat.
C. TUJUAN MEMPELAJARI FILSAFAT
Kita hidup dalam suatu periode yang mirip dengan tahap-tahap terakhir dari
kebudayaan Greko-Romawi, Renaissanse, Reformasi dan Revolusi industry, dimana
terjadi perubahan besar dalam cara manusia berpikir, dalam nilai dan praktek.
Terjadi perubahan-perubahan yang mengenai dasar-dasar kehidupan manusia dan
masyarakat. Sekarang manusia memiliki kemampuan yang sangat besar untuk
menguasai alam dan ruang angkasa. Manusia telah melakukan loncatan-loncatan
raksasa dalam bidang sains, teknologi pertanian, kedokteran, ilmu-ilmu social
dan pendidikan. Dalam abad ini, khususnya dalam dasa warsa terakhir, kita
menyaksikan kemajuan pengetahuan manusia, lelaki dan perempuan hidup lebih
panjang, bepergian lebih cepat, memiliki kenikmatan dan alat-alat yang menghemat
tenaga serta menghasilkan bahan yang lebih banyak dalam waktu yang lebih
singkat. Perkembangan zaman mesin jelas akan menghilangkan kelelahan jasmani,
menambah produksi dan mengurangi jam kerja. Kemampuan untuk menguasai
sumber-sumber energy dari atom, matahari, ombak laut serta angin akan
menjelmakan dalam kehidupan kita perubahan-perubahan yang diluar khayalan kita.
Akan tetapi disamping kemajuan-kemajuan yang menakjubkan, banyak pemikir yang
resah dan gelisah. Mereka memikirkan situasi dimana kekuatan fisik kita, serta
pengetahuan ilmiah dan kekayaan kita berada dalam keadaan kontras dengan
kegagalan pemerintah dan individualis untuk memecahkan persoalan-persoalan
kehidupan dari segi intelektual dan moral. Pengetahuan menjadi terpisah dari
nilai, telah tercapai kekuatan yang besar akan tetapi tanpa kebijaksaan.
Kejadian-kejadian pada beberapa dasa warsa yang akhir ini menunjukkan bahwa ada
kesalahan-kesalahan dalam cara mengurus urusan-urusan manusia. Manusia telah
memperoleh kekuatan yang besar dalam sains dan teknologi, tetapi sangat sering
mempergunakan kekuatan-kekuatan itu untuk maksud-maksud yang destruktif.
Manusia telah memperluas jangkauan dan kuantitas pengetahuan tetapi belum dapat
mendekati ideal-ideal individualitas dan realisasi diri. Mereka telah menemukan
cara-cara untuk memperoleh keamanan dan kenikmatan, pada waktu yang sama mereka
merasa tidak aman dan merasa risau oleh karena mereka tidak yakin akan arti
kehidupan mereka dan tidak tahu arah mana yang mereka pilih dalam kehidupan
itu.
Abad ke-20 berbeda dengan abad-abad sebelumnya dengan adanya perang ide
disamping perang manusia, material, dan kepentingan-kepentingan nasional yang
saling bertentangan. Filsafat-filsafat yang tidak dapat dikompromikan berlomba-lomba
mencari penganut. Pada permulaan abad ini perbedaan antara kehidupan dalam
Negara-negara demokrasi dan Negara fasis tidak merupakan perbedaan dalam
teknologi atau sains atau pendidikan umum.Perbedaan itu adalah dalam ide-ide
dasar, ideal dan loyalitas. Dengan cara yang mirip, komunisme telah melemparkan
tantangan-tantangan terhadap kepercayaan-kepercayaan dan ideal kita serta
memperkeras perjuangan bagi pikiran dan hati manusia.
Tajuk-tajuk rencana, makalah-makalah, buku-buku, film dan komentator televise
bersatu dalam mengajak kita untuk meluruskan arah masyarakat kita. Mereka
merasa bahwa kita hanyut tanpa kepemimpinan moral dan intelektual. Sudah jelas
bahwa zaman kita adalah zaman yang penuh dengan ketidakseimbangan social dan personal.
Kita tidak tahu bagaimana cara membentuk masyarakat yang murni yang akan
memberi kepuasan dan harapan bagi anggota-anggotanya. Pada waktu yang sama kita
menuntut untuk mengurus kepentingan kita sendiri, kemudian kita menyesalkan
usaha kita untuk mendapatkan rasa kesepian. Kebudayaan kita telah sering
di-diagnosa,mereka yang melakukan diagnosis itu pandai dalam memberitahukan
ciri-ciri berbagai penyakit, akan tetapi jarang ada yang mengusukan obatnya.
Yang disetujui oleh kebanyakan ahli kritik bahwa sudah tiba saatnya untuk
melakukan perubahan.
Perubahan dalam adat kebiasaan dan sejarah biasanya dimulai dengan adanya
sekelompok orang yang akan menilai sesuatu yang ideal atau yang menarik oleh
pandangan cara hidup yang lain. Setelah abad pertengahan banyak orang yang
mulai memikirkan cara hidup yang didasarkan atas keyakinan bahwa hidup didunia
ini, pada dasarnya perlu dihayati. Dalam arti yang sangat luas, keyakinan
semacam itu telah memungkinkan terjadinya Renaissanse, Reformasi dan timbulnya
dunia modern dengan pabrik-pabriknya, produksi secara besar-besaran, uang dan
bank, transfortasi yang cepat, tenaga atom dan eksplorasi luar angkasa. Dengan
semua hal tersebut dimaksudkan untuk menjadikan dunia ini lebih baik dan untuk
memberikan kepada manusia kekuasaan yang lebih besar terhadap alam. Akan tetapi
jikakita dapat mengetahui watak manusia secara konsisten, watak masyarakat umum
dimana manusia hidup, dan beberapa patokan nilai yang didasarkan atas hal-hal
yang lebih tinggi daripada keinginan-keinginan manusia, maka cirri-ciri dunia
modern tersebut diatas tidak dapat member dasar yang kukuh bagi dunia kita.
Filsafat dengan bekerja sama dengan ilmu-ilmu lainnya, dapat memainkan peran
yang sentral dalam memimpin kita kearah keinginan-keinginan dan
aspirasi-aspirasi baru.
William Barret dalam bukunya yang berjudul the illusion of technique,
mengatakan bahwa pada waktu sekarang lebih daripada waktu yang lain dalam
sejarah, kita harus menempatkan teknik ilmiah dalam hubungan baru dengan kehidupan.
Sebagai telah kita katakan masyarakat kita semakin dipengaruhi oleh ahli-ahli
sains dan pengetahuan lain yang mengikuti aliran behaviorism (tidak
membicarakan nilai). Baret yakin bahwa filsafat modern harus menjawab tantangan
teknik dan teknologi, kalau tidak, kemanusiaan akan kehilangan tujuan, arah dan
kemerdekaan.
Sekarang, tiap orang akan mengutamakan “kemerdekaaan” harus melibatkan dirinya
dengan wataknya teknik, bidangnya dan batasan-batasannya. Persoalan teknik itu
sendiri merupakan persoalan penting bagi filsafat, apalagi filsafat modern yang
sering terpengaruh oleh pandangan teknik dalam menentukan sikapnya. Dan lebih
penting daripada itu semua, persoalan ini ada hubungannya dengan ketidakpastian
seluruh peradaban yang berdasarkan teknologi, karena peradaban yang berdasarkan
teknologi tersebut tidak mengetahui dengan pasti batasan-batasannya dan
akibat-akibatnya, walaupun telah memiliki kekuatan teknologi yang besar.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1.
Dari pembahasan diatas, dapat ditarik beberapa kesimpulan
diantaranya : Secara etimologis, filsafat diambil dari bahasa Arab,
falsafah-berasal dari bahasa Yunani, Philosophia, kata majemuk yang berasal
dari kata Philos yang artinya cinta atau suka, dan kata Sophia yang artinya bijaksana.
Dengan demikian secara etimologis, filsafat memberikanpengertian cinta
kebijaksanaan.
2.
Secara terminologis, filsafat adalah ilmu yang meliputi
kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu; metafisika, logika, etika, ekonomi,
politik, dan estetika.
3.
Pengertian Filsafat Islam. Filsafat Islam adalah hasil
pemikiran filsuf tentang ajaran ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam yang
disinari ajaran Islam dalam suatu aturan pemikiran yang logis dan sistematis.
4.
Manfaat mempelajar filsafat diantaranya adalah manfaat dari
sisi pengetahuan dan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Dari sisi pengetahuan
filsafat disebuat sebagai induk dari setiap disiplian ilmu pengetahuan, maka
untuk memahami ilmu pengetahuan dan mampu me-interdisipliner-kan kita butuh
filsafat. Filsafat dalam kehidupan sehari-hari bisa dijadikan patokan utama
dalam mengembangan kebutuhan-kebutuhan manusia serta piranti dalam memahami
proses keseharian secara mendalam dan jelas.
5.
Tujuan mempelajari filsafat Islam ialah mencintai kebenaran
dan kebijaksanaan. Sedangkan manfaat mempelajarinya ialah :
v Dapat menolong dan meididik,
menbangun diri sendiri untuk berfikir lebih mendalam dan menyadari bahwa ia
mahluk Tuhan.
v Dapat memberikan kebiasaan dan
kepandaian untuk melihat dan memecahkan persoalan.
6. kemajuan pengetahuan manusia, lelaki
dan perempuan hidup lebih panjang, bepergian lebih cepat, memiliki kenikmatan
dan alat-alat yang menghemat tenaga serta menghasilkan bahan yang lebih banyak
dalam waktu yang lebih singkat. Perkembangan zaman mesin jelas akan
menghilangkan kelelahan jasmani, menambah produksi dan mengurangi jam kerja.
Kemampuan untuk menguasai sumber-sumber energy dari atom, matahari, ombak laut
serta angin akan menjelmakan dalam kehidupan kita perubahan-perubahan yang
diluar khayalan kita. Itu merupakan perkembangan filsafat melalui akal baik
disadari maupun tidak
B.
Saran
Kami
menyadari bahwa dalam penyusunan makalah
kami ini masih ada kekurangan dan kelemahan, sebagaimana pepatah mengatakan
tidak ada manusia yang luput dari kesalahan dan kekhilafan. Oleh karena itu,
kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Kebung, K. (2008). Filsafat dan Perwujudan Diri; Belajar Filsafat dan Berfilsafat. [Online]. Tersedia: http://eputobi.net/eputobi/konrad/temp/ filsafatdanberfilsafat.htm [4 September 2008]
Liang Gee, T. (1996). Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty.
M. Syarif, M. (1996). Para Filosof Muslim. Bandung: Mizan.
R. Semiawan, C. Dkk. (1991). Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
No comments:
Post a Comment