METODOLOGI PENDIDIKAN ISLAM
I. Pengantar Islamic Studies
1.
Batasan
kajian Islam (Islamic Studies)
Pengertian
studi Islam, yaitu kajian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Islam dan
merupakan usaha sadar dan sistematis untuk mengetahui dan memahami serta
membahas secara mendalam tentang seluk
beluk atau hal-hal yang berhubungan dalam Islam, baik berhubungan dengan
ajaran, sejarah maupun praktik-praktik pelaksanaanya secara nyata dalam
kehidupan sehari-hari, sepanjang sejarahnya.
2.
Sejarah
tradisi kajian Islam
Tradisi
kajian keislaman ala Barat berakar dari sejarah yang sangat panjang, paling
tidak sejauh hubungan Kristen dengan Islam yang dimulai dari kalangan Gereja.
3.
Ruang
lingkup studi Islam
Ø Sebagai doktrin dari Tuhan yang sebenarnya bagi pemeluknya sudah
final dalam arti absolute, dan diterima apa adanya.
Ø Sebagai gejala budaya, yang berarti seluruh yang menjadi kreasi
manusia dalam kaitannya dengan agama, termasuk pemahaman orang terhadap doktrin
agamanya.
Ø Sebagai interaksi sosial, yaitu realitas umat islam.
II. Tiga Tahap Kajian Keislaman
1. Tahap teologis
Secara
teori, pendekatan teologis dalam studi agama akan mengkaji:
Ø Teologi agama-agama (theologies of religions), yaitu teologi
tertentu yang muncul dalam tradisi keagamaan partikular yang diadopsi dari luar
agama.
Ø Teologi agama (theology of religion), yaitu upaya membangun suatu
teologi agama yang lebih universal yang dalam hal ini mengonsentrasikan pada
kategori-kategori transenden.
Ø Teologi agama-agama global (a global theology of religion), yang
dimulai dengan situasi global dalam seluruh kompleksitas moral, manusia dan
natural, dan dari sana segera muncul upaya mengoseptualisasikan kembali
kategori-kategori teologis yang muncul dari tradisi keagamaan tertentu yang
dapat mengarahkan perkembangan kondisi dan situasi global, yang memengaruhi
setiap orang.
Tokoh-tokoh yang menggunakan pendekatan
teologis, antara lain:
v St. Jhon
v Peter the Venerable
v Robert of Ketton
v St. Thomas Aquinas
2. Tahap politis
Perkembangan
sosial, politik, ekonomi, dan budaya adalah merupakan ciri kuat dai kajian
keislaman pada masa-masa awal priode modern. Mulai fase ini, kekuasaan islam
mengalami penurunan yang sangat drastis, menyusul kejatuhan khalifah Bani
Usmaniyah, sehingga hampir seluruh kekuasaan Islam berada dalam kontrol
pemerintahan bangsa-bangsa Barat. Wujud arogansi mereka dalam dua kekuatannya
yaitu Industrialisasi dan Imperialisme.
3. Tahap saintifik
Memasuki
abad ke-19, sikap kalangan Kristen terhadap Islam mulai dihubungkan dengan
kesesuaian agama itu untuk menjawab kecenderungan rasional yang berkat
reformasi telah menandai masyarakat Barat modern. Kajian-kajian tentang Islam
mulai menggunakan paradigme rasional, sebagaimana dilakukan Ernest Renan pada
tahun 1883 melalui penerbitan karyanya
tentang Islam dan Ilmu pengetahuan.
III. Batasan Istilah
1.
Pendekatan
Pendektan
dalam studi Islam berarti serangkaian pendapat atau asumsi tentang hakikat
studi Islam dan pengajar agama Islam. Pendekatan yang sering digunakan dalam studi
Islam yaitu sebagai berikut:
2.
Disiplin
ilmu
Disiplin
ilmu adalah sebuah spesialisasi dalam keilmuan yang terkait dengan filsafat
ilmu dan metodologi yang berlaku dalam spesialisasi itu. Disiplin ilmu
merupakan salah satu pokok bahasan dalam studi Islam di mana studi Islam adalah
pengetahuan yang dirumuskan dari ajaran Islam, yang dipraktekkan dalam sejarah
dan kehidupan manusia. Studi Islam juga merupakan suatu disiplin ilmu tentang
keislaman, yaitu meliputi Al-Qur’an, Ilmu Hadis, Ilmu Kalam, Fisafat, Tasawuf,
Hukum Islam (Fikhi), dsb.
3.
Metodologi
Metodologi
merupakan analisis teoritis mengenai suatu cara atau metode. Sementara
metodologi penelitian adalah sekumpulan peraturan, kegiatan, prosedur yang
digunakan oleh suatu disiplin ilmu. Metode studio Islam adalah jalan atau cara
seorang muslim untuk mengarahkan dan membimbing umat muslim menuju pertumbuhan
dan perkembangan fitrah pada titik maksimalnya.
4. Perkembangan metodologi dan pendekatan dalam kajian Islam.
Tradisi
kajian keislaman ala Barat berakar dari sejarah yang sangat panjang, paling
tidak sejauh hubungan Kristen dengan Islam yang dimulai dari kalangan Gereja.
IV. Pendekatan Filologis dan Sejarah
1. Pendekatan filologis (philological approach)
Secara etimologis, filologi berasal dari dua
kata dalam bahasa Yunani, yaitu philos yang berarti ‘cinta’ dan logos yang
berarti ‘kata’. Dengan demikian, kata filologi membentuk arti ‘cinta kata’ atau
‘senang bertutur’ (Shipley dalam Baroroh-Baried, 1985:1). Arti tersebut
kemudian berkembang menjadi ‘senang belajar’, dan ‘senang kasustraan atau
senang kebudayaan’ (Baroroh-Baried, 1985:1). Tugas seorang filolof ialah
meneliti naskah-naskah, membuat laporan tentang keadaan naskah-naskah, dan
menyunting teks yang ada di dalamnya.
2.
Pendekatan Sejarah (Historical
Approach)
Ditinjau dari sisi
etimologi, kata sejarah berasal dari bahasa Arab syajarah (pohon) dan dari kata history
dalam bahasa Inggris yang berarti cerita atau kisah. Kata history sendiri lebih populer untuk
menyebut sejarah dalam ilmu pengetahuan. Jika dilacak dari asalnya, kata history berasal dari bahasa Yunani istoria yang berarti pengetahuan tentang
gejala-gejala alam, khususnya manusia.
Pendekatan historis ini adalah suatu pandangan
umum tentang pandangan metode pengajaran secara suksesif sejak dulu sampai
sekarang. Menurut Kuntowijoyo, sejarah bersifat empiris sedangkan agama
bersifat normatif. Sejarah itu empiris karena bersandar pada pengalaman
manusia. Sedangkan ilmu agama dikatakan normatif bukan berarti tidak ada unsur
empirisnya, melainkan normatiflah yang menjadi rujukan.
Para orientalis yang telah melakukan beberapa penelitian di bidang
sejarah di antaranya:
v
Kitab Suci
Salah satu pedoman hidup dalam beragama
adalah kitab suci, kitab suci agama Islam adalah Al-Qur’an. Sebagai simbol
keabsahan suatu agama dan pedoman bagi para penganutnya, Islam memiliki nilai
yang tinggi bagi para penganutnya. Keyakinan ini sepertinya masih salah
dipahami oleh orang-orang Barat, terutama mereka yang masih terpengaruh oleh
doktrin lama agama mereka, yakni agama Yahudi dan agama Nasrani.
v
Kenabian Muhammad Saw.
Beberapa modernis Muslim
sangat yakin bahwa melalui Islam beserta kitabnya, manusia telah mencapai
kedewasaan rasional dan oleh karena itu tidak diperlukan wahyu-wahyu Tuhan
lagi. Akan tetapi, karena umat manusia masih mengalami kebingungan moral, maka
agar konsisten dan berarti, argumentasi ini harus ditambahkan dengan: bahwa
kedewasaan moral seseorang manusia bergantung pada perjuangannya yang terus
menerus untuk mencapai petunjuk dari kitab-kitab Allah, khususnya Al-Quran dan
bahwa manusia belum menjadi dewasa dengan pengertian ia dapat hidup tanpa
petunjuk Allah. Selanjutnya Rahman berpandangan bahwa pemahaman yang memuaskan
mengenai petunjuk Allah tidak lagi bergantung pada pribadi-pribadi “pilihan”,
tetapi telah memiliki sebuah fungsi kolektif.
v
Institusi-Institusi Keislaman
Islam berkembang sebagai
agama yang memiliki kandungan nilai-nilai ilmiah, rasional dan mistik. Hal
tersebut karena perkembangan ini membawa dampak pada aspek lain, di antaranya
pada pembentukan institusi-institusi Islam.
Secara politis, pada masa awal Islam telah muncul system khilafah
sebagai institusi Islam dalam wilayah pengaturan kekuasaan politik.
Kepemimpinan Islam merupakan kepemimpinan yang dipilih melalui primus interpares, bukan kekuasaan
turun-temurun seperti kerajaaan.
v
Hubungan Islam-Kristen
Kajian
keislaman di kalangan para orientalis lebih menunjukkan kemampuan mereka secara
metodologis terhadap berbagai disiplin ilmu yang relevan dengan objek kajian
dalam mengkaji Islam. Hal ini dapat dilihat pada berbagai pendekatan yang
mereka pergunakan mulai dari pendekatan filologis, histories, dan bahkan
pendekatan-pendekatan lain semisal sosiologis, antropologis, fenomenologis, dan
sebagainya. Namun demikian, di kalangan orientali kolonialistik, kemampuan
mereka mengkaji Islam lebih cenderung untuk menggali kelemahan Islam. Hal ini
berbeda dengan orientalis di era modern yang lebih cenderung fenomenologis,
mereka memahami Islam sebagaimana Islam dipahami oleh umat Islam itu sendiri.
V. Pendekatan Awal dan Modern dalam Tradisi Kajian Islam
1. Pendekatan missionarisme dan kolonialisme
Kaum
orientalis mengkaji Islam terutama Al-Qur’an dan Hadis dengan serius, namun
mereka berusaha untuk menunjukkan kelemahan-kelemahan Islam sekaligus
memperhatikan kekuatan dan kelebihan. Kelompok pengkaji tipe ini melihat Islam
sebagai agama penyadur atau mencomot berbagai ajaran dari agama-agama
sebelumnya. Bahkan ada diantara mereka menyebut Islam sebagai agama murtad dari
Kristen. Pendekatan yang dilakukan oleh kelompok orientalis ini disebut Pendekatan
Missionaris. Kelompok sarjana yang tergolong para pemuka dan tokoh agama
Kristen ini berusaha menyebarkan panji-panji kekristenan dengan melakukan
perbandingan yang tidak fair dan tidak jujur. Pendekatan yang digunakan dalam
pengkajiannya disebut Pendekatan Kolonialisme.
2. Orientalis dan semangat kajiannya
Kaum
orientalis merupakan orang yang memiliki konsentrasi kajian tentang ketimuran
(oriental). Jika dilihat dari semangat kerjanya, mereka mengalami perubahan
orientasi yang cukup fundamental. Mulai semangat menegakkan panji-panji
kekristenan sampai pada upaya pengkajian islam dilihat dari bagaimana Islam
dipahami oleh umatnya. Semangat kajiannya berubah dari missionaris menjadi
kolonialis. Studi semacam ini hanya menguntungkan kaum orientalis saja untuk
mendukung perpanjangan kekuasaan kaum kolonial , sementara itu umat Islam
diposisikan sebagai bangsa yang terjajah sehingga kondisi semacam ini kurang
kondusif untuk mengembangkan sikap toleransi.
Pada fase
berikutnya, kaum orientalis merubah haluan atau orientasi pendekatan studi yang
mereka gunakan menjadi pendekatan fenomenologis yang menegaskan akan eksintensi
Islam dan umatnya bukanlah sebuah komunitas yang harus dipisahkan melainkan
harus dilihat secara faktual. Maksudnya bagaimana Islam dikaji berdasarkan yang
dipahami oleh umat muslim sendiri bukan atas dasar perspektif ataupun paradigma
orang lain.
3. Pendekatan filosofis terhadap teks-teks kebudayaan Asia
Agama-agama
besar dunia seperti Yahudi, Kristen, dan Islam berada di kawasan Asia. Oleh
karena itu, mempelajari agama-agama besar dunia tanpa pengetahuan yang
mendalam tentang bahasa-bahasa Asia
sangatlah kurang memadai dalam kajiannya. Muatan pembahasan kajian keislaman
mengenai dogma, ajaran dan teks-teks yang berkembang didunia Islam lebih
bersifat filosofis. Maksudnya, pembahasan ini dilakukan dengan pendekatan
filosofis yang lebih mengarah pada bentuk elaborasi atau eksplanasi tentang
ajaran yang doktrin ada dalam Islam.
4. Pendekatan filsafat modern
Kajian
keislaman dalam tradisi sarjana Barat telah mengalami perkembangan, baik dari
aspek metodologis maupun pendekatan yang digunakannya. Kajian Islam dalam
pendekatan filosofis dapat dilihat pada karya-karya sarjan dengan
memperkenalkan pendekatan-pendekatan berikut ini:
ü Pendekatan hermeneutik merupakan sebuah studi yang muncul dari
proyek khusus yang mengfokuskan pada signifikasi teori interpretasi Bible
Bultamannian terhadap teori sastra ketika
tuntutan klasifikasi fundamental terhadap perkembangan makna dan wilayah
kerja hermenuetika itu sendiri telah menjadi jelas.
ü Pendekatan teologi-filosofis digunakan mulai dari munculnya
pemahaman rasional dikalanga mutakallimin (ahli kalam) di kalanga umat Islam
yaitu mashab Muktazilah.
ü Pendekatan tafsir filsafat adalah penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an
berdasarkan pendekatan-pendekatan filosofis, baik yang berusaha untuk
mengadakan sintensis senkretisasi antara teori-teori filsafat dengan ayat-ayat
Al-Qur’an maupu yang berusaha menolak teori-teori filsafat yang dianggap
bertentangan dengan ayat-ayat Al-Quran.
VI.
Pendekatan
Fenomenologi
Fenomenologi
dalam kajian keagamaan biasanya digunakan untuk menerapkan Ephoce. Ephoce
adalah pengertian lain dari fenomenologi dan merupakan penerapan longgar dari
metode Husserl yaitu metode yang prinsip fenomenologinya kembali pada data
bukan pada pemikiran, yakni pada hal-halnya sendiri yang harus menampakkan
dirinya.
1.
Studi
perbandingan agama (comparative religions)
Para sarjana
Barat telah menyadari akan kesalahan selama ini yang dilakukan oleh para
pendahulunya, yakni melihat Islam dengan kacamata yang streotip dan skeptif.
Perbandingan antar fakta agama-agama yang dapat dibuat, tentu saja dalam cara
yang berbeda dan juga dengan tujuan yang berbeda pula. Jika signifikasi fakta
tertentu dalam satu agama tidak terkenal, tetapi fakta yang sejalan dalam agama
yang lain, termasuk area kultural yang sama diadakan, kemudian sebuah komprasi
antara fakta-fakta tersebut menjelaskan signifikasi yang kurang diketahui,
setidak-tidaknya perkiraan, pada skala yang lebih luas, orang dapat membuat
komprasi struktural antara agama, atau untuk mendemonstrasikan keberadaan
bentuk pokok yang mendasar dari agama.
2.
Sejarah
agama-agama (history of religions)
Sejarah
agama-agama merupakan suatu upaya para pengkaji ajaran agama-agama di muka bumi
ini dengan maksud mencari titik temu dari nilai-nilai yang terkandung pada
masing-masing agama. Sejarah yang ditelusuri adalah tentang asal-usul, pembawa
ajaran keteladanan, sikap dan prilaku yang muncul sebagai fenomena yang hidup
ditengah masyarakat.
3.
Ciri-ciri
pendekatan fenomenologis
v Ephoce yaitu pengkajian terhadap keyakinan agama-agama di dunia
ini, sebagaiman empati.
v Taxonomic scheme of religion yaitu kesamaan-kesamaan dari ajaran,
doktrin, dan keyakinan dari agama-agama.
VII. Pendekatan Ilmu Sosial
1. Pendekatan sosiologi
Ilmu
sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan
menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya itu. Sosiologi
mencoba memahami sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh
serta berubahnya perserikatan-perserikatan hidup beserta kepercayaannya,
keyakinan yang memberi sifat tersendiri pada jarak hidup bersama dalam tiap
persekutuan hidup manusia.
2. Pendekatan antropologi
Pendekatan
antropologi dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya
memahami agama dengan cara melihat wujud praktek keagamaan yang tumbuh dan
berkembang dalam masyarakat.
3. Pendekatan ilmu politik
Semakin
luasnya wilayah penyebaran Islam telah melahirkan sebuah komunitas yang
membutuhkan aturan dan orang-orang yang menegakkan aturan tersebut dalam
bernegara. Islam datang, Islam berkembang, kemudian Islam menjadi kekuatan
politik. Ini seperti yang digambarkan oleh Marshal G.S Hodgson dalam the
Venture of Islam, dalam pemikirannya lahirlah Islamic, Islamicate, dan Islamdom.
VIII. Kajian Kawasan dan Pusat Kajian Keagamaan di Beberapa Lembaga
Kajian Keislaman di Barat
1.
Studi
kawasan
2.
Pusat kajian
keislaman
Kajian
keislaman merupakan disiplin modern yang sudah berusia sangat tua.
IX. Pengkaji Keislaman Outsider, Insider, dan Skop Kajian Islam
1.
Karakteristik
islamic studies
v Islamic studies dalam perspektif outsider, yaitu pengkajian
keislaman yang dilakukan oleh para ilmuwan dari luar lingkungan Islam seperti
sarjana-sarjana Barat.
v Islamic studies dalam perspektif insider, yaitu pengkajian
keislaman yang dilakukan oleh para ilmuwan muslim sendiri.
v Contoh hasil penelitian outsider dan insider
a. Complete participant (partisipasi murni), para sarjana menulis
agama mereka sendiri.
b. Complete observer (peneliti murni), para sarjana yang meneliti
keagamaan dari sisi luar secara penuh dan menjauhkan diri dari partisipasi.
c. Observer as participant, proses penelitian diman seorang penliti
mengambil pemahaman dan kesimpulan dari perspektif yang diteliti.
d. Participant as observer, partisipan yang mengambil peran sebagai
observer di tengah keagamaan mereka sendiri.
2. Skop kajian Islam dalam aspek esoterik dan eksoterik
v Skop kajian Islam dalam aspek esoterik, sesungguhnya keyakinan
akan kebenaran suatu agama yang membuat seseorang memeluk agama tersebut adalah
suatu hal yang tak dapat dipandang keliru.
v Skop kajian Islam dalam aspek eksoter, sering dipahami dari kisah
Ashabul kahfi yang mengacu kepada realitas rohani yang terdapat di dalam diri
manusia yaitu; roh, hati, akal teoretis, akal praktis, pemikiran, rahasia yang
dalam, dan rahasia yang paling puncak.
X.
Agreement in
Disagreement dalam Tiga materi Kajian Islam
1. Al-Qur’an
Dalam
pemikiran kaum orientalis awal, Al-Qur’an dipahami seperti halnya buku-buku
bacaan lainnya. Bidang studi Al-Qur’an merupakan lapangan kajian keislaman modern
yang menonjol. Para orientalis melakukan kajian kritis terhadap teks kitab suci
Al-Qur’an yang menyangkut bentuk, susunan ayat-ayat, sejarah penyusunan,
variasi bacaan, dan hubungannya dengan literatur-literatur terdahulu.
2. As-Sunnah
Hadis adalah
bidang lain yang menjadi perhatian kajian keislaman modern. Dalam sejarah Islam
modern, muncul kontroversi yang cukup menegangkan mengenai posisi Hadis dalam
pemikiran keagamaan.
3. Hakekat kenabian Muhammad
Kajian-kajian
modern tentang figur Muhammad dilakukan bersamaan dengan bidang-bidang lain,
khususnya bangsa Arab pra Islam dan tentang Al-Qur’an. Dalam pandangan kaum
orientalistik-kolonialistik, Muhammad sebagai Nabi merupakan sesuatu yang sulit
diterima dalam pemahaman mereka karena mereka terkena frame pikiran Kristiani yang menggap Isa atau Yesus
Kristus sebagai tuhan.
XI.
Islam dan
Dunia Kontemporer
1. Islam dan tradisi di Indonesia sekarang
Di
Indonesia terhadap dua penelitian yang
dilakukan secara mendalam yang menjelaskan hubungan tradisi lokal dengan Islam.
Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Clifford Geerts di Mojokuto yang hasil
penelitiannya pertama kali diterbitkan di Amerika pada tahun 1960. Kedua,
penelitian yang dilakukan oleh Woward M. Federspiel tentang Persatuan Islam
(PERSIS) yang diterbitkan di New York pada tahun 1970 yang telah dialih
bahasakan kedalam bahasa Indonesia oleh Yudian W. Asmin dan Affandi Mochtar dengan judul Persatuan
Islam: Pembaharuan Islam di Indonesia abad XX (1996).
Kaum tua
meyakini bahwa kebenaran yang dikemukakan dalam ajaran-ajaran ulama besar zaman
klasik dan zaman pertengahan seperti
Al-Ghazali, Al-Asy’ari, dan Al-Maturidi dalam bidang teologi dan imam-imam dari
mashab-mashab besar dalam bidang hukum Islam tidak berubah. Sedangkan kaum muda
besikap sebaliknya mereka menentang keras praktik-praktik tasawuf, ketaatan
kepada mashab-mashab teologi dan hukum Islam, upacara ritual yang tidak otoritatif dan doa yang dimaksudkan
untuk mengantarkan roh yang aru meninggal dunia.
2. Reaksi pemikiran Islam terhadap globalisasi
Karena
rendah dalam penguasaan dan pengembangan sains dan teknologi, umat Islam
menjadi kelompok yang terbelakang. Mereka hampir diidentikkan dengan kebodohan,
kemiskinan, dan tidak berperadaban
sedangkan di sisi lain lain umat agama lain begitu maju dengan berbagi
teknologi pertanian atas dasar itulah terjadi berbagai reaksi terhadap kemajuan
pemeluk agama-agama lain. Secara umum, reaksi tersebut dapat dibedakan menjadi
empat kecenderungan antara lain sebagai berikut:
§ Tradisionalis, percaya bahwa kemunduran umat Islam adalah
ketentuan dan rencana Tuhan.
§ Modernis, percaya bahwa keterbelakangan umat Islam lebih banyak
disebabkan oleh kesalahan sikap mental, budaya, atau teknologi mereka.
§ Revivalis-Fundamental, percaya bahwa umat Islam terbelakang karena
mereka justru menggunakan ideologi atau isme lain sebagai dasar pijakan dari
pada menggunaka Al-Qur’an sebagai acuan dasar.
§ Transformatif, percaya bahwa keterbelakangan umat Islam disebabkan
oleh ketidakadilan sistem dan struktur ekonomi, politik, dan kultur.
XII. Dimensi dan Aliran Pemikiran Islam
1. Dimensi islam
o Pengertian dimensi Islam
Iman menurut
bahasa yaitu pembenaran dalam hati. Sedangkan menurut istilah, iman adalah
membenarkan dalam hati, mengikrarkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan
anggota badan.
Islam
menurut bahasa berasal dari kata “salima” yang mengandung arti selamat,
sentosa, dan damai. Kata “salima” kemudian diubah menjadi bentuk “aslama” yang
berarti berserah diri masuk dalam kedamaian. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia adalah agama yang dijarkan oleh Nabi Muhammad SAW. berpedoman pada
kitab suci Al-Qur’an yang diturunkan ke dunia melalui Jibril.
Ihsan
berasal dari kata “hasana” yang artinya berbuat baik, sedangkan bentuk
masdarnya “ihsaanan” yang artinya kebaikan. Ihsan adalah puncak ibadah dan
akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba allah SWT. Sebab ihsan
menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya.
o Hubungan antara Iman, Islam dan Ihsan
Keberagaman
seseoran baru dikatakan benar jika dibangun di atas pondasi Islam dengan segala
kriterianya, disemangati oleh iman, segala aktivitas dilakukan atas dasar
ihsan, dan orientasi akhir segala aktivitas adalah ukhrawi.
o Perbedaan antara Iman, Islam dan Ihsan
·
Iman lebih
menekankan pada segi keyakinan dalam hati.
·
Islam adalah
sikap aktif untuk berbuat /beramal.
·
Ihsan
merupakan perwujudan dari iman dan Islam, yang sekaligus merupakan cerminan
dari kadar iman dan Islam itu sendiri.
2. Aliran pemikiran Islam
o Aliran kalam, adalah ilmu yang berisi tentang alasan-alasan yang
mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil
pikiran dan berisi bantahan terhadap
orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan aliran golongan salaf dan ahli
sunnah. Aliran-aliran ilmu kalam diantaranya; Khawarij, Murji’ah, Qadariyah,
Jabariyah, Mu’tasilah, Asy’ariyah,
o Aliran fiqhi, secara histories Islam telah menjadi 2 aliran pada
zaman nabi Muhammad SAW. Aliran hukum Islam yang terkenal dan masih ada
pengikutnya hingga sekarang yaitu Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan
Hanbaliyah.
o Aliran tasawuf, yaitu salah satu jalan yang diletakkan tuhan di
dalam lubuk Islam.
No comments:
Post a Comment