Thursday, March 3, 2016

Makalah : Metodologi Pendidikan Islam



METODOLOGI PENDIDIKAN ISLAM
I.       Pengantar Islamic Studies
1.      Batasan kajian Islam (Islamic Studies)
Pengertian studi Islam, yaitu kajian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Islam dan merupakan usaha sadar dan sistematis untuk mengetahui dan memahami serta membahas secara mendalam  tentang seluk beluk atau hal-hal yang berhubungan dalam Islam, baik berhubungan dengan ajaran, sejarah maupun praktik-praktik pelaksanaanya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, sepanjang sejarahnya.
2.      Sejarah tradisi kajian Islam
Tradisi kajian keislaman ala Barat berakar dari sejarah yang sangat panjang, paling tidak sejauh hubungan Kristen dengan Islam yang dimulai dari kalangan Gereja.
3.      Ruang lingkup studi Islam
Ø  Sebagai doktrin dari Tuhan yang sebenarnya bagi pemeluknya sudah final dalam arti absolute, dan diterima apa adanya.
Ø  Sebagai gejala budaya, yang berarti seluruh yang menjadi kreasi manusia dalam kaitannya dengan agama, termasuk pemahaman orang terhadap doktrin agamanya.
Ø  Sebagai interaksi sosial, yaitu realitas umat islam.
II.    Tiga Tahap Kajian Keislaman
1.      Tahap teologis
Secara teori, pendekatan teologis dalam studi agama akan mengkaji:
Ø  Teologi agama-agama (theologies of religions), yaitu teologi tertentu yang muncul dalam tradisi keagamaan partikular yang diadopsi dari luar agama.
Ø  Teologi agama (theology of religion), yaitu upaya membangun suatu teologi agama yang lebih universal yang dalam hal ini mengonsentrasikan pada kategori-kategori transenden.
Ø  Teologi agama-agama global (a global theology of religion), yang dimulai dengan situasi global dalam seluruh kompleksitas moral, manusia dan natural, dan dari sana segera muncul upaya mengoseptualisasikan kembali kategori-kategori teologis yang muncul dari tradisi keagamaan tertentu yang dapat mengarahkan perkembangan kondisi dan situasi global, yang memengaruhi setiap orang.
Tokoh-tokoh yang menggunakan pendekatan teologis, antara lain:
v  St. Jhon
v  Peter the Venerable
v  Robert of Ketton
v  St. Thomas Aquinas
2.      Tahap politis
Perkembangan sosial, politik, ekonomi, dan budaya adalah merupakan ciri kuat dai kajian keislaman pada masa-masa awal priode modern. Mulai fase ini, kekuasaan islam mengalami penurunan yang sangat drastis, menyusul kejatuhan khalifah Bani Usmaniyah, sehingga hampir seluruh kekuasaan Islam berada dalam kontrol pemerintahan bangsa-bangsa Barat. Wujud arogansi mereka dalam dua kekuatannya yaitu Industrialisasi dan Imperialisme.



3.      Tahap saintifik
Memasuki abad ke-19, sikap kalangan Kristen terhadap Islam mulai dihubungkan dengan kesesuaian agama itu untuk menjawab kecenderungan rasional yang berkat reformasi telah menandai masyarakat Barat modern. Kajian-kajian tentang Islam mulai menggunakan paradigme rasional, sebagaimana dilakukan Ernest Renan pada tahun 1883 melalui penerbitan karyanya  tentang Islam dan Ilmu pengetahuan.
III. Batasan Istilah
1.      Pendekatan
Pendektan dalam studi Islam berarti serangkaian pendapat atau asumsi tentang hakikat studi Islam dan pengajar agama Islam. Pendekatan yang sering digunakan dalam studi Islam yaitu sebagai berikut:
*      Pendekatan Filosofis, studi proses tentang pendidikan yang didasari dengan nilai-nilai ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
*      Pendekatan Historis, suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa denagn memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang, dan prilaku dari proses tersebut.
*      Pendekatan Semiotika, kata semiotika berasal bari bahasa Yunani “semion” yang berarti tanda. Tanda ini bersifat universal yang merujuk sebagai tanda karena kehadirannya direspon manusia sebagai sarana komunikasi yang mempunyai arti.
*      Pendekatan Fenomenologis, Fenomenologi dalam kajian keagamaan biasanya digunakan untuk menerapkan Ephoce yang merupakan penerapan longgar dari metode Husserl yaitu metode yang prinsip fenomenologinya kembali pada data bukan pada pemikiran, yakni pada hal-halnya sendiri yang harus menampakkan dirinya.
2.      Disiplin ilmu
Disiplin ilmu adalah sebuah spesialisasi dalam keilmuan yang terkait dengan filsafat ilmu dan metodologi yang berlaku dalam spesialisasi itu. Disiplin ilmu merupakan salah satu pokok bahasan dalam studi Islam di mana studi Islam adalah pengetahuan yang dirumuskan dari ajaran Islam, yang dipraktekkan dalam sejarah dan kehidupan manusia. Studi Islam juga merupakan suatu disiplin ilmu tentang keislaman, yaitu meliputi Al-Qur’an, Ilmu Hadis, Ilmu Kalam, Fisafat, Tasawuf, Hukum Islam (Fikhi), dsb.

3.      Metodologi
Metodologi merupakan analisis teoritis mengenai suatu cara atau metode. Sementara metodologi penelitian adalah sekumpulan peraturan, kegiatan, prosedur yang digunakan oleh suatu disiplin ilmu. Metode studio Islam adalah jalan atau cara seorang muslim untuk mengarahkan dan membimbing umat muslim menuju pertumbuhan dan perkembangan fitrah pada titik maksimalnya.

4.      Perkembangan metodologi dan pendekatan dalam kajian Islam.
Tradisi kajian keislaman ala Barat berakar dari sejarah yang sangat panjang, paling tidak sejauh hubungan Kristen dengan Islam yang dimulai dari kalangan Gereja.



IV.     Pendekatan Filologis dan Sejarah
1.      Pendekatan filologis (philological approach)
Secara etimologis, filologi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu philos yang berarti ‘cinta’ dan logos yang berarti ‘kata’. Dengan demikian, kata filologi membentuk arti ‘cinta kata’ atau ‘senang bertutur’ (Shipley dalam Baroroh-Baried, 1985:1). Arti tersebut kemudian berkembang menjadi ‘senang belajar’, dan ‘senang kasustraan atau senang kebudayaan’ (Baroroh-Baried, 1985:1). Tugas seorang filolof ialah meneliti naskah-naskah, membuat laporan tentang keadaan naskah-naskah, dan menyunting teks yang ada di dalamnya.
2.      Pendekatan Sejarah (Historical  Approach)
Ditinjau dari sisi etimologi, kata sejarah berasal dari bahasa Arab syajarah (pohon) dan dari kata history dalam bahasa Inggris yang berarti cerita atau kisah. Kata history sendiri lebih populer untuk menyebut sejarah dalam ilmu pengetahuan. Jika dilacak dari asalnya, kata history berasal dari bahasa Yunani istoria yang berarti pengetahuan tentang gejala-gejala alam, khususnya manusia.
 Pendekatan historis ini adalah suatu pandangan umum tentang pandangan metode pengajaran secara suksesif sejak dulu sampai sekarang. Menurut Kuntowijoyo, sejarah bersifat empiris sedangkan agama bersifat normatif. Sejarah itu empiris karena bersandar pada pengalaman manusia. Sedangkan ilmu agama dikatakan normatif bukan berarti tidak ada unsur empirisnya, melainkan normatiflah yang menjadi rujukan.
Para orientalis yang telah melakukan beberapa penelitian di bidang sejarah di antaranya:

v  Kitab Suci
        Salah satu pedoman hidup dalam beragama adalah kitab suci, kitab suci agama Islam adalah Al-Qur’an. Sebagai simbol keabsahan suatu agama dan pedoman bagi para penganutnya, Islam memiliki nilai yang tinggi bagi para penganutnya. Keyakinan ini sepertinya masih salah dipahami oleh orang-orang Barat, terutama mereka yang masih terpengaruh oleh doktrin lama agama mereka, yakni agama Yahudi dan agama Nasrani.
v  Kenabian Muhammad Saw.
Beberapa modernis Muslim sangat yakin bahwa melalui Islam beserta kitabnya, manusia telah mencapai kedewasaan rasional dan oleh karena itu tidak diperlukan wahyu-wahyu Tuhan lagi. Akan tetapi, karena umat manusia masih mengalami kebingungan moral, maka agar konsisten dan berarti, argumentasi ini harus ditambahkan dengan: bahwa kedewasaan moral seseorang manusia bergantung pada perjuangannya yang terus menerus untuk mencapai petunjuk dari kitab-kitab Allah, khususnya Al-Quran dan bahwa manusia belum menjadi dewasa dengan pengertian ia dapat hidup tanpa petunjuk Allah. Selanjutnya Rahman berpandangan bahwa pemahaman yang memuaskan mengenai petunjuk Allah tidak lagi bergantung pada pribadi-pribadi “pilihan”, tetapi telah memiliki sebuah fungsi kolektif.
v  Institusi-Institusi Keislaman     
Islam berkembang sebagai agama yang memiliki kandungan nilai-nilai ilmiah, rasional dan mistik. Hal tersebut karena perkembangan ini membawa dampak pada aspek lain, di antaranya pada pembentukan institusi-institusi Islam.  Secara politis, pada masa awal Islam telah muncul system khilafah sebagai institusi Islam dalam wilayah pengaturan kekuasaan politik. Kepemimpinan Islam merupakan kepemimpinan yang dipilih melalui primus interpares, bukan kekuasaan turun-temurun seperti kerajaaan.
v  Hubungan Islam-Kristen
Kajian keislaman di kalangan para orientalis lebih menunjukkan kemampuan mereka secara metodologis terhadap berbagai disiplin ilmu yang relevan dengan objek kajian dalam mengkaji Islam. Hal ini dapat dilihat pada berbagai pendekatan yang mereka pergunakan mulai dari pendekatan filologis, histories, dan bahkan pendekatan-pendekatan lain semisal sosiologis, antropologis, fenomenologis, dan sebagainya. Namun demikian, di kalangan orientali kolonialistik, kemampuan mereka mengkaji Islam lebih cenderung untuk menggali kelemahan Islam. Hal ini berbeda dengan orientalis di era modern yang lebih cenderung fenomenologis, mereka memahami Islam sebagaimana Islam dipahami oleh umat Islam itu sendiri.
V.     Pendekatan Awal dan Modern dalam Tradisi Kajian Islam
1.      Pendekatan missionarisme dan kolonialisme
Kaum orientalis mengkaji Islam terutama Al-Qur’an dan Hadis dengan serius, namun mereka berusaha untuk menunjukkan kelemahan-kelemahan Islam sekaligus memperhatikan kekuatan dan kelebihan. Kelompok pengkaji tipe ini melihat Islam sebagai agama penyadur atau mencomot berbagai ajaran dari agama-agama sebelumnya. Bahkan ada diantara mereka menyebut Islam sebagai agama murtad dari Kristen. Pendekatan yang dilakukan oleh kelompok orientalis ini disebut Pendekatan Missionaris. Kelompok sarjana yang tergolong para pemuka dan tokoh agama Kristen ini berusaha menyebarkan panji-panji kekristenan dengan melakukan perbandingan yang tidak fair dan tidak jujur. Pendekatan yang digunakan dalam pengkajiannya disebut Pendekatan Kolonialisme.
2.      Orientalis dan semangat kajiannya
Kaum orientalis merupakan orang yang memiliki konsentrasi kajian tentang ketimuran (oriental). Jika dilihat dari semangat kerjanya, mereka mengalami perubahan orientasi yang cukup fundamental. Mulai semangat menegakkan panji-panji kekristenan sampai pada upaya pengkajian islam dilihat dari bagaimana Islam dipahami oleh umatnya. Semangat kajiannya berubah dari missionaris menjadi kolonialis. Studi semacam ini hanya menguntungkan kaum orientalis saja untuk mendukung perpanjangan kekuasaan kaum kolonial , sementara itu umat Islam diposisikan sebagai bangsa yang terjajah sehingga kondisi semacam ini kurang kondusif untuk mengembangkan sikap toleransi.
Pada fase berikutnya, kaum orientalis merubah haluan atau orientasi pendekatan studi yang mereka gunakan menjadi pendekatan fenomenologis yang menegaskan akan eksintensi Islam dan umatnya bukanlah sebuah komunitas yang harus dipisahkan melainkan harus dilihat secara faktual. Maksudnya bagaimana Islam dikaji berdasarkan yang dipahami oleh umat muslim sendiri bukan atas dasar perspektif ataupun paradigma orang lain.
3.      Pendekatan filosofis terhadap teks-teks kebudayaan Asia
Agama-agama besar dunia seperti Yahudi, Kristen, dan Islam berada di kawasan Asia. Oleh karena itu, mempelajari agama-agama besar dunia tanpa pengetahuan yang mendalam  tentang bahasa-bahasa Asia sangatlah kurang memadai dalam kajiannya. Muatan pembahasan kajian keislaman mengenai dogma, ajaran dan teks-teks yang berkembang didunia Islam lebih bersifat filosofis. Maksudnya, pembahasan ini dilakukan dengan pendekatan filosofis yang lebih mengarah pada bentuk elaborasi atau eksplanasi tentang ajaran yang doktrin ada dalam Islam.
4.      Pendekatan filsafat modern
Kajian keislaman dalam tradisi sarjana Barat telah mengalami perkembangan, baik dari aspek metodologis maupun pendekatan yang digunakannya. Kajian Islam dalam pendekatan filosofis dapat dilihat pada karya-karya sarjan dengan memperkenalkan pendekatan-pendekatan berikut ini:

ü  Pendekatan hermeneutik merupakan sebuah studi yang muncul dari proyek khusus yang mengfokuskan pada signifikasi teori interpretasi Bible Bultamannian terhadap teori sastra ketika  tuntutan klasifikasi fundamental terhadap perkembangan makna dan wilayah kerja hermenuetika itu sendiri telah menjadi jelas.
ü  Pendekatan teologi-filosofis digunakan mulai dari munculnya pemahaman rasional dikalanga mutakallimin (ahli kalam) di kalanga umat Islam yaitu mashab Muktazilah.
ü  Pendekatan tafsir filsafat adalah penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan pendekatan-pendekatan filosofis, baik yang berusaha untuk mengadakan sintensis senkretisasi antara teori-teori filsafat dengan ayat-ayat Al-Qur’an maupu yang berusaha menolak teori-teori filsafat yang dianggap bertentangan dengan ayat-ayat Al-Quran.

VI.        Pendekatan Fenomenologi
Fenomenologi dalam kajian keagamaan biasanya digunakan untuk menerapkan Ephoce. Ephoce adalah pengertian lain dari fenomenologi dan merupakan penerapan longgar dari metode Husserl yaitu metode yang prinsip fenomenologinya kembali pada data bukan pada pemikiran, yakni pada hal-halnya sendiri yang harus menampakkan dirinya.
1.         Studi perbandingan agama (comparative religions)
Para sarjana Barat telah menyadari akan kesalahan selama ini yang dilakukan oleh para pendahulunya, yakni melihat Islam dengan kacamata yang streotip dan skeptif. Perbandingan antar fakta agama-agama yang dapat dibuat, tentu saja dalam cara yang berbeda dan juga dengan tujuan yang berbeda pula. Jika signifikasi fakta tertentu dalam satu agama tidak terkenal, tetapi fakta yang sejalan dalam agama yang lain, termasuk area kultural yang sama diadakan, kemudian sebuah komprasi antara fakta-fakta tersebut menjelaskan signifikasi yang kurang diketahui, setidak-tidaknya perkiraan, pada skala yang lebih luas, orang dapat membuat komprasi struktural antara agama, atau untuk mendemonstrasikan keberadaan bentuk pokok yang mendasar dari agama.
2.         Sejarah agama-agama (history of religions)
Sejarah agama-agama merupakan suatu upaya para pengkaji ajaran agama-agama di muka bumi ini dengan maksud mencari titik temu dari nilai-nilai yang terkandung pada masing-masing agama. Sejarah yang ditelusuri adalah tentang asal-usul, pembawa ajaran keteladanan, sikap dan prilaku yang muncul sebagai fenomena yang hidup ditengah masyarakat.
3.         Ciri-ciri pendekatan fenomenologis
v  Ephoce yaitu pengkajian terhadap keyakinan agama-agama di dunia ini, sebagaiman empati.
v  Taxonomic scheme of religion yaitu kesamaan-kesamaan dari ajaran, doktrin, dan keyakinan dari agama-agama.
VII.     Pendekatan Ilmu Sosial
1.      Pendekatan sosiologi
Ilmu sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya itu. Sosiologi mencoba memahami sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh serta berubahnya perserikatan-perserikatan hidup beserta kepercayaannya, keyakinan yang memberi sifat tersendiri pada jarak hidup bersama dalam tiap persekutuan hidup manusia.
2.      Pendekatan antropologi
Pendekatan antropologi dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktek keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.
3.      Pendekatan ilmu politik
Semakin luasnya wilayah penyebaran Islam telah melahirkan sebuah komunitas yang membutuhkan aturan dan orang-orang yang menegakkan aturan tersebut dalam bernegara. Islam datang, Islam berkembang, kemudian Islam menjadi kekuatan politik. Ini seperti yang digambarkan oleh Marshal G.S Hodgson dalam the Venture of Islam, dalam pemikirannya lahirlah Islamic, Islamicate, dan Islamdom.



VIII.     Kajian Kawasan dan Pusat Kajian Keagamaan di Beberapa Lembaga Kajian Keislaman di Barat
1.         Studi kawasan
*      Kawasan Timur Tengah, pusat penyebaran Islam pertama kali di Jazirah Arab (Arab Saudi). Dalam negara ini terdapat 2 kota yang sangat historis dan menjadi pusat perhatian dunia, yakni Mekkah dan Madinah.
*      Kawasan Afrika, sebagai bagian dari perhatian para peneliti tentang keislaman disebabkan ada sebagian dari negara-negara di benua ini yang warganya beragama Islam.
*      Kawasan Eropa, penganut agama Islam merupakan minoritas di wilyah ini. Seperti; Turki Usmani, Bulgaria, Jerman, Inggris, Prancis, Rumania, Baltik, Lithuania, Spanyol, Polandia, dll.
*      Kawasan Amerika Serikat, merupakan negara maju dalam berbagai hal, dan secara umum dalam peradaban di era modern ini. Pesatnya jumlah penganut agama Islam di negeri Paman Sam ini lebih banyak melalui penjara-penjara.
*      Kawasan Asia Tenggara, Islam di wilayah ini berkembang dengan aman dan damai, sehingga berdampak pada sikap umat Islam di wilayah yang dihuni oleh mayoritas pengguna bahasa Melayu ini yang kebanyakan dibawa oleh kaum saudagar, pedagang muslim dari wilayah India maupun Timur Tengah.
2.         Pusat kajian keislaman
Kajian keislaman merupakan disiplin modern yang sudah berusia sangat tua.
*      Pusat kajian keislaman di Kanada
*      Pusat kajian keislaman di Temple University
*      Pusat kajian keislaman di Leiden University
*      Pusat kajian keislaman di Chicago University
*      Pusat kajian keislaman di Jerman
IX.     Pengkaji Keislaman Outsider, Insider, dan Skop Kajian Islam
1.         Karakteristik islamic studies
v  Islamic studies dalam perspektif outsider, yaitu pengkajian keislaman yang dilakukan oleh para ilmuwan dari luar lingkungan Islam seperti sarjana-sarjana Barat.
v  Islamic studies dalam perspektif insider, yaitu pengkajian keislaman yang dilakukan oleh para ilmuwan muslim sendiri.
v  Contoh hasil penelitian outsider dan insider
a.       Complete participant (partisipasi murni), para sarjana menulis agama mereka sendiri.
b.      Complete observer (peneliti murni), para sarjana yang meneliti keagamaan dari sisi luar secara penuh dan menjauhkan diri dari partisipasi.
c.       Observer as participant, proses penelitian diman seorang penliti mengambil pemahaman dan kesimpulan dari perspektif yang diteliti.
d.      Participant as observer, partisipan yang mengambil peran sebagai observer di tengah keagamaan mereka sendiri.
2.      Skop kajian Islam dalam aspek esoterik dan eksoterik
v  Skop kajian Islam dalam aspek esoterik, sesungguhnya keyakinan akan kebenaran suatu agama yang membuat seseorang memeluk agama tersebut adalah suatu hal yang tak dapat dipandang keliru.
v  Skop kajian Islam dalam aspek eksoter, sering dipahami dari kisah Ashabul kahfi yang mengacu kepada realitas rohani yang terdapat di dalam diri manusia yaitu; roh, hati, akal teoretis, akal praktis, pemikiran, rahasia yang dalam, dan rahasia yang paling puncak.
X.        Agreement in Disagreement dalam Tiga materi Kajian Islam
1.      Al-Qur’an
Dalam pemikiran kaum orientalis awal, Al-Qur’an dipahami seperti halnya buku-buku bacaan lainnya. Bidang studi Al-Qur’an merupakan lapangan kajian keislaman modern yang menonjol. Para orientalis melakukan kajian kritis terhadap teks kitab suci Al-Qur’an yang menyangkut bentuk, susunan ayat-ayat, sejarah penyusunan, variasi bacaan, dan hubungannya dengan literatur-literatur terdahulu.
2.      As-Sunnah
Hadis adalah bidang lain yang menjadi perhatian kajian keislaman modern. Dalam sejarah Islam modern, muncul kontroversi yang cukup menegangkan mengenai posisi Hadis dalam pemikiran keagamaan.
3.      Hakekat kenabian Muhammad
Kajian-kajian modern tentang figur Muhammad dilakukan bersamaan dengan bidang-bidang lain, khususnya bangsa Arab pra Islam dan tentang Al-Qur’an. Dalam pandangan kaum orientalistik-kolonialistik, Muhammad sebagai Nabi merupakan sesuatu yang sulit diterima dalam pemahaman mereka karena mereka terkena frame  pikiran Kristiani yang menggap Isa atau Yesus Kristus sebagai tuhan.



XI.              Islam dan Dunia Kontemporer
1.      Islam dan tradisi di Indonesia sekarang
Di Indonesia  terhadap dua penelitian yang dilakukan secara mendalam yang menjelaskan hubungan tradisi lokal dengan Islam. Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Clifford Geerts di Mojokuto yang hasil penelitiannya pertama kali diterbitkan di Amerika pada tahun 1960. Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Woward M. Federspiel tentang Persatuan Islam (PERSIS) yang diterbitkan di New York pada tahun 1970 yang telah dialih bahasakan kedalam bahasa Indonesia oleh Yudian W. Asmin  dan Affandi Mochtar dengan judul Persatuan Islam: Pembaharuan Islam di Indonesia abad XX (1996).
Kaum tua meyakini bahwa kebenaran yang dikemukakan dalam ajaran-ajaran ulama besar zaman klasik  dan zaman pertengahan seperti Al-Ghazali, Al-Asy’ari, dan Al-Maturidi dalam bidang teologi dan imam-imam dari mashab-mashab besar dalam bidang hukum Islam tidak berubah. Sedangkan kaum muda besikap sebaliknya mereka menentang keras praktik-praktik tasawuf, ketaatan kepada mashab-mashab teologi dan hukum Islam, upacara ritual yang  tidak otoritatif dan doa yang dimaksudkan untuk mengantarkan roh yang aru meninggal dunia.
2.      Reaksi pemikiran Islam terhadap globalisasi
Karena rendah dalam penguasaan dan pengembangan sains dan teknologi, umat Islam menjadi kelompok yang terbelakang. Mereka hampir diidentikkan dengan kebodohan, kemiskinan,  dan tidak berperadaban sedangkan di sisi lain lain umat agama lain begitu maju dengan berbagi teknologi pertanian atas dasar itulah terjadi berbagai reaksi terhadap kemajuan pemeluk agama-agama lain. Secara umum, reaksi tersebut dapat dibedakan menjadi empat kecenderungan antara lain sebagai berikut:
§  Tradisionalis, percaya bahwa kemunduran umat Islam adalah ketentuan dan rencana Tuhan.
§  Modernis, percaya bahwa keterbelakangan umat Islam lebih banyak disebabkan oleh kesalahan sikap mental, budaya, atau teknologi mereka.
§  Revivalis-Fundamental, percaya bahwa umat Islam terbelakang karena mereka justru menggunakan ideologi atau isme lain sebagai dasar pijakan dari pada menggunaka Al-Qur’an sebagai acuan dasar.
§  Transformatif, percaya bahwa keterbelakangan umat Islam disebabkan oleh ketidakadilan sistem dan struktur ekonomi, politik, dan kultur.
XII.  Dimensi dan Aliran Pemikiran Islam
1.      Dimensi islam
o   Pengertian dimensi Islam
Iman menurut bahasa yaitu pembenaran dalam hati. Sedangkan menurut istilah, iman adalah membenarkan dalam hati, mengikrarkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan.
Islam menurut bahasa berasal dari kata “salima” yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai. Kata “salima” kemudian diubah menjadi bentuk “aslama” yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah agama yang dijarkan oleh Nabi Muhammad SAW. berpedoman pada kitab suci Al-Qur’an yang diturunkan ke dunia melalui Jibril.
Ihsan berasal dari kata “hasana” yang artinya berbuat baik, sedangkan bentuk masdarnya “ihsaanan” yang artinya kebaikan. Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba allah SWT. Sebab ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya.
o   Hubungan antara Iman, Islam dan Ihsan
Keberagaman seseoran baru dikatakan benar jika dibangun di atas pondasi Islam dengan segala kriterianya, disemangati oleh iman, segala aktivitas dilakukan atas dasar ihsan, dan orientasi akhir segala aktivitas adalah ukhrawi.
o   Perbedaan antara Iman, Islam dan Ihsan
·        Iman lebih menekankan pada segi keyakinan dalam hati.
·        Islam adalah sikap aktif untuk berbuat /beramal.
·        Ihsan merupakan perwujudan dari iman dan Islam, yang sekaligus merupakan cerminan dari kadar iman dan Islam itu sendiri.
2.      Aliran pemikiran Islam
o   Aliran kalam, adalah ilmu yang berisi tentang alasan-alasan yang mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan berisi bantahan  terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan aliran golongan salaf dan ahli sunnah. Aliran-aliran ilmu kalam diantaranya; Khawarij, Murji’ah, Qadariyah, Jabariyah, Mu’tasilah, Asy’ariyah,
o   Aliran fiqhi, secara histories Islam telah menjadi 2 aliran pada zaman nabi Muhammad SAW. Aliran hukum Islam yang terkenal dan masih ada pengikutnya hingga sekarang yaitu Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanbaliyah.
o   Aliran tasawuf, yaitu salah satu jalan yang diletakkan tuhan di dalam lubuk Islam.

No comments:

Post a Comment

makalah-makalah dan tugas power point (ppt): Metode Kajian Hadis

makalah-makalah dan tugas power point (ppt): Metode Kajian Hadis : BAB I PENDAHULUAN A.   Latar Belakang Petunjuk-petunjuk agama men...