Thursday, September 1, 2016

Makalah : IAD,ISD,IBD



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Dari beberapa buku yang ditulis tahun 90-an tentang IAD-ISD-IBD ditemukan bahwa latar belakang mata kuliah ini disajikan di perguruan tinggi karena adanya berbagai kritik dari para cendekiawan terhadap system pendidikan yang berlangsung di Indonesia, bahwa perguruan tinggi itu seperti Menara Gading yang para sarjana yang dihasilkannya tidak lebih dari sekedar “tukang-tukang” yang kompeten dibidang ilmu yang ditekuninya, tetapi mereka kurang peka, sensitif, dan tak acuh terhadap masalah sosial yang ada di sekitarnya. Untuk mengatasi kekurangan pekaan itu disajikanlah mata kuliah IAD-ISD-IBD bagi para mahasiswa agar mereka memiliki “Sense of Crisis” terhadap lingkungan sosialnya.
Masalah sekarang adalah tepatkah jika kemudian mahasiswa dicitrakan sebagai makhluk yang kurang peka dengan lingkungannya? Bukankah saat ini jika dari problem sosial di masyarakat justru mahasiswalah yang paling depan meneriakkan telah terjadinya ketampangan itu, bahkan tidak jarang mereka harus dihadapkan dengan aparat kepolosian? Para mahasiswa juga kadang-kadang kebiasaan bertindak anarkis untuk merealisasikan apa yang mereka inginkan.
Oleh karena itu, latar belakang pengajaran IAD-ISD-IBD perlu diletakkan secara proporsional. Mata kuliah ini hendaknya menjadi bahan bagi mahasiswa untuk mengenali masalah-masalah sosial yang ada di sekitarnya sehingga mampu merefleksikan sikap dan berfikir ilmiah tentang kemungkinan solusi kreatif dan inovatif dari masalah yang dihadapinya.
B.  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Peranan remaja dan pemuda dalam masyarakat?
2.      Apakah permasalahan yang dihadapi pemuda dalam generasi nasional?
3.      Apa sajakah yang menjadi potensi remaja dan pemuda untuk memecahkan permasalahan generasi nasional?















BAB II
PEMBAHASAN
A.  Peranan Pemuda dan Remaja dalam Masyarakat
1.   Hakikat Remaja dan Pemuda
Sebelum membicarakan tentang hakikat remaja, kiranya lebih dahulu diketahui apa yang dimaksud dengan remaja. Masa remaja adalah antara umur 12 sampai 21 tahun yang merupakan masa peralihan antara masa kehidupan anak-anak dan masa kehidupan orang dewasa. Masa remaja sering dikenal dengan masa pencarian jati diri.[1].
Dalam hal ini, hakikat kepemudaan dicari atau ditinjau dari dua asumsi pokok, sebagai berikut:
Pertama, penghayatan mengenai proses perkembangan manusia bukan sebagai suatu kontinum yang sambung-menyambung tetapi fragmentaris, terpecah-pecah, dan setiap fragmen mempunyai artinya sendiri-sendiri. Pemuda dibedakan dari anak dan orang tua dan masing-masing fragmen itu mewakili nilai sendiri. Oleh sebab itu, arti setiap masa perkembangan hanya dapat dimengerti dan dinilai dari masa itu sendiri. Tidak mengherankan kalau masa romantisme akan tumbuh subur dalam pendekatan ini. Dinamika pemuda tidak lebih dari usaha untuk menyesuaikan diri dengan pola-pola kelakuan yang sudah tersedia, dan setiap bentuk kelakuan yang menyimpang akan dicap sebagai sesuatu yang anomalis, yang tak sewajarnya. Dan jika itu ditantang oleh kaidah-kaidah sosial yang sudah melembaga, maka hal itu akan terjelma dalam bentuk adanya jurang pemisah antara generasi muda dan generasi tua.
Kedua, posisi pemuda dalam arah kehidupan itu sendiri. Tafsiran-tafsiran klasik didasarkan pada anggapan bahwa kehidupan mempunyai pola yang banyak sedikitnya sudah tertentu dan ditentukan oleh mutu pemikiran yang diwakili oleh generasi tua yang bersembunyi dibalik tradisi. Dinamika pemuda tidak dilihat sebagai sebagian dari dinamika kehidupan atau lebih tepat sebagian dari dinamika wawasan kehidupan[2].
          Berdasarkan data yang ditemukan tentang jumlah generasi muda di dunia saat ini  bahwa pada abad ke-20 ini, mayoritas penduduk dunia terdiri dari generasi muda. Lebih dari separuh jumlah penduduk Indonesia berusia di bawah 19 tahun. Amerika Serikat, 30 juta penduduknya berada pada usia antara 18-25 tahun. Word Bank melaporkan bahwa unsur pertengahan rata-rata penduduk dunia 17 tahun. Dalam keadaan seperti ini nampak jelas bahwa masalah generasi muda bukanlah masalah dalam lingkup yang kecil dan terbatas. Generasi muda zaman ini menempati posisi strategis dan khas, karena merekalah yang paling terkena oleh perkembangan zaman, dan terlibat dalam arus zaman tersebut[3].
2.   Pembentukan Kepribadian Remaja dan Pemuda
          Kepribadian terbentuk , hidup , dan berubah seirama dengan jalannya peoses sosialisasi. Ada 4 faktor penting yang menentukan kepribadian yaitu:


1.        Keturunan (warisan biologis)
       Manusia dilahirkan dalam struktur anatomi, fisiologi dan urat sarafnya yang menentukan batas-batas tertentu dalam tingkah laku sosialnya. Batas-batas tersebut berpengaruh terhadap perkembangan sosialnya, artinya penting di dalam proses sosialisasi.
2.        Lingkungan tempat
       Lingkungan tempat manusia hidup terdiri dari lokasi, iklim, topografi, dan sumber-sumber alam. Kesemua faktor ini mempengaruhi aktifitas manusia.
3.        Tempat fisik kehidupan sosial
       Semua manusia tumbuh “dewasa” bersama-sama dengan bertambahnya pengalaman di dalam satu atau lain tempat topografi, dengan banyak dan sedikit, ada atau tidak ada aneka ragam tempat fisik seperti agraris dan nonagraris. Dengan demikian, mesti mengembangkan adat istiadat, cara hidup dan ciri kepribadian yang cocok dalam kelangsungan hidupnya.
4.        Lingkungan sosial dan budaya
       Dalam lingkungan sosial dan budaya tidak ada dua orang individu pun yang hasil bentukan sosialisasinya sama, sebab banyak perbedaan aspek sosial dan budaya seperti dalam ekspresi kebudayaan, pengetahuan atau keterampilan sosial, standar hidup dan mobilitas, kontak dari kelompok tertentu dan mobilitas sosial[4].


3.   Peran Pemuda dan Remaja dalam Pembangunan
            Pada generasi ini terdapat permasalahan yang sangat bervariasi, yang jika tidak dapat diatasi secara profesional, pemuda akan kehilangan fungsinya sebagai penerus pembangunan. Di samping menghadapi berbagai permasalahan, pemuda memiliki potensi yang melekat pada dirinya dan sangat penting artinya sebagai sumber daya manusia. Oleh karena itu, berbagai potensi positif yang dimiliki generasi muda ini harus digarap, dalam arti, dikembangkan dan dibina sehingga sesuai dengan asas, arah dan tujuan pengembangan dan pembinaan generasi muda di dalam jalur-jalur pembinaan yang tepat dan senantiasa bertumpu pada strategi tujuan pencapaian nasional, sebagaimana terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea IV[5].
“Barangsiapa Menguasai Generasi Muda, Berarti Menguasai Masa Depan Suatu Bangsa”, demikianlah bunyi suatu pepatah. Dengan mengkaji lebih dalam arti apa yang tersirat dalam pepatah itu, bararti bahwa masa  depan suatu bangsa itu terletak di tangan generasi muda. Generasi mudalah yang harus menggantikan generasi sebelumnya memimpin bangsanya.
          Peranan pemuda sehubungan dengan pembangunan dibedakan menjadi dua, yaitu :
a.      Didasarkan atas usaha pemuda untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya. Pemuda dalam hal ini dapat berperan sebagai penerus tradisi dengan jalan menaati tradisi yang berlaku. Kebudayaan diwujudkan dalam tingkah lakunya masing-masing. Usaha –usaha penyesuaian diri ini mungkin dilakukan terhadap orang-orang atau golongan-golongan yang sebenarnya justru berusaha mengubah tradisi. Hal ini tentu akan melahirkan perubahan dalam tradisi, dan dapat terjadi perubahan dalam masyarakat. Perubahan ini mengandung makna sumbangan atau sebaliknya terhadap pembangunan.
b.      Didasarkan atau usaha menolak penyesuaian diri dengan lingkungan. Peranan pemuda jenis ini dapat dirinci dalam tiga sikap, yaitu: pertama, jenis pemuda “urakan”. mereka tidak mengadakan perubahan dalam masyarakat, kebudayaan, dan yang lainnya, tetapi sekedar mencari kebebasan bagi dirinya sendiri, yaitu kebebasan menentukan kehendak diri sendiri. Kedua, jenis pemuda delinkuen atau pemuda nakal. Mereka tidak berniat mengadakan perubahan, baik pada budaya maupun terhadap masyarakat, tetapi hanya berusaha memperoleh manfaat dari masyarakat dengan melakukan tindakan yang menguntungkan bagi dirinya, sekalipun dalam kenyataan merugikan.  Ketiga, jenis pemuda radikal. Mereka berkeinginan besar mengubah masyarakat dan kebudayaan lewat cara-cara radikal, revolusioner. Kedudukan pemuda dalam masyarakat adalah sebagai makhluk moral, makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial  artinya pemuda tidak dapat berdiri sendiri, hidup bersama-sama, dapat menyesuaikan diri dengan norma-norma, kepribadian dan pandangan hidup yang dianut masyarakat. Sebagai  makhluk individual artinya tidak melakukan kebebasan yang sebesar-besarnya, disertai rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri, terhadap masyarakat, dan terhadap Tuhan Yang Maha Esa[6].
B.  Permasalahan Remaja dan Pemuda dalam Generasi nasional
1.   Karakteristik Kognitif Remaja dan Pemuda
               Karakteristik perkembangan kognitif Remaja Tahap perkembangan kognitif dimulai pada usia 11 atau 12 tahun dan terus berlanjut sampai remaja mencapai masa tenang atau dewasa (Lerner dan hustlsch,1983). Secara umum, karakteristik pemikiran remaja pada tahap operasional formal adalah diperolehnya kemampuan untuk berfikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia.
               Remaja memiliki suatu persepsi sebagai salah satu aspek kognitif manusia yang sangat penting, yang memungkinnya untuk mengetahui dan memahami dunia sekelilingnya. Tanpa persepsi yang benar, manusia mustahil dapat menangkap dan memaknai berbagai fenomena, informasi atau data yang senantiasa mengitarinya[7].
               Faktor lain adalah usia. Sudah menjadi hal alamiah bahwa dalam perputaran roda sejarah ini akan slalu terjadi kesinambungan, apa yang disebut perginya The Outgoing Generation yang tempatnya diambil alih oleh’ The Comimg Generation’. Hal itu merupakan suatu faktor alamiah yang sering memilukan karena bukan saja sering kali tidak dapat ditahan, tetapi sering kali tidak terkendali. Regenerasi merupakan proses aspiratif, atau bahkan mungkin regenerasinya menyimpang dari apa yang dicita-citakan oleh generasi yang mendahuluinya. Meskipun sebagai suatu proses budaya, hal tersebut tidak terlepas dari tanggung jawab generasi sebelumnya. Singkatnya proses regenerasi akan berjalan terus dengan variabel penentu faktor dinamika lain yang juga penting sebagai salah satu regenerasi, yaitu faktor mental-psikologis[8]
2.   Agen-Agen Sosialisasi Pembentuk Kepribadian
Ada beberapa faktor agen sosialisasi yang dapat memengaruhi perkembangan tingkah laku proposial:
1.   Orang tua
Remaja dalam pandangan ahli jiwa modern adalah salah satu masa pertumbuhan yang wajar. Diantara persoalan penting yang dihadapi oleh remaja dalam kehidupannya sehari-hari adalah interaksi dengan orang tua.  Perjuangannya secara berangsur-angsur untuk membebaskan diri dari kekuasaan orang dewasa agar dapat sampai kepada tingkat dewasa tentang kedudukan dan kebebasan[9].
Pertentangan dengan kekuasaan orang dewasa, maka pekerjaan keluarga tak ubahnya seperti pekerjaan pak polisi. Keluargalah yang mengatur rencana bagi remajanya untuk belajar berdiri sendiri pada umur muda, ia dengan itu bekerja sejauh yang dapat dilakukannya untuk memastikan kematangan individu. Bimbingan dari macam itu, hendaknya jangan sampai merupakan hal yang datang tiba-tiba, akan tetapi hendaknya datang sebagai hasil pemikiran orang tua yang sadar.
“Berdasarkan data survei, orang tua yang bekerja di luar rumah akan memicu terjadinya penurunan intensitas hubungan dengan anaknya”[10]. Dengan demikian, anak akan kurang pendidikan dan bimbingan secara moral dan etika dalam keluarga yang pada akhirnya akan menjadi pembawaan hingga masa remajanya bahkan hingga dewasa.
2.   Guru
Meskipun keluarga merupakan agen sosialisasi yang utama, sekolah pun mempunyai pengaruh signifikan terhadap tingkah laku anak. Di sekolah, guru mungkin memudahkan perkembangan tingkah laku menolong dengan menggunakan beberapa teknik. Meskipun mungkin mereka tidak selalu dapat menciptakan hubungan yang berarti dengan anak, anak-anak dapaat dilatih dan diarahkan dengan menggunakan teknik yang efektif.
3.   Televisi
Televisi bukan sekedar hiburan, dia juga merupakan agen sosialisasi yang penting. Meskipun banyak penelitian tentang pengaruh pada pengamatan tentang agresif lebih dari model tingkah laku menolong, namun sekarang ini orang mulai mengamati pengaruh televisi terhadap pengaruh tingkah laku prososial (Rushton, 1979).
Selain agen sosialisasi seperti yang telah disebutkan di atas, perkembangan tingkah laku prososial juga berkaitan erat dengan moral dan agama. Hal ini ditemukan dalam beberapa hasil penelitian, misalnya Sears, dkk (1992) menemukan bahwa aturan agama dan moral kebanyakan masyarakat menekankan kewajiban untuk menolong orang lain.
3.   Permasalahan Remaja dan Pemuda
               Menurut pola dasar pembinaan dan pengembangan generasi muda bahwa permasalahan generasi muda dapat dilihat dari beberapa aspek sosial, yakni:
1)     Sosial psikologis
     Proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian serta penyesuaian diri secara jasmaniah dan rohaniah sejak dari masa kanak-kanak sampai usia dewasa dapat dipengaruhi beberapa faktor, seperti keterbelakangan jasmani dan mental, akibat salah asuh oleh orang tua atau keluarga maupun guru-guru di lingkungan sekolah, pengaruh negatif dari lingkungan pergaulan sehari-hari oleh oleh teman sebayanya. Hambatan-hambatan tersebut memungkinkan timbulnya kenakalan remaja, ketidakpatuhan kepada orang tua dan guru, kecanduan pada narkoba dan narkotika dan lain-lain.
          Selain itu, permasalahan generasi ini disebabkan karena ketidakstabilannya dalam beragama. Berdasarkan penelitian pernah ditemukan seorang pemuda berumur 22 tahun dari salah satu Universitas mengalami kegoncangan hebat setelah hubungannya putus dengan teman wanitanya, rajin beribadah dan aktif dalam kegiatan sosial-keagamaan. Namun setelah hubungannya putus, ia merasa putus asa dan kecewa terhadap Tuhan, lalu berhenti beribadah[11].
2)       Sosial Budaya
          Pemuda perkembangannya ada dalam proses pembangunan dan modernisasi dengan segala akibat sampingnya yang bisa mempengaruhi proses pendewasaannya, sehingga apabila tidak memperoleh arah yang jelas, maka corak dan warna masa depan negara dan bangsa akan menjadi lain dari pada yang dicita-citakan. Benturan antara nilai-nilai budaya tradisional dengan nilai-nilai baru yang cenderung menimbulkan pertentangan antara sesama generasi muda dan generasi sebelumnya yang pada akhirnya akan menimbulkan perbedaan sistem nilai dan pandangan antara generasi tua dan generasi muda.
3)       Sosial ekonomi
          Pertambahan jumlah penduduk yang cepat dan belum meratanya pembangunan dan hasil-hasil pembangunan mengakibatkan makin bertambahnya pengangguran di kalangan pemuda, karena kurangnya lapangan kerja. Kurangnya lapangan kerja ini menimbulkan berbagai problema sosial serta frustasi di kalangan kaum muda. Ketidakseimbangan antara kebutuhan bagi pendidikan dan penyediaan sarana-sarana pendidikan, makin bertambahnya jumlah pemuda-pemuda putus sekolah, sementara di pihak lain anggaran pemerintah yang terbatas mengakibatkan kekurangan fasilitas bagi latihan-latihan keterampilan. Demikian juga sistem pendidikan tidak mampu menjawab tantangan kebutuhan pembangunan.
4).  Sosial politik
             Dalam kehidupan sosial politik, aspirasi pemuda berkembang dan cenderang mengikuti pola infra struktur politik yang hidup dan berkembang pada suatu periode tertentu. Akibatnya makin dirasakan bahwa di kalangan pemuda masih ada hambatan-hambatan untuk menumbuhkan suatu orientasi baru yakni pemikiran untuk menjangkau kepentingan nasional dan bangsa di atas segala kepentingan lainnya. Dirasakan belum terarahnya pendidikan politik di kalangan pemuda dan belum dihayatinya mekanisme demokrasi Pancasila merupakan lembaga-lembaga konstitusional, tertib hukum dan disiplin nasional, hal mana merupakan hambatan bagi penyaluran aspirasi generasi muda secara institusional dan konstitusional[12].
C.  Potensi Remaja dan Pemuda dalam Memecahkan Permasalahan Generasi Nasional
1.   Potensi-Potensi Generasi Muda
            Menurut pola dasar pembinaan dan pengembangan generasi muda, bahwa potensi-potensi yang ada pada pemuda dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1.   Idealisme dan daya kritik
Karena secara sosiologi generasi muda belum mapan dalam tantang yang ada, maka ia dapat melihat kekurangan dalam tantangan tersebut dan secara wajar mampu mencari gagasan baru sebagai alternatif ke arah perwujudan tatanan yang lebih baik. Pengejawatahan idealisme dan daya kritiknya perlu untuk senantiasa dilengkapi dengan landasan rasa tanggung jawab.
2.   Dinamika dan kreativitas
Karena idealisme diatas, maka generasi muda memiliki potensi kedinamisan dan kreativitas serta kemampuan dan kesedihan untuk mengadakan perubahan, pembaharuan, dan penyempurnaan kekurangan yang ada ataupun mengemukakan gagasan alternatif yang baru sama sekali.
3.   Keberanian mengambil resiko
Mengambil resiko itu adalah perlu, jika kemajuan ingin diperoleh. Generasi muda dapat dilibatkan pada usaha-usaha yang mengandung resiko. Kesiapan pengetahuan, perhitungan dan keterampilan dari generasi muda akan memberi kualitas yang baik kepada keberanian mengambil resiko ini.
4.   Optimis dan kegairahan semangat
Kegagalan tidak menyebabkan generasi muda patah semangat. Optimis dan kegairahan semangat yang dimilik generasi muda akan merupakan daya dorong untuk mencoba maju lagi.
5.   Sikap kemandirin dan disiplin murni (self dicipline)
Generasi muda memiliki keinginan untuk selalu mandiri dalam sikap dan tindakannya. Kemandirian ini perlu dilengkapi dengan kesadaran disiplin murni pada dirinya, agar demikian mereka dapat menyadari batas-batas yang wajar dan memiliki tenggang rasa.
6.   Terdidik
Walaupun dengan perhitungan faktor putus sekolah, secara menyeluruh baik dalam arti kuantitatif maupun dalam arti kualitatif generasi muda secara relatif lebih terpelajar karena terbukanya kesempatan belajar dari generasi-generasi pendahulunya.
7.   Keanekaragaman dalam persatuan bangsa
Keanekaragaman masyarakat Indonesia, dapat merupakan potensi dinamis dan kreatif jika keanekaragaman itu ditempatkan dalam integrasi nasional yang didasarkan atas semangat dan jiwa Sumpah Pemuda tahun 1928 serta kesamaan semboyang Bhineka Tunggal Ika. Sehingga dengan demikian merupakan sumber yang kaya untuk kemajuan bangsa itu sendiri. Untuk itu, tiap unsur generasi muda dapat didorong untuk menampilkan potensinya yang terbaik dan diberi peran yang jelas serta bertanggung jawab, dalam  menunjang pembangunan nasional. Pengalaman menunjukkan bahwa tiap satuan primordial/parochial pun ternyata memiliki cukup potensi yang khas dan positif dan didayagunakan lebih lanjut oleh generasi mudanya.
8.   Patriotisme dan nasionalisme
Pemupukan rasa kebanggaan, kecintaan dan turut memiliki bangsa dan negara dikalangan generasi muda perlu lebih digalakkan, pada gilirannya akan mempertebal semangat pengabdian dan negara dari segala bentuk ancaman. Dengan tekad dan semangat ini, generasi muda perlu dilibatkan dalam setiap usaha dan pemantapan ketahanan dan pertahanan nasional.
9.   Fisik kuat dan jumlah banyak
Potensi ini merupakan kenyataan sosiologis dan demografis dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembangunan yang menghendaki pengerahan tenaga yang besar, khususnya pembangunan masyarakat di daerah pedesaan.
10.   Sikap kesatria
Kemurnian idealisme, keberanian, semangat pengabdian dan pengorbanan serta rasa tanggung jawab sosial yang tinggi adalah unsur-unsur yang perlu dipupuk dan dikembangkan terus menjadi sikap kesatria dikalangan generasi muda Indonesia sebagai pembela dan penegak kebenaran dan keadilan bagi masyarakat dan bangsa.
11.   Kemampuan penguasaan ilmu dan teknologi
Generasi muda dapat berperan secara berdaya guna dalam rangka pengembangan ilmu dan teknologi bika secara fungsional dapat dikembangkan sebagai transformator dan dinamisator terhadap lingkungannya yang lebih terbelakang ilmu dan pendidikan serta penerapan teknologi, baik yang maju, madya maupun yang sederhana. Untuk itu, perlu dilengkapi dengan landasan kesadaran etika dan moralitas pancasila yang tinggi.

2.   Upaya Pemecahan Masalah Melalui Sosialisasi
            Sosialisasi adalah proses yang membantu individu melalui belajar dan penyesuaian diri, bagaimana bertindak dan berfikir agar ia dapat berperan dan berfungsi, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Proses sosialisasi sebenarnya berawal dari dalam keluarga. Namun sosialisasi ini tidak hanya terjadi pada keluarga, tapi masih ada lembaga lainnya. Cohan(1983) menyatakan bahwa lembaga-lembaga sosialisasi yang terpenting adalah keluarga,sekolah,kelompok sebaya, dan media massa. Dengan demikian sosialisi dapat berlangsung secara formal ataupun informal. Secara formal, proses sosialisi lebih teratur karena di dalamnya disajikan seperangkat ilmu pengetahuan secara teratur dan sistematis serta dilengkapi leh seperangkat norma yang tegas yang harus dipatuhi oleh setiap individu yang dilalukan secara sadar dan sengaja. Sedangkan informal, terjadi dengan tidak sengaja melalui interaksi informal.
            Ditinjau dari perkembangan individu sejak masa anak sampai dewasa, maka terdapat beberapa media sosialisasi yaitu:
1.   Orang tua atau keluarga
Dalam kehidupan barat  hubungan keluarga dan anak seolah-olah secepatnya harus berakhir dan ditanamkan agar anak bisa cepat berdiri sendiri tidak bergantung pada orang tua dan kenyataan yang demikian ini tidak terdapat dalam masyarakat Indonesia.
Perbedaan corak pola hubungan antara orang tua dan anak di atas sangat besar pengaruhnya terhadap proses sosialisasi anak. Selain itu, corak atau suasana kehidupan keluarga juga besar pengaruhnya terhadap pembentukan sikap anak kelak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suasana keluarga yang penuh prasangka akan berakibat terbentuknya sikap prasangka terhadap anak.
2.   Teman bermain
Dalam bermain dengan temannya, seorang anak mulai belajar aturan yang belm tentu sesuai dengann kebiasaan yang berlaku di rumahnya. Dalam hal ini anak dituntut untuk bersikap toleran, menghargai milik orang lain, memainkan suatu peran, dan sebagainya. Pada saat seorang anak meningkat menjadi remaja peranan teman sebaya seringkali lebih besar pengaruhnya dari pda peranan orang tua. Dalam masyarakat sering terjadi seseorang tidak dapaat mengendalikan anaknya karena akibat ikatan atau solidaritas yang sangat kuat terhadap teman sebayanya,karena menjadi acuan dalam bertingkah laku.
3.   Sekolah
Sekolah pada dasarnya merupakan lingkungan formal pertama bagi seorang anak. Melalui sekolah seorang anak dituntut berdisiplin mengikuti aturan,menerima hukuman ujian atas prestasinya dan sebagainya.
4.   Media massa
Kemajuan dalam bidang teknologi, khususnya dalam media massa menyebabkan dunia yang dulu menjadi kecil. Atas dasar kenyataan di atas maka media massa sangat penting peranannya dalam proses sosialisasi atau paling tidak melalui media massa seseorang memperoleh pengetahuan.
5.    Masyarakat
Masyarakat yang majemuk menimbulkan sulitnya sosialisasi. Hal ini disebabkan karena dalam ,masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai kelompok etnis dan aturan belum tentu satu sama lain memiliki norma yang sejalan. Apa yang dibolehkan dalam suatu kelompok, barangkali merupakan larangan dalam kelompok yang lain[13].
3.      Upaya Pemecahan Masalah Melalui Pendidikan Moral
          Betapa pentingnya pendidikan moral bagi anak-anak, dan betapa pula besarnya bahaya yang terjadi akibat kurangnya moral itu, serta telah kita ketahui pula faktor yang menimbulkan kemerosotan moral di tanah air kita belakangan ini, maka perlu kiranya kita mencari jalan yang dapat mengantarkan kita kepada terjaminnya moral anak yang kita harapkan menjadi warga negara yang cinta akan bangsa dan tanah airnya, dapat menciptakan dan memelihara ketenteraman dan kebahagiaan masyarakat dan bangsa di kemudian hari[14]. Pendidikan moral ini dapat diterapkan dalam keluarga, sekolah maupun media sosialisasi.









BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa manusia sebagai makhluk sosial khususnya bagi para remaja dan pemuda yang berfikir dibekali rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang mendorong kita untuk mengenal, memahami, dan menjelaskan hal yang bersifat alamiah, sosial, dan budaya serta manusia berusaha untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Dari dorongan rasa ingin tahu dan usaha untuk memahami masalah menyebabkan manusia dapat mengumpulkan pengetahuan.
Pengetahuan yang diperoleh remaja dan pemuda mula-mula terbatas pada hasil pengamatan terhadap gejala alam, masyarakat, dan budaya kemudian semakin bertambah dengan pengetahuan yang diperoleh dari hasil pemikirannya.
Selanjutnya dari peningkatan kemampuan daya pikirnya para remaja dan pemuda, mereka mampu melakukan segala hal untuk membuktikan dan mencari kebenaran dari sesuatu hal yang baik yang bersifat alamiah, sosial, dan budaya yang keseluruhan itu membutuhkan mental yang kuat.
B.     Kritik dan Saran
Dengan pembuatan makalah ini tidak menutut masih banyak terdapat kekurangan dan kekhilafan. Oleh karena itu  kepada para pembaca dan para pakar, penulis mengharapkan kritik dan saran konstruktif demi kesempurnaan makalah ini dan sebagai pembelajaran pembuatan makalah selanjutnya.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu, dkk. 1988. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Bina Aksara
Daradjat, Zakiah. 1977. Membina Nilai-Nilai Moral di Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang.
Daradjat, Zakiah. 1970. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Anak Didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Fahmi, Musthafa . 1977.  Kesehatan Jiwa Dalam Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat. Jakarta: Bulan Bintang.
Feisal, Amir Jusuf. 1995. Rieorientasi Pendidikan Islam. Jakarta: Gema Insani Press
Indrakusuma, Amir Daien. 1973 . Pengantar Ilmu Pendidikan . Surabaya:  Usaha Nasional.
Kama A. Hakam, Ridwan Efendi, Elly M. Setiadi. 2006. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media
Noor, Arifin. 1997. Ilmu Sosial Dasar. Bandung: Cv. Pustaka Setia
Nur Hidayati, Mawardi. 2002.  Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, dan Ilmu Budaya Dasar. Bandung: Cv. Pustaka setia



[1]Desmita,  Psikologi Perkembangan Anak Didik. (Cet.I; Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2009), h. 37
[2]Abu Ahmadi, dkk. Ilmu Sosial Dasar (Cet.I;. Jakarta: Bina Aksara. 1988),  h. 114-115
[3]M. Arifin Noor. Ilmu Sosial Dasar. (Cet.II; Bandung: Pustaka Setia. 1997),  h.113

[4]Abu Ahmadi, dkk. Ilmu Sosial Dasar (Cet.I;. Jakarta: Bina Aksara. 1988), h.140-141

[5] Mawardi- Nur Hidayati.  Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, dan Ilmu Budaya Dasar (Cet.II; Bandung:  Pustaka setia.  2002),  h.225

[6] Abu Ahmadi, dkk. Ilmu Sosial Dasar (Cet.I;. Jakarta: Bina Aksara. 1988), h.114-136
[7]Desmita. Psikologi Perkembangan Anak Didik. (Cet.I; Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2009), h.107-116

[8]Jusuf Amir Feisal. Rieorientasi Pendidikan Islam.  (Cet.I; Jakarta: Gema Insani Press. 1995), h. 339
[9]Musthafa Fahmi. Kesehatan Jiwa Dalam Keluarga, Sekolah, Dan Masyarakat (Cet.V; Jakarta: Bulan Bintang. 1977), h.105
[10]Elly M. Setiadi, Kama A. Hakam, Ridwan Efendi. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (Cet. VI; Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2006), h. 129
[11] Zakiah Daradjat. Ilmu Jiwa Agama. (Cet.I; Jakarta: Bulan Bintang . 1970), h. 148
[12]Op cit. H. 122-125
[13]M. Arifin Noor. Ilmu Sosial Dasar. (Cet.II; Bandung: Pustaka Setia. 1997), h.103-125
[14] Zakiah Daradjat. Membina Nilai-Nilai Moral di Indonesia (Cet.IV; Jakarta: Bulan Bintang. 1977), h. 19

No comments:

Post a Comment

makalah-makalah dan tugas power point (ppt): Metode Kajian Hadis

makalah-makalah dan tugas power point (ppt): Metode Kajian Hadis : BAB I PENDAHULUAN A.   Latar Belakang Petunjuk-petunjuk agama men...