POLA PENDIDIKAN ISLAM
A. Pendahuluan
Pendidikan Islam merupakan
suatu hal yang paling utama bagi warga suatu negara, karena maju dan
keterbelakangan suatu negara akan ditentukan oleh tinggi dan rendahnya tingkat
pendidikan warga negaranya.
Salah satu bentuk pendidikan
yang mengacu kepada pembangunan tersebut yaitu pendidikan agama adalah modal
dasar yang merupakan tenaga penggerak yang tidak ternilai harganya bagi
pengisian aspirasi bangsa, karena dengan
terselenggaranya pendidikan agama secara baik
akan membawa dampak terhadap pemahaman dan pengamalan ajaran agama.
Pendidikan Islam bersumber
kepada al-Quran dan Hadis adalah untuk
membentuk manusia yang seutuhnya yakni manusia yang beriman dan bertagwa
terhadap Allah Swt, dan untuk memelihara nilai-nilai kehidupan sesama manusia
agar dapat menjalankan seluruh kehidupannya , sebagaimana yang telah ditentukan
Allah dan Rasul-Nya, demi kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. atau dengan
kata lain , untuk mengembalikan manusia kepada fitrahnya, yaitu memanusiakan
manusia ,supaya sesuai dengan kehendak Allah
yang menciptakan sebagai hamba dan khalifah di muka bumi.
Manusia adalah makhluk yang selalu merindukan
kesempurnaan, oleh karena itu dengan segala potensi yang dimilikinya, manusia
berusaha maju dan berkembang untuk mencapai kesempurnaannya itu. Manusia setiap
saat membutuhkan belajar dari lingkungan atau alam semesta dan juga diperlukan
pengaruh dari luar yang oleh Slamet Imam Santoso disebut dengan istilah
pendidikan.[1]
Dengan demikian jelaslah bahwa proses
kependidikan merupakan rangkaian usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup
manusia dan kemampuan belajar yang dilandasi oleh nilai-nilai islami. Berbicara
masalah sejarah pendidikan Islam, paling tidak ada dua hal yang perlu
diperhatikan tentang rumusan sejarah pendidikan Islam.
Cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan
pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam sejak zaman Nabi Muhmmad SAW
sampai sekarang. Pendidikan Islam mulai dilaksanakan Rasulullah setelah mendapat
perintah dari Allah melalui firmannya QS. 74 : 1-7, langkah awal yang ditempuh
oleh Nabi adalah menyeru keluarganya, sahabat-sahabanya, tetangga dan
masyarakat luas.
Pada masa Nabi, Negara Islam meliputi seluruh
jazirah Arab dan pendidikan Islam berpusat di Madinah, setelah Rasulullah wafat
kekuasaan pemerintahan Islam dipegang oleh Khulafaurrasyidin dan wilayah Islam
telah meluas di luar jazirah Arab. Para khalifah ini memusatkan perhatiannya
kepada pendidikan, syiarnya agama dan kokohnya Negara Islam.
Apa dan bagaimana pola pendidikan yang
diterapkan oleh para khulafaurrasyidin pada masanya, sehingga dapat dijadikan
perbandingan terhadap proses pendidikan pada masa sekarang. Makalah yang
sederhana ini akan mencoba mengupas persoalan tersebut.
B. Pembahasan
1. Masa
khalifah Abubakar Siddiq (632-634)
Setelah Nabi wafat, sebagai pemimpin umat Islam
adalah Abu Bakar as-Siddiq sebagai khalifah. Khalifah adalah pemimpin yang
diangkat setelah Nabi wafat untuk menggantikan nabi dan melanjutkan tugas-tugas
sebagai pemimpin agama dan pemerintahan.[2]
Masa awal kekhalifahan Abu Bakar diguncang
pemberontakan oleh orang-orang murtad, orang-orang yang mengaku sebagai nabi
dan orang-orang yang enggan membayar zakat. Berdasarkan hal ini Abu Bakar
memusatkan perhatiannya untuk memerangi para pemberontak yang dapat mengacaukan
keamanan dan mempengaruhi orang-orang Islam yang masih lemah imannya untuk
menyimpang dari ajaran Islam. Dengan demikian dikirmlah pasukan untuk menumpas
para pemberontak di Yamamah. Dalam
penumpasan ini banyak umat Islam yang gugur, yang terdiri dari sahabat dekat
Rasulullah dan para hafizh al-Qur’an, sehingga mengurangi jumlah sahabat yang
hafal al-Qur'an. Oleh karena itu Umar ibn khatab menyarankan kepada Khalifah
Abubakar untuk mengumpulkan ayat-ayat al-Qur'an, kemudian untuk merealisasikan
saran tersebut diutuslah Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan semua tulisan
al-Qur'an. Pola pendidikan pada masa Abu Bakar masih seperti pada masa Nabi,
baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya.[3]
Dari segi materi pendidikan Islam terdiri dari
pendidikan tauhid atau keimanan, akhlak, ibadah, kesehatan dan lain sebagainya.
1.
Pendidikan keimanan
yaitu menanamkan bahwa satu-satunya yang wajib disembah adalah Allah.
2.
Pendidikan akhlak
seperti adab masuk rumah orang, sopan santun bertetangga, bergaul dalam
masyarakat dan lain sebagainya.Pendidikan ibadah seperti pelaksanaan shalat
puasa dan haji.
3.
Kesehatan seperti
tentang kebersihan, gerak gerik dalam shalat merupakan didikan untuk memperkuat
jasmani dan rohani.[4]
Menurut Ahmad Syalabi, lembaga untuk belajar
membaca menulis ini disebut dengan kuttaab.[5]
Kuttab merupakan lembaga pendidikan yang dibentuk setelah mesjid, selanjutnya
Asama Hasan Fahmi mengatakan bahwa kuttab didirikan oleh orang-orang Arab pada
masa Abu Bakar[6]
dan pusat pembelajaran pada masa ini adalah Madinah, sedangkan yang bertindak
sebagai tenaga pendidik adalah para sahabat rasul yang terdekat. Lembaga
pendidikan Islam adalah masjid, mesjid dijadikan sebagai benteng pertahanan
rohani, tempat pertemuan dan lembaga pendidikan Islam, sebagai tempat shalat
berjamaah, membaca al-Qur'an dan lain sebagainya.
Berdasarkan uraian diatas, penulis berkesimpulan
bahwa pelaksanaan pendidikan Islam pada masa khalifah Abu Bakar ini adalah sama
dengan pendidikan Islam yang dilaksanakan pada masa Nabi baik matei maupun
lembaga pendidikannya.
2. Masa
Umar bin Khatab (13-23 H : 634-644 M)
Sesuai dengan kedudukan
manusia sebagai makhluk yang mulia, fikiran, perasaan dan kemampuan berbuat,
merupakan komponen dari kemuliaan dan
kesempurnaan yang melengkapi ciptaan
(kejadian) manusia. Firman Allah Swt:
لقد خلقناالا نسان فى أحسن تقويم (التين ,
95 :4 )
Sesungguhnya Kami telah menciptakan
manusia dalam bentuk sebaik-baiknya . ( QS : 95 :4)
Abu Bakar telah menyaksikan persoalan yang
timbul dikalangan kaum muslimin setelah nabi wafat, berdasarkan hal inilah Abu
Bakar menunjuk penggantinya yaitu Umar bin Khatab, yang tujuan adalah untuk
mencegah supaya tidak terjadi perselisihan dan perpecahan dikalangan umat
Islam, kebijakan Abu Bakar tersebut ternyata diterima masyarakat.[7]
Pada masa khalifah Umar bin khatab, kondisi politik dalam keadaan stabil, usaha
perluasan wilayah Islam memperoleh hasil yang gemilang. Wilayah Islam pada masa
Umar bin khatab meliputi semenanjung Arabia, Palestina, Syiria, Irak, Persia
dan Mesir.[8]
Dengan meluasnya wilayah Islam mengakibatkan
meluas pula kehidupan dalam segala bidang. Untuk memenuhi kebutuhan ini
diperlukan manusia yang memiliki keterampilan dan keahlian, sehingga dalam hal
ini diperlukan pendidikan.
Pada masa khalifah Umar bin Khatab,
sahabat-sahabat yang sangat berpengaruh tidak diperbolehkan untuk keluar daerah
kecuali atas izin dari khalifah dan dalam waktu yang terbatas. Jadi kalau ada
diantaa umat Islam yang ingin belajar hadis harus perdi ke Madinah, ini berarti
bahwa penyebaran ilmu dan pengetahuan para sahabat dan tempat pendidikan adalah
terpusat di Madinah.[9]
Dengan meluasnya wilayah Islam sampai keluar
jazirah Arab, nampaknya khalifah memikirkan pendidikan Islam didaerah-daerah
yang baru ditaklukkan itu. Untuk itu Umar bin Khatab memerintahkan para
panglima perangnya, apabila mereka berhasil menguasai satu kota, hendaknya
mereka mendirikan Mesjid sebagai tempat ibadah dan pendidikan.[10]
Berkaitan dengan masalah pendidikan ini,
khalifah Umar bin Khatab merupakan seorang pendidik yang melakukan penyuluhan
pendidikan di kota Madinah, beliau juga menerapkan pendidikan di mesjid-mesjid
dan pasar-pasar[11]
serta mengangkat dan menunjuk guru-guru untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukkan
itu, mereka bertugas mengajarkan isi al-Qur'an dan ajaran Islam lainnya seperti
fiqh kepada penduduk yang baru masuk Islam.
Diantara sahabat-sahabat yang ditunjuk oleh Umar
bin Khatab ke daerah adalah Abdurahman bin Ma’qal dan Imran bin al-Hashim.
Kedua orang ini ditempatkan di Basyrah. Abdurrahman bin Ghanam dikirim ke
Syiria dan Hasan bin Abi Jabalah dikirim
ke Mesir. Adapun metode yang mereka pakai adalah guru duduk dihalaman
mesjid sedangkan murid melingkarinya.[12]
Dari hal diatas penulis berpendapat bahwa yang
menjadi pendidik adalah Umar dan para sahabat-sahabat besar yang lebih dekat
kepada Rasulullah dan memiliki pengaruh yang besar, sedangkan pusat
pendidikannya selain Madinah adalah Mesir, Syiria dan Basyrah.
Meluasnya kekuasaan Islam, mendorong kegiatan
pendidikan Islam bertambah besar, karena mereka yang beru menganut agama Islam
ingin menimba ilmu keagamaan dari sahabat-sahabat yang menerima langsung dari
Nabi. Pada masa ini telah terjadi mobilitas penuntut ilmu dari daerah-daerah
yang jauh dari Madinah, sebagai pusat agama Islam. Gairah menuntut ilmu agama
Islam ini yang kemudian mendorong lahirnya sejumlah pembidangan disiplin
keagamaan. [13]
Pada masa khalifah Umar bin Khatab, mata
pelajaran yang diberikan adalah membaca dan menulis al-Qur'an dan menghafalnya
serta belajar pokok-pokok agama Islam. Pendidikan pada masa Umar bin Khatab ini
lebih maju dibandingkan dengan sebelumnya. Pada masa ini tuntutan untuk belajar
bahasa Arab juga sudah mulai tampak, orang yang baru masuk Islam dari daerah
yang ditaklukkan harus belajar bahasa Arab, jika ingin belajar dan memahami
pengetahuan. Islam. Oleh karena itu pada masa ini sudah terdapat pengajaran
bahasa Arab.[14]
Berdasarkan hal diatas penulis berkesimpulan
bahwa pelaksanaan pendidikan dimasa khalifah umar bin khatab lebih maju, sebab
selama Umar memerintah Negara berada dalam keadaan stabil dan aman, ini
disebabkan, disamping telah ditetapkannya mesjid sebagai pusat pendidikan, juga
telah terbentuknya pusat-pusat pendidikan Islam diberbagai kota dengan matei
yang dikembangkan, baik dari segi ilmu bahasa, menulis dan pokok ilmu-ilmu
lainnya. Pendidikan dikelola dibawah pengaturan gubernur yang berkuasa saat
itu, serta diiringi kemajuan diberbagai bidang, seperti jawatan pos,
kepolisian, baitul mal dan sebagainya. Adapun sumber gaji para pendidik pada
waktu itu diambilkan dari daerah yang ditaklukan dan dari baitul mal.
3. Masa
Khalifah Usman bin Affan (23-35 H : 644 – 656M)
Nama lengkapnya adalah Usman ibn Abil Ash ibn
Umaiyah. Beliau masuk Islam atas seruan Abu Bakar Siddiq.[15]
Usman bin Affan adalah termasuk saudagar besar dan kaya dan sangat pemurah
menafkahkan kekayaannya untuk kepentingan umat Islam. Usman diangkat menjadi
khalifah hasil dari pemilihan panitia enam yang ditunjuk oleh khalifah Umar bin
Khatab menjelang beliau akan meninggal.[16]
Panitia yang enam adalah : Usman, Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair bin
Awwam, Saad bin Abi Waqash dan Abdurrahman bin’Auf.[17]
Pada masa Khalifah Usman bin Affan, pelaksanaan
pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Pendidikan dimasa
ini hanya melanjutkan apa yang telah ada, namun hanya sedikit terjadi perubahan
yang mewarnai pendidikan Islam. Para sahabat yang berpengaruh dan dekat dengan
Rasulullah yang tidak diperbolehkan meninggalkan Madinah di masa khalifah Umar,
diberikan kelonggaran untuk keluar dan menetap didaerah-daerah yang mereka
sukai. Kebijakan ini sangat besar pengaruhnya bagi pelaksanaan pendidikan di
daerah-daerah.
Proses pelaksanaan pola pendidikan pada masa
Usman ini lebih ringan dan lebih mudah dijangkau oleh seluruh peserta didik
yang ingin menuntut dan belajar Islam dan dari segi pusat pendidikan juga lebih
banyak, sebab pada masa ini para sahabat bisa memilih tempat yang mereka
inginkan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat.
Khalifah Usman sudah merasa cukup dengan
pendidikan yang sudah berjalan, namun begitu ada satu saha yang cemerlang yang
telah terjadi dimasa ini yang berpengaruh luar biasa bagi pendidikan Islam
yaitu untuk mengumpulkan tulisan-tulisan ayat-ayat al-Qur'an. Penyalinan ini terjadi
kaena perselisihan dalam bacaan al-Qur'an. Berdasarkan hal ini, khalifah Usman
memerintahkan kepada tim untuk penyalinan tersebut, adapun tim tersebut adalah
:
One.
Zaid
bin Tsabit
Two.
Abdullah
bin Zubair
Three. Zaid bin Ash
Four.
Abdurrahman
bin Harist
Bila terjadi pertikaian bacaan, maka harus
diambil pedoman kepada dialek suku Quraisy, sebab al-Qur'an ini diturunkan
menurut dialek mereka sesuai dengan lisan Quraisy, karena al-Qur'an diturunkan
dengan lisan Quraisy. Zaid bin Tsabit bukan orang Quraisy sedangkan ketiganya
adalah orang Quraisy.
Tugas mendidik dan mengajar umat pada masa Usman
bin Affan diserahkan pada umat itu sendiri, artinya pemerintah tidak mengangkat
guru-guru, dengan demikian para pendidik sendiri melaksanakan tugasnya hanya
dengan mengharapkan keridhaan Allah.
Bahwa
pada masa khalifah Usman bin Affan tidak banyak terjadi perkembangan
pendidikan, kalau dibandingkan dengan masa kekhalifahan Umar bin Khatab, sebab
pada masa khalifah Usman urusan pendidikan diserahkan saja kepada rakyat. Dan
apabila dilihat dari segi kondisi pemerintahan Usman banyak timbul pergolakan
dalam masyarakat sebagai akibat ketidaksenangan mereka terhadap kebijakan Usman
yang mengangkat kerabatnya dalam jabatan pemerintahan.
4. Masa
Khalifah Ali bin Abi Thalib (35-40 H : 656-661 M)
Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib adalah
putra dari paman Rasulullah dan suami dari Fatimah anak Rasulullah. Ali bin Abi
Thalib diasuh dan dididik oleh Nabi, Ali terkenal sebagai anak-anak yang
mula-mua beriman kepada Rasulullah.[18]
Ali adalah khalifah yang keempat setelah Usman
bin Affan. Pada pemerintahannya sudah digoncang dengan peperangan dengan Aisyah
(istri Nabi) beserta Talhah dan Abdullah bin Zubair karena kesalah pahaman
dalam menyikapi pembunuhan terhadap Usman, peperangan diantara mereka disebut
perang Jamal (unta) karena Aisyah menggunakan kendaraan unta. Setelah berhasil
mengatasi pemberontakan Aisyah, muncul pemberontakan lain, sehingga masa
kekuasaan khalifah Ali tidak pernah mendapatkan ketenangan dan kedamaian.[19]
Muawiyah sebagai gubernur di Damaskus
memberontak untuk menggulingkan kekuasaannya. Peperangan ini disebut dengan
peperangan Shiffin, karena terjadi di Shiffin. Ketika tentara muawiyah terdesak
oleh pasukan Ali, maka Muawiyah segera mengambil siasat untuk menyatakan Tahkim
(penyelesaian dengan adil dan damai). Semula Ali menolak, tetapi karena desakan
sebagagian tentaranya akhirnya Ali menerimanya, namun Tahkim malah menimbulkan
kekacauan, sebab Muawiyah bersifat curang, sebab dengan tahkim Muawiyah
berhasik mengalahkan Ali dan mendirikan pemerintahan tandingan di Damaskus.
Sementara itu sebagian tentara yang menentang keputusan Ali dengan cara Tahkim,
meninggalkan Ali dan membuat kelompok tersendiri yaitu khawarij. [20]
Berdasarkan uraian diatas penulis berkesimpulan
bahwa pada masa Ali telah terjadi kekacauan dan pemberontakan, sehingga dimasa
ia berkuasan pemerintahannya tidak stabil. Dengan kericuhan politik pada masa
Ali berkuasa, kegiatan pendidikan Islam mendapat hambatan dan gangguan. Pada
saat itu Ali tidak sempat lagi memikirkan masalah pendidikan sebab keseluruhan
perhatiannya ditumpahkan pada masalah keamanan dan kedamaian bagi masyarakat
Islam. Dengan demikian pola pendidikan pada masa khulafaurrasyidin tidak jauh
berbeda dengan masa Nabi yang menekan pada pengajaran baca tulis dan
ajaran-ajaran Islam yang bersumber pada al-Qur'an dan Hadist Nabi.
C. Pusat-Pusat Pendidikan pada Masa Khulafaurrasyidin
Pusat-pusat pendidikan pada masa
Khulafaurrasyidin adalah antara lain :
a. Mekah
Guru
pertama di Mekkah adalah Muaz bin Jabal yang mengajarkan al-Qur'an dan fiqh.
b. Madinah
Sahabat
yang terkenal diantara lain, Abu Bakar, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan
sahabat-sahabat lainnya.
c. Basrah
Sahabat
yang termasyhur antara lain : Abu Musa
al-Asy’ary, dia adalah seorang ahli fiqh dan al-Qur'an.
d. Kuffah
Sahabat-sahabat
yang termasyhur disini adalah Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud.
Abdullah bin Mas’ud mengajarkan al-Qur'an, ia adalah ahli tafsir, hadis dan
fiqh.
e. Damsyik (Syam)
Setelah
Syam (Syiria) menjdai bagian negara Islam dan penduduknya banyak beragama
Islam. Maka khalifah Umar mengirim tiga orang guru kenegara itu. Yang dikirim
itu adalah Mu’az bin Jabatl, Ubaidah dan Abu Darda’. Ketiga sahabat ini
mengajar di Syam pada tempat yang berbeda. Abu Darda’ di Damsyik, Mu’az bin
Jabal di Palestina dan Ubaidah di Hims.
f. Mesir
Sahabat
yang mula-mula mendirikan madrasah dan menjadi guru di Mesir adalah Abdullah
bin Amru bin Ash, ia adalah seorang ahli hadis.
C. Kesimpulan
Pendidikan pada masa khalifah Abu Bakar tidak
jauh berbeda dengan pendidikan pada masa Rasulullah. Pada masa khalifah Umar
bin Khatab, pendidikan sudah lebih meningkat dimana pada masa khalifah Umar
guru-guru sudah diangkat dan digaji untuk mengajar ke daerah-daerah yang baru
ditaklukan.
Pada masa khalifah Usman bin Affan, pendidikan
diserahkan pada rakyat dan sahabat tidak hanya terfokus di Madinah saja tetapi
sudah dibolehkan ke daerah-daerah untuk mengajar.
Pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib,
pendidikan kurang mendapat perhatian, ini disebabkan pemerintahan Ali selalu
dilanda konflik yang berujung kepada kekacauan.
DAFTAR PUSTAKA
Asrohah, Hanum, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Wacana
Ilmu, 2001
Djojosuwarno, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam,
Jakarta : Bulan Bintang,t.th
Imam Santoso, Selamet, Pendidikan di Indonesia dari Masa
ke Masa, Jakarta : Masagung, 1987
Langgulung, Hasan, Filsafat Pendidikan Islam, terj.
Jakarta : Wacana Ilmu, 2001
Supardi, Mohammad, Konsep Pendidikan dalam al-Qur'an,
Jakarta : Penebat Salam 2001.
Syalaby, Ahmad, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta :
al-Husna Zikra, 2000
_________, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta : Bulan
Bintang, 1973
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Wacana Ilmu, 2001
Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta :
Hidakarya Agung, 1989
[1]Slamet Imam Santoso, Pendidikan di Indonesia dari
masa kemasa, (Mas Agung, Jakarta, 1987). H. 52
[2]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada, 2001) h. 36
[3]Hanun Asrohah, Sejarah
Peradaban Islam, (Jakarta,
Wacana Ilmu 2001) h. 36
[4]Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta,
Hidayakarya Agung, 1989) h. 18
[5] Ibid
[6]Asama Hasan Fahmi,
Sejarah dan Fulsafat Pendidikan Islam, (Jakarta,
Bulan Bintang t.th) h. 30
[7]Badri
Yatim, op.cit, h.37
[8]
Hanum Asrohah, op.cit, h. 17
[9]Sukarno dan Ahmad Supardi, Sejarah dan Fulsafat
Islam, (Bandung,
Angkasa t.th) h 51
[10]Hanun
Asrohah, Loc.cit
[11]Muhammad Syadid, Konsep Pendidikan dalam
al-Qur'an, terj. (Jakarta
: Penebar Salam, 2001) h. 37
[12]Karsidjo Djojosuwarno, Life of Omar the Geat,
terjemahan (Bandung,
1981) h. 387
[13]Hanum
Asrobab,op.cit, h. 18
[14]Ibid
[15]Ahmad Syalaby, Sejarah Kebudayaan Islam, al-husna
Zikra (Jakarta,2000)
h.266
[16]Ibid
[17]Ibid
[19]Hanum
Asrobah,op.cit., h.21
[20]Ibid
No comments:
Post a Comment