MAKALAH
SUMBER-SUMBER AJARAN TASAWUF
A.
Pendahuluan
Puji syukur kehadirat Allah, yang telah mengilhami para
salaf sufiyah dengan ilmu ihsannya yang dewasa ini berwujud menjadi ilmu
tasawuf, sebagai bukti buat kita bahwa apapun yang Allah kehendaki jadi, pasti
jadilah ia. Sholawat beriring salam semoga tersampaikan khusus kepada Nabi
Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul rujukan kedua setelah Allah bagi para sufi
dalam mempelajari, mendalami dan mengembangkan ilmunya di jagat Allah ini.
Agama islam ialah agama yang sempurna, yang didalamnya
mengatur berbagai hal yang terkait dengan perjalanan manusia. Baik itu
berhubungan dengan Syari’ah. Ibadah, Akhlak, Muamalah, Pendidikan, hubungan
dengan Allah, dan ketinggian nilai-nilai kemanusiaan, semuanya diatur dalam
ajaran islam. Begitupun juga halnya dengan tasawuf yang telah ada sejak dahulu
hingga sekarang.
Dalam makalah yang cukup singkat ini penulis akan membahas
tentang Sumber-sumber Ilmu Tasawuf yang dianggap penting untuk
mengetahui apa yang para sufi jadikan dasar sehingga mereka mengamalkan Ilmu
Tasawuf tersebut. Namun dalam hal ini yang penulis maksudkan dengan sumber
disini adalah: landasan, dasar, pondasi, tempat berpijak, yang dengannya pasa
sufi mempelajari, mendalami, dan mengembangkan ilmunya dalam kehidupan dijagat
Allah ini.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa saja sumber ajaran Tasawuf dalam perspektif Islam?
2. Bagaimana
sumber – sumber ajaran Tasawuf dalam
perspektif Orientalis
Barat?
C. Pembahasan
1.
Sumber Ajaran Tasawuf dalam perspektif Islam
a.
Al-Qur’an (ayat-ayat Allah)
Sebelum kita masuk ke dalam
pembahasan tentang ayat-ayat al-Qur’an tentang tasawuf, kami akan mengemukakan
beberapa definisi al-Qur’an. Menurut Dr. Muhammad Yusuf Musa al-Qur’an ialah
kitab suci yang diturunkan kepada Muhammad SAW
dan disampaikan kepada kita secara mutawatir. Sedangkan
menurut istilah ahli Syara’ al-Qur’an ialah wahyu dari Allah SWT yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat bagi beliau, wahyu itu
diturunkan dalam bahasa arab dan disampaikan kepada masyarakat secara mutawatir,
baik dengan lisan maupun tulisan, dan orang yang membacanya mendapat pahala
dari Allah SWT..
Sebagai sumber ajaran agama islam,
al-Qur’an menghadirkan ayat-ayat yang berhubungan dengan tasawuf, mulai dari
ayat yang berhubungan dengan ajaran yang
sangat mendasar dalam tasawuf sampai kepada ayat yang berhubungan dengan
maqamat dan ahwal. Di
bawah ini akan diuraikan beberapa ayat yang berhubungan dengan ajaran tasawuf.
Firman Allah SWT dalam surah al-Anfal ayat 17, yaitu
وَمَا
رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى (الأنفال : ١۷ )
Artinya: tidaklah engkau yang melempar ketika engkau
melempar, melainkan Allah-lah yang melempar.
Menurut pendapat kaum sufi, ayat ini
adalah dasar yang kuat sekali dalam hidup kerohanian ( tasawuf ). Beberapa soal
besar dalam tingkat-tingkat perjuangan kehidupan dapat disimpulkan dalam ayat
ini. Yang melempar bukanlah Nabi Muhammad, melainkan Tuhan. Gerak dan gerik
tidak pada kita, melainkan dari Allah. Kita bergerak dalam kehidupan ini
hanyalah pada lahir belaka. Tidak ada yang terjadi jika tidak ada izin dari
Allah. Seorang hamba Allah dengan Tuhannya, hanya laksana sebuah Qalam dalam
tangan seorang penulis. Menulis karena digerakan saja. Yang dituliskan tidak
lain dari pada kehendak si penulis.
Selanjutnya, paham bahwa Tuhan dekat
dengan manusia, merupakan ajaran dasar dari tasawuf. Hal ini sesuai dengan
firman Allah:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ
دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي
لَعَلَّهُمْ يَرْشدونَ(البقرة : ١٨٦)
Artinya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu
tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan
permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah
mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. ( QS. al-Baqarah: 186).
b.
As Sunnah (Rasulullah)
Rasul merupakan sumber kedua setelah
Allah bagi para sufi dalam mendalami dan pengambangkan ilmunya, karena hanya
kepada Rasul sajalah Allah menitipkan wahyuNya. Tentulah Rasul pula yang lebih
banyak tahu tentang sesuatu yang tersirat dibalik yang tersurat dalam
Al-Qur’an. Selain itu rosul pulalah satu-satunya manusia yang sempurna dalam
segala hal, Beliau adalah insan panutan bagi semua umat manusia terutama kaum
sufi yang senantiasa mencoba meniru semua kelakuan Rasulullah dengan
sebaik-baiknya.
Seperti sebelum Nabi diangkat
menjadi rasul, berhari-hari ia mengasingkan diri di Gua Hira, terutama pada
saat bulan Ramadhan. Beliau menjauhi pola hidup kebendaan yang pada waktu itu
diagung-agungkan oleh orang arab yang tengah tenggelam di dalamnya, seperti
peraktek pedagangan dengan perinsip mengalahkan segala cara. Selama di Gua Hira, Rasulullah hanyalah
bertafakur, beribadah, dan hidup sebagai seorang zahid. Beliau hidup sangat
sederhana, terkadang mengenakan pakaian tambalan, tidak makan atau minum
kecuali yang halal, dan setiap malam senantiasa beribadah kepada Allah SWT.,
sehingga siti Aisyah bertanya, “mengapa engkau berbuat begini, ya Rasulullah
padahal Allah senantiasa mengampuni dosamu?” Rasulullah menjawab “apakah
engkau tidak menginginkanku menjadi hamba yang bersyukur kepada Allah? “.
Selain dari itu di dalam hadits
Rasulullah banyak dijumpai keterangan yang berbicara tentang kehidupan rohaniah
manusia yang dapat difahami dengan pendekatan tasawuf, seperti hadits;
من عرف نفسه فقد عرف ربه
Artinya: “Barangsiapa yang mengenal dirinya sendiri
berarti ia mengenal tuhannya.”
لا يزال العبد يتقرب الي بالنوافل حتى أحبه فاءذا أحببته كنت
سمعه الذي يسمع وبصره الذي يبصربه ولسانه الذي ينطق به ويده الذي يبطش بها ورجله
الذي يمشى بها فبي يسمع فبي يبصر وبي ينطق وبي يعقل وبي يبطش وبي يمشى
Artinya: “senantiasa seorang hamba itu mendekatkan diri
kepadaku dengan amalan-amalan sunnah sehingga aku mencintainya. Maka tatkala
mencintainya, jadilah aku pendengarnya yang dia pakai untuk melihat dan
lidahnya yang dia pakai untuk berbicara dan tangannya yang dia pakai untuk
mengepal dan kakinya yang dia pakai untuk berusaha; maka dengan-Ku-lah dia
mendengar, melihat, berbicara, berfikir, meninjau dan berjalan.”
Semua keterangn tersebut ada pada
diri rasulullah yang oleh para sufi dijadikan sebagai sumber kedua dari ilmu
tasawuf setelah Allah SWT.
c.
Ijma’ Sufi
Ijma’ Sufi (kesepakatan para ‘ulama tasawuf) merupakan esensi yang sangat
penting dalam ilmu tasawuf, karenanya mereka dijadikan sebagai sumber yang ke
tiga dalam ilmu tasawuf setelah Al-Qur’an Dan Al-Hadits.
d.
Ijtihad Sufi
Dalam kesendiriannya, para sufi banyak menghadapi pengalaman aneh,
pengalaman itu sebagai alat pembeda antara kepositifan dengan kenegatifan dalam
pengalaman itu. Maka diperlukan ijtihad bagi setiap sufi sebagai sumber yang ke
4 dalam ilmu tasawuf, jika belum ditemukan dalam Qur’an, Hadits maupun ijma’
sufi.
e. Qiyas Sufi
Qiyas merupakan penghantar sufi
untuk dapat berijtihad secara mandiri jika sedang terpisah dari jama’ahnya,
maka qiyas ditempatkan pada sumber ke lima dalam ilmu tasawuf.
2.
Sumber Ajaran Tasawuf dalam
perspektif Orientalis Barat
Dikalangan para
orientalis barat bisanya dijumpai pendapat yang mengatakan bahwa sumber yang
membentuk tasawuf itu ada lima, yaitu unsur Islam, unsur masehi (Agama
Nasrani), unsur Yunani, unsur Hindu/Budha dan unsur Persia.
a.
Unsur Islam
Secara umum ajaran Islam mengatur kehidupan yang bersifat lahiriyah atau
jasadiyah, dan kehidupan yang bersifat batiniyah. Pada unsure kehidupan yang
bersifat batiniyah itulah kemudian lahir tasawuf. Unsur kehidupan tasawuf ini
mendapat perhatian yang cukup besar dari sumber ajaran Islam, Al-Quran dan
As-Sunnah praktek kehidupan Nabi dan para sahabatnya, ijma’, ijtihad, serta
Qiyas.
b.
Unsur Masehi
Orang Arab sangat menyukai cara kependetaan, khususnya dalam hal latihan
jiwa dan ibadah. Atas dasar ini tidak mengherankan jika Von Kromyer berpendapat
bahwa tasawuf adalah buah dari unsure Agama Nasrani yang terdapat pada zaman
jahiliyah. Hal ini diperkuat oleh Gold Ziher yang mengatakan bahwa sikap pakir
dalam Islam adalah merupakan cabang dari Agama Nasrani. Unsur-unsur tasawuf yang
di duga mempengaruhi tasawuf Islam adalah sikap fakir. Menurut keyakinan
Nasrani bahwa Isa bin Maryam adalah seorang fakir.
c.
Unsur Yunani
Kebudayaan Yunani yaitu filsafatnya telah masuk pada dunia dimana
perkembangannya dimulai pada akhir daulah Umayah dan puncaknya pada daulah
Abbasiyah, metode berfikir filsafat Yunani ini juga telah ikut mempengaruhi
pola berfikir sebagian orang Islam yang ingin berhubungan dengan Tuhan. Kalau
pada bagian uraian dimulai perkembangan tasawuf ini baru dalam taraf amaliyah
(akhlak) dalam pengaruh filsafat Yunani ini maka uraian-uraian tentang tasawuf
itupun telah berubah menjadi tasawuf filsafat.
Tetapi dengan munculannya filsafat
aliran Neo Platonis menggambarkan, bahwa hakikat yang tertinggi hanya dapat
dicapai lewat yang diletakkan Tuhan pada hati setiap hamba setelah seseorang
itu membersihkan dirinya dari pengaruh Ungkapan Neo Platonis: kenalilah dirimu
dengan dirimu.
d. Unsur Hindu/Budha
Antara tasawuf dan sisitem kepercayaan Agama Hindu/Budha dapat dilihat adanya hubungan seperti sikap fakir. Al birawi mencatat
bahwa ada persamaan antara cara ibadah dan mujahadah tasawuf dengan Hindu
kemudian pula paham renkarnasi (perpindahan roh dari satu badan ke badan yang
lain), cara kelepasan dari dunia persis Hindu/Budha dengan persatuan diri
dengan jalan mengingat Allah. Salah satu maqamat sufiyah al fana tampaknya ada
persamaan dengan ajaran tentang nirwana dalam agama Hindu.
e. Unsur Persia
Sebenarnya
antara Arab dan Persia itu sudah ada hubungan semenjak lama yaitu hubungan
dalam bidang politik, pemikiran, kemasyarakatan, dan sastra. Akan tetapi
belum ditemukan dalil yang kuat yang menyatakan bahwa kehidupan rohani Persia
telah masuk ke tanah Arab. Yang jelas adalah kehidupan kerohanian Arab masuk ke
Persia itu terjadi melalui ahli-ahli tasawuf di dunia ini.
Tasawuf atau mengenakan pakaian wol. Adalah nama gerakan
yang mendominasi pikiran dan hati kaum muslim selama seribu tahun, dan masih
kuat tertanam dalam banyak kalangan di dunia muslim. Tasawuf memelihara jiwa
mereka, menyucikan hati mereka, dan memenuhi kerinduhan mereka akan kesalehan,
kebajikan, kebenaran, dan kedekatan dengan tuhan. Tasawuf tumbuh, berkembang
dan dengan cepat bergerak kesetiap penjuru dunuia muslim. Tasawuflah yang
membuat berjuta-juta orang masuk islam. Selain melahirkan sejumlah Negara
militan dan gerakan sosiopolitis, tasawuf menjadi penyebab kemunduran kekuatan
muslim. Tasawuf menjadi penyebab penukaran pengetahuan rasional kaum muslim
dengan pengetahuan takhayul. Ia menjadi penyebab bagi kaum muslim untuk
mengabaikan dunia dan memperhatikan akherat. Tasawuf merupakan gerakan yang
walaupun besar kebaikannya juga besar keburukannya dalam sejarah peradaban
Islam.
Tiga aliran pemikiran bebas mengisi ajaran tasawuf dan
menentukan isi serta karakternya. Pertama,Islam membawa asketisisme
gurun, suatu keengganan terhadap kehidupan urban dan menetap yang mewah,
al-qur’an dan bacaannya, puisi arab dan doa kesalehan untuk memuji Tuhan,
dan cinta kepada Tuhan serta kehadiran Ilahiah-Nya yang ditekankan Islam
menciptakan tradisi kewalian sebagai pengabdian mutlak kepada-Nya dan Nabi-Nya.
Kesalehan asketis ini menentang keterlibatan penuh dalam urusan duniawi.
Kesalehan ini mendapat teladan dalam kehidupan para sahabat Nabi, Abu Dzarr
Al-Ghifari ( 31/652), pemerintah khalifah Umawi, ‘Umar bin ‘abdul ‘aziz, dan
perilaku alimAl-Hasan Al-Bashr (109/728). Kesalehan tasawuf tampaknya menguasai
kehidupan Abu Hasyim Al-Kufi (158/776) sepenuhnya. Ia menghabiskan sebagian
besar waktunyabersembahyang dan berdo’a di Masjid Kufah. Visi tasawuf
mengilhami puisi Rabi’ah Al-‘Adawiyyah (184/801). Rabi’ah mengajarkan cinta
kepada Tuhan yang suci dan murni karena cemas akan hukuman atau rindu akan
pahala.
Kedua,
gnostisisme Aleksandrian dan Hellenisme Pythagorean, yang mempengaruhi Yudaisme
dan Kristianitas, menguasai Timur Dekat selama seribu tahun sebelum datangnya
Islam. Ketika rakyat Timur Dekat dan Afrika Utara masuk Islam, Adalah wajar
bila kiasan dan gagasan gnostik terbawa dalam muatan spiritual mereka.
Dialektika ruh dan materi cahaya dan gelap, langit tinggi dan bumi yang rendah merasuk
ke mana-mana. Dua pemikir Mesir yang terpengaruh gnostisisme Hellenis
mengarahkanarus ini untuk memadukan muatannya dengan muatan cinta asketis
kepada Tuhan dalam aliran pribumi Arabia: Al-Harits bin Asad Al-Muhasibi
(222/838) dan Dzun Nun Al-Mishri (246/861). Yang pertama mengajarkan doktrin
kebenaran melalui pencerahan (isyraq), dan yang kedua mengajarkan kerinduan dan
kemungkinan penyatuan kembali dengan Tuhan dalam ruh. Ini menyusul kenaikan
melalui kebajikan dan perenungan.
Ketiga, sebagai
agama dominan dari sebagian besar provinsi di Asia yang dikuasai Islam,
Buddhisme segera menjalankan pengaruhnya. Pengutukan Buddhisme terhadap dunia
ini, dukungannya yang total terhadap kehidupan biarawan dan pertapaan,
menemukan sarana pengungkapannya pada diri Ibrahim bin Al-Adham (159/777).
Seperti dikatakan pengikutnya kemudian, kehidupan Ibrahim tak berbeda dengan
kehidupan Buddha. Ibrahim berasal dari keluarga bangsawan, seorang pangeran
yang berkuasa di Balkh. Ia tiba-tiba memutuskan meninggalkan kedudukan dan
hartanya, keluarganya dan orang-orang yang dicintainya, untuk menjalani
kehidupan asketis menyendiri di masjid, senantiasa berdzikir dan berdo’a,
mengabaikan makanan dan segala isi dunia. Abu Yazid Al-Bisthami (260/875)
mengemukakan gagasan Hindu-Buddha Nirwana sebagai tujuan (baqo’) kehidupan yang
menyangkal-diri dan merendahkan diri (fana’). Gagasan Hellenis dan Buddha
beredar di dunia Muslim sebagai makna asing, sampai Junayd Al-Baghdadi
(296/910) memadukannya dengan aliran cinta Tuhan asketis Arab. Ia memberinya
istilah-istilah Islam atau Qurani. Untuk selanjutnya, tuga aliran ini bersatu
dan mengalir bagai sungai besar.
Kaum sufi, atau penganut tasawuf, melengkapi diri mereka
dengan suatu aturan. Mereka melembagakan suatu ideologi , organisasi, program,
dan ritus inisiasi serta pemujaan untuk aturan itu. Pada masa Al-Kufi dan Ibn
Al-Adham, masjid merupakan tempat dimana praktik sufi berlangsung. Segera kaum
sufi mengembangkan praktik ini diluar waktu-waktu shalat sehingga tidak
mengganggu shalat kaum non-sufi. Mereka memilih tempat terpisah yang jauh dari
gangguan. Dengan demikian zawiyah, takiyyah, atau ribath lahir sebagai lembaga
yang terpisah dari masjid. Di sini, kaum sufi melewatkan hari-hari mereka dan
sebagian besar malam mereka dengan shalat, berdo’a, berdzikir kepada Allah.
Mereka makan sedikit , hanya memakai selembar pakaian wol, dan menjadikan
lantai sebagai alas tidur merek, yang jauh dari kenikmatan dan kenyamanan
rumah. Bersama mereka membentuk tarekat, suatu komunitas otonom, yang terpisah
dari umat. Meskipun tarekat terbuka bagi siapa saja, tetapi ada syarar-syarat
tertentu untuk menjadi anggota. Syarat tersebut antara lain: (1) keputusan
untuk bergabung harus benar-benar disadari secara pribadi; semua harta-harta
harus ditinggalkan; untuk tarekat, atau untuk keluarga atau orang miskin,
sehingga anggota ini akan bebas dari keterikatan dengan benda-benda duniawi;
(3) kepatuhan total merupakan keharusan, terutama kepada sesepuh atau syaikh,
guru tarekat, organisasi atau persaudaraan, dan kepada orang yang diutus
olehnya. (4) Setiap anggota baru harus melewati masa percobaan. Setelah masa
ini, calon anggota ditahbiskan menjadi anggota dan diberikan pakaian wol biru.
sementara semua sufi mempraktikkan ritual sufisme,
masing-masing tarekat melembagakan pengaturan ritualnya sendiri. Yang pertama
dan yang lazim adalah ritual zikir. Ritual ini terdiri dari doa dan wirid
berulang yang terkadang cepat dan sederhana , dengan menyebut satu nama
Allah.
Tasawuf bertanggung jawab atas warisan besar literature
dalam bahasa Arab dan bahasa Muslim lainnya. Kaum sufi melantunkan tema-tema
puisi mereka dalam syair yang sangat indah. Mereka memuja tuhan dan memohon
rahmat serta pertolongan-nya dengan sajak yang menyentuh hati. Di antara para
penyair, yang paling dihormati adalah Ibn Al- Faridh (632/1235), Sa’di, Hafizh,
dan Jalaluddin Ar-Rumi, Yang Matsnawi-nya merupakan ensklopedi pengetahuan
keagamaan dan etika.
Sejak tasawuf berkembang dalam umat, dan diterima oleh
pemikir dari setiap bidang pengetahuan, maka warisan pemikiran dan litelaturnya
semakin bertambah banyak.
Pembaharuan tasawuf Al-Ghazali yaitu upaya menahan gerakan
yang sudah wataknya melebih-lebihkan itu tak berhasil, walaupun pengaruhnya
yang luar biasa. Gerakan mistisisme menjadi sulit dikendalikan dan tidak
dominan lagi. Umat mengalami kemunduran, yang selama dua abad terakhir ini
mereka berupaya keras mengatasi kemunduran ini. Alih-alih tetap mendisiplinkan
manusia untuk mematuhi Tuhan dan menjalankan syariat, memperdalam komitmenya
terhadap Islam dan enyucikan serta mengangkat jiwanya pada jalan kebenaran,
tasawuf menjadi penyakit yang menyebabkan atau bahkan memperburuk gejala-gejala
berikut:
a. Kasyf (pencerahan gnostik) mengantikan engetahuan.
Di bawah tasawuf, dunia Muslim meninggalkan komitmennya untuk mencari
pengetahuan ilmiah yang rasional, dengan upaya mendapatkan visi pengalaman
mistis.
b. Karamah (Mukjizat kecil), yang diajarkan tasawuf
hanya mungkin dalam keadaan penyatuan komuni dengan Tuhan.
c. Ta’abbud, kerelan ntk meninggalkan aktivitas social
dan ekonomi untuk melakukan ibadah spiritualistic sepenuhnya, dan komitmen
untuk mencurahkan segenap energy untuk berzikir menjadi tujuan utama.
d. Tawakal, kepasrahan total pada factor sprit untuk
melahirkan hasil-hasil empiris.
e. Qismat, penyetujuan secara sembunyi-sembunyi dan
pasif terhadap hasil tindakan dari kekuatan dialami yang berubah-ubah ynag mengantikan
taklif.
f. Fana’ dan Adam, bukan relitas efemeralitas dan
ketidak pentinggan dunia, mengantikan keseriusan muslim menyangkut eksistensi.
g. Taat, kepatuhan mutlak dan total kepada Syaikh dari
salah satu tarekat sufi menggantikan tauhid, pengakuan bahwa tak ada tuhan
kecuali Allah.
5.Tasawuf
Islam Sebagai Subyek Pengaruh
Perdebatan
sengit yang terjadi antara Max Horten Cs. yang menyatakan unsur Hindu ke dalam
tasawuf Islam dengan Arberry dan A. Schimmel, yang sangat agresif membantah dan
mematahkan argumentasi mereka, menjadi cukup ironis setelah kita mendengar
pernyataan dari pihak Hindu sendiri. Tarachand, salah seorang sejarawan Hindu
yang cukup terkenal telah menulis dalam bukunya "Influence of Islam on
India Culture", bahwa tasawuf Islam lah yang sebenarnya telah mempengaruhi
tasawuf Hindu sejak abad I H.
Lebih
lanjut ia menyatakan bahwa Islam adalah agama dakwah dan semua pemeluknya
adalah para da'i yang menyerukan risalah Islamiah. Dari situlah, berkembang
pesat Islam menelusuri pantai barat India yang berdampak logis pada terjadinya
integrasi dan pengkristalan nilai-nilai Islam terhadap ajaran Hindu. Kalau
dikomparasikan dengan ajaran Kristen, maka Kristen hanya sedikit sekali
andilnya dalam mempengaruhi ajaran Hindu. Bahkan, boleh jadi tidak sama sekali.
Tasawuf
Islam semula diklaim habis-habisan sebagai obyek pengaruh ajaran dari masyriq
sampai maghrib, tetapi ternyata klaim tersebut tidak lebih dari sekedar
kamuflase untuk menutupi aib mereka. Statemen ini bisa dibuktikan dengan
pernyataan Nicholson, bahwa dalam bidang sufisme dan psikologi, Barat telah
banyak mengambil dari Islam.
Bidang
sufi adalah termasuk yang paling banyak diadopsi oleh Barat. Dalam buku
"History of The Arabs", Philip Hitti seorang sejarawan, mengatakan
bahwa kitab Ihya 'Ulum al-Dien salah satu kitab tasawuf Islam telah banyak
mempengaruhi para pemikir Yahudi dan Kristen pada masa pertengahan.
Satu bukti
lagi, seperti yang dikatakan Arberry bahwa Raymond Lull dalam beberapa
tulisannya telah banyak dipengaruhi oleh analisa sufisme Islam. Dan sejarah pun
membuktikan bahwa para tokoh sufisme Kristen seperti Goethe, Dante, ST.
Acquinas, serta Echart yang tergabung dalam kelompok Agustus juga telah
dipengaruhi oleh sufisme Islam. Lebih lanjut, bukti-bukti ini banyak dikupas
oleh Mr. Idris Syah dalam bukunya "The Sufis".
6. Hakekat Tasawuf Islam
Setelah
menelusuri beberapa kajian sumber tasawuf Islam dalam versi orientalis yang
penuh dengan pro dan kontra, maka penulis mencoba mempresentasikan hakekat
sumber tasawuf Islam dari visi Islam sendiri. Dari upaya ini diharapkan dapat
membersihkan asumsi utopian yang dilancarkan oleh kebanyakan orientalis. Dalam
bukunya "Al-Tasawuf al-Islamy", Dr. M. Abdullah Al-Syarqawi telah
memberikan empat point pendekatan untuk menguji keaslian tasawuf Islam sebagai
produk risalah Islamiah.
Pendekatan
tersebut adalah, pertama, spesialisasi tasawuf sebagai etika dan moral dalam
Islam. Pembatasan ini juga telah diketemukan oleh Ibn Qoyim dalam kitabnya
"Madarij al-Salikin" yang didukung oleh Al-Kattani dengan
statemennya, "Tasawuf Islam adalah etika. Jika etikamu bertambah (bagus),
maka bertambahlah kebersihan jiwamu." Seiring dengan zaman yang selalu
bergulir, para sufi telah merumuskan etika agama ini menjadi suatu disiplin
ilmu yang berdiri sendiri.
Disiplin
ilmu ini yang mulai berkembang sejak abad III Hijriah dan kita kenal sampai
sekarang dengan istilah ilmu Tasawuf Islam. Ilmu ini, menurut pendapat yang
mu'tabar, pertama kali dikembangkan oleh Abu Yazid Al-Busthami yang diteruskan
oleh muridnya Al-Junaid.
Sosiolog
muslim Ibn Khaldun telah menyatakan secara definitif bahwa ilmu tasawuf adalah
ilmu syar'i kontemporer dalam agama yang asal-usulnya dari para sahabat, tabiin
dan para ulama setelahnya. Sedang menurut DR. Taftazani ilmu tasawuf adalah
ilmu syar'i yang awal pembentukan konsepnya bersumber kepada Al-Qur’an dan
Al-Sunnah.
Tesis-tesis
ini cukup beralasan karena pada dasarnya secara global Risalah Islamiah telah
meliputi empat dimensi, yaitu; aqidah, hukum ibadah, hukum mu'amalah, dan etika
(akhlak). Bisa dibuktikan bagaimana Rasulullah banyak mengkorelasikan antara
keimanan dan etika dalam hadits-haditsnya, misalnya: “Yang paling sempurna
keimanan orang-orang mu'min adalah yang paling bagus etika mereka."
(Al-Hadits).
Dalam
disiplin ilmu tasawuf tersebut, telah dirumuskan konsep tentang merambah jalan
Allah (suluk) yang diawali dengan taubat (mujahadah al-nafs), demikian juga
konsep "al-ahwal wa al-maqamat".
Pengertian
maqam di sini lebih dipersepsikan sebagai posisi antara seorang hamba
diha-dapan Tuhannya yang diaplikasikan dalam bentuk ibadah, mujahadah dan
riyadhah. Bisa dicontohkan maqam di sini seperti; taubat, zuhud, wara', faqir,
sabar, ridha, tawakkal dan seterusnya. Sedangkan bentuk-bentuk ahwal adalah
seperti; muraaqabah, qurb, mahabbah, khauf, rajaa, syauq, thuma'niinah,
musyaahadah, yaqiin dan seterusnya.
Bagi
umumnya umat Islam dan kaum sufi khususnya, tidak asing lagi bahwa semua konsep
yang ada dalam al-ahwal wa al-maqamat telah disandarkan pada Al-Qur’an dan
Al-Sunnah. Mereka menyandarkan mujahadah al-nafs dengan QS. Al Ankabut :
69, Al Nazi'at :40-41, Yusuf:53, maqam taqwa dengan QS. Al Hujurat: 13, maqam
zuhud dengan QS. Al-nisa:77 dan Al- Hasyr:9, maqam tawakkal dengan QS. Al-
Thalaaq:3 dan Al-Taubah:51, maqam syukur dengan QS. Ibrahim:7, maqam shabr
dengan QS. Al-Nahl:127 dan Al-Baqarah:100, maqam ridha dengan QS. Al-
Maaidah:119, hal mahabbah dengan QS. Al-Maaidah:40, maqam ma'rifat dengan QS.
Al-Baqarah:282 dan Al-Kahfi:65, hal khauf dengan QS. Al-Sajdah:16, hal rajaa
dengan QS. Al-Ankabut:5 dan sebagainya.
D. Kesimpulan
Tasawuf adalah salah satu dari
ajaran islam. Inti dari ajaran tasawuf ialah mendekatkan diri kepada Allah
dengan melalui tahapan-tahapan (ajaran)Nya yaitu maqamat dan ahwal.
Ajaran-ajaran tasawuf ini bersumber dari al-Qur’an.
Adapun
perspektif Dikalangan para orientalis barat biasanya dijumpai pendapat yang
mengatakan bahwa sumber yang membentuk tasawuf itu ada lima, yaitu unsur Islam,
unsur masehi (Agama Nasrani), unsur Yunani, unsur Hindu/Budha dan unsur Persia. 1. Tasawuf tumbuh, berkembang
dan dengan cepat bergerak kesetiap penjuru dunuia muslim. Tasawuflah yang
membuat berjuta-juta orang masuk islam. Selain melahirkan sejumlah Negara
militan dan gerakan sosiopolitis, tasawuf menjadi penyebab kemunduran kekuatan
muslim. Tasawuf menjadi penyebab penukaran pengetahuan rasional kaum muslim
dengan pengetahuan takhayul. Ia menjadi penyebab bagi kaum muslim untuk
mengabaikan dunia dan memperhatikan akherat. Tasawuf merupakan gerakan yang
walaupun besar kebaikannya juga besar keburukannya dalam sejarah peradaban
Islam.
2. tasawuf berkembang dalam umat, dan diterima oleh
pemikir dari setiap bidang pengetahuan, maka warisan pemikiran dan litelaturnya
semakin bertambah banyak.
3. Tasawuf secara etimologi berasal dari saff, safa’,
suffah al-masjid dan suf. Tasawuf mempunyai banyak definisi, satu definisi yang
mungkin bisa mewakili adalah kesadaran murni yang mengarahkan jiwa kepada amal
yang sungguh-sungguh, menjauhkan diri dari kehidupan duniawi untuk endekatkan
diri kepada Allah.
E. Penutup
Demikianlah
makalah yang dapat kami sampaikan, apabila ada kekurangan dan kesalahan kami
minta maaf serta dengan tulus hati kami
menerima saran dan kritik yang bersifat konstruktif. Akhir kata, semoga
bermanfaat dan menambah khazanah bagi kita semua. Amiin.
Daftar Pustaka
Syukur, Amin, Menggugah Tasawuf, pustaka pelajaran
jakarta 1999
Nasution, Harun, Islam ditinjau dari berbagai aspek,
Jilid II, Jakarta: UI Prees, 1979
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1995,
Hal. 660
Isma’il R. Al-Faruqi, Lois Lamya
Al-Faruqi, Atlas Budaya Islam Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, Mizan,
2003, Bandung, Hal. 326-336.
Dr. Abu al
Wafa Al Taftazani, Madkhal Ila Al -Tasawuf al-Islamy, Dar Al-Tsaqafah, Mesir
tahun 1979.
Dr. M.
Mustafa Hilmy, Al Hayat al-Ruhiyah Fii al-Islam, Hai'ah al- Mashriah al- 'Ammah
Li al-Kitab, Mesir 1984.
Ibn
Khaldun, Al-Muqaddimah, Nasyrah al -Mishriah, Mesir, tanpa tahun.
Dr.
Abdullah Syarqawy, Al-Tasawuf al-Islamy, Mathba'ah al-Madinah, Mesir, 1993.
Prof. Dr.
Abdul Halim Mahmud, Qadhiah al -Tasawuf al-Munqidz Min al-Dhalal, Dar
Al-Ma'arif, Mesir, 1988.
Dr. Abdul
Rahman Badawy, Tarikh al-Tasawuf al-Islamy, Wakalah Mathba'ah, Kuwait, 1970.
No comments:
Post a Comment