Thursday, March 3, 2016

Makalah : Tasawuf dalam Persfektif Islam



MAKALAH
                                             SUMBER-SUMBER AJARAN TASAWUF

A.    Pendahuluan
Puji syukur kehadirat Allah, yang telah mengilhami para salaf sufiyah dengan ilmu ihsannya yang dewasa ini berwujud menjadi ilmu tasawuf, sebagai bukti buat kita bahwa apapun yang Allah kehendaki jadi, pasti jadilah ia. Sholawat beriring salam semoga tersampaikan khusus kepada Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul rujukan kedua setelah Allah bagi para sufi dalam mempelajari, mendalami dan mengembangkan ilmunya di jagat Allah ini.
Agama islam ialah agama yang sempurna, yang didalamnya mengatur berbagai hal yang terkait dengan perjalanan manusia. Baik itu berhubungan dengan Syari’ah. Ibadah, Akhlak, Muamalah, Pendidikan, hubungan dengan Allah, dan ketinggian nilai-nilai kemanusiaan, semuanya diatur dalam ajaran islam. Begitupun juga halnya dengan tasawuf yang telah ada sejak dahulu hingga sekarang.
Dalam makalah yang cukup singkat ini penulis akan membahas tentang Sumber-sumber Ilmu Tasawuf yang dianggap penting untuk mengetahui apa yang para sufi jadikan dasar sehingga mereka mengamalkan Ilmu Tasawuf tersebut. Namun dalam hal ini yang penulis maksudkan dengan sumber disini adalah: landasan, dasar, pondasi, tempat berpijak, yang dengannya pasa sufi mempelajari, mendalami, dan mengembangkan ilmunya dalam kehidupan dijagat Allah ini.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja sumber ajaran Tasawuf dalam perspektif Islam?
2.      Bagaimana sumber – sumber ajaran Tasawuf dalam  perspektif Orientalis Barat?





C.    Pembahasan
1.    Sumber Ajaran Tasawuf dalam perspektif Islam
a.       Al-Qur’an (ayat-ayat Allah)
Sebelum kita masuk ke dalam pembahasan tentang ayat-ayat al-Qur’an tentang tasawuf, kami akan mengemukakan beberapa definisi al-Qur’an. Menurut Dr. Muhammad Yusuf Musa al-Qur’an ialah kitab suci yang diturunkan kepada Muhammad SAW  dan disampaikan kepada kita secara mutawatir. Sedangkan menurut istilah ahli Syara’ al-Qur’an ialah wahyu dari Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat bagi beliau, wahyu itu diturunkan dalam bahasa arab dan disampaikan kepada masyarakat secara mutawatir, baik dengan lisan maupun tulisan, dan orang yang membacanya mendapat pahala dari Allah SWT..
    Sebagai sumber ajaran agama islam, al-Qur’an menghadirkan ayat-ayat yang berhubungan dengan tasawuf, mulai dari ayat yang berhubungan dengan  ajaran yang sangat mendasar dalam tasawuf sampai kepada ayat yang berhubungan dengan maqamat dan ahwal. Di bawah ini akan diuraikan beberapa ayat yang berhubungan dengan ajaran tasawuf.
Firman Allah SWT dalam surah al-Anfal ayat 17, yaitu

وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى (الأنفال : ١۷            )
Artinya: tidaklah engkau yang melempar ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang melempar.
Menurut pendapat kaum sufi, ayat ini adalah dasar yang kuat sekali dalam hidup kerohanian ( tasawuf ). Beberapa soal besar dalam tingkat-tingkat perjuangan kehidupan dapat disimpulkan dalam ayat ini. Yang melempar bukanlah Nabi Muhammad, melainkan Tuhan. Gerak dan gerik tidak pada kita, melainkan dari Allah. Kita bergerak dalam kehidupan ini hanyalah pada lahir belaka. Tidak ada yang terjadi jika tidak ada izin dari Allah. Seorang hamba Allah dengan Tuhannya, hanya laksana sebuah Qalam dalam tangan seorang penulis. Menulis karena digerakan saja. Yang dituliskan tidak lain dari pada kehendak si penulis.
Selanjutnya, paham bahwa Tuhan dekat dengan manusia, merupakan ajaran dasar dari tasawuf. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشدونَ(البقرة : ١٨٦)
Artinya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. ( QS. al-Baqarah: 186).
b.      As Sunnah (Rasulullah)
Rasul merupakan sumber kedua setelah Allah bagi para sufi dalam mendalami dan pengambangkan ilmunya, karena hanya kepada Rasul sajalah Allah menitipkan wahyuNya. Tentulah Rasul pula yang lebih banyak tahu tentang sesuatu yang tersirat dibalik yang tersurat dalam Al-Qur’an. Selain itu rosul pulalah satu-satunya manusia yang sempurna dalam segala hal, Beliau adalah insan panutan bagi semua umat manusia terutama kaum sufi yang senantiasa mencoba meniru semua kelakuan Rasulullah dengan sebaik-baiknya.
Seperti sebelum Nabi diangkat menjadi rasul, berhari-hari ia mengasingkan diri di Gua Hira, terutama pada saat bulan Ramadhan. Beliau menjauhi pola hidup kebendaan yang pada waktu itu diagung-agungkan oleh orang arab yang tengah tenggelam di dalamnya, seperti peraktek pedagangan dengan perinsip mengalahkan segala cara. Selama di Gua Hira, Rasulullah hanyalah bertafakur, beribadah, dan hidup sebagai seorang zahid. Beliau hidup sangat sederhana, terkadang mengenakan pakaian tambalan, tidak makan atau minum kecuali yang halal, dan setiap malam senantiasa beribadah kepada Allah SWT., sehingga siti Aisyah bertanya, “mengapa engkau berbuat begini, ya Rasulullah padahal Allah senantiasa mengampuni dosamu?” Rasulullah menjawab “apakah engkau tidak menginginkanku menjadi hamba yang bersyukur kepada Allah? “.
Selain dari itu di dalam hadits Rasulullah banyak dijumpai keterangan yang berbicara tentang kehidupan rohaniah manusia yang dapat difahami dengan pendekatan tasawuf, seperti hadits;
من عرف نفسه فقد عرف ربه
Artinya: “Barangsiapa yang mengenal dirinya sendiri berarti ia mengenal tuhannya.”
لا يزال العبد يتقرب الي بالنوافل حتى أحبه فاءذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع وبصره الذي يبصربه ولسانه الذي ينطق به ويده الذي يبطش بها ورجله الذي يمشى بها فبي يسمع فبي يبصر وبي ينطق وبي يعقل وبي يبطش وبي يمشى
Artinya: “senantiasa seorang hamba itu mendekatkan diri kepadaku dengan amalan-amalan sunnah sehingga aku mencintainya. Maka tatkala mencintainya, jadilah aku pendengarnya yang dia pakai untuk melihat dan lidahnya yang dia pakai untuk berbicara dan tangannya yang dia pakai untuk mengepal dan kakinya yang dia pakai untuk berusaha; maka dengan-Ku-lah dia mendengar, melihat, berbicara, berfikir, meninjau dan berjalan.”
Semua keterangn tersebut ada pada diri rasulullah yang oleh para sufi dijadikan sebagai sumber kedua dari ilmu tasawuf setelah Allah SWT.
c.       Ijma’ Sufi
Ijma’ Sufi (kesepakatan para ‘ulama tasawuf) merupakan esensi yang sangat penting dalam ilmu tasawuf, karenanya mereka dijadikan sebagai sumber yang ke tiga dalam ilmu tasawuf setelah Al-Qur’an Dan Al-Hadits.
d.      Ijtihad Sufi
Dalam kesendiriannya, para sufi banyak menghadapi pengalaman aneh, pengalaman itu sebagai alat pembeda antara kepositifan dengan kenegatifan dalam pengalaman itu. Maka diperlukan ijtihad bagi setiap sufi sebagai sumber yang ke 4 dalam ilmu tasawuf, jika belum ditemukan dalam Qur’an, Hadits maupun ijma’ sufi.
e.       Qiyas Sufi
    Qiyas merupakan penghantar sufi untuk dapat berijtihad secara mandiri jika sedang terpisah dari jama’ahnya, maka qiyas ditempatkan pada sumber ke lima dalam ilmu tasawuf.
2.    Sumber Ajaran Tasawuf dalam perspektif Orientalis Barat
Dikalangan para orientalis barat bisanya dijumpai pendapat yang mengatakan bahwa sumber yang membentuk tasawuf itu ada lima, yaitu unsur Islam, unsur masehi (Agama Nasrani), unsur Yunani, unsur Hindu/Budha dan unsur Persia.
a.        Unsur Islam
Secara umum ajaran Islam mengatur kehidupan yang bersifat lahiriyah atau jasadiyah, dan kehidupan yang bersifat batiniyah. Pada unsure kehidupan yang bersifat batiniyah itulah kemudian lahir tasawuf. Unsur kehidupan tasawuf ini mendapat perhatian yang cukup besar dari sumber ajaran Islam, Al-Quran dan As-Sunnah praktek kehidupan Nabi dan para sahabatnya, ijma’, ijtihad, serta Qiyas.
b.       Unsur Masehi
Orang Arab sangat menyukai cara kependetaan, khususnya dalam hal latihan jiwa dan ibadah. Atas dasar ini tidak mengherankan jika Von Kromyer berpendapat bahwa tasawuf adalah buah dari unsure Agama Nasrani yang terdapat pada zaman jahiliyah. Hal ini diperkuat oleh Gold Ziher yang mengatakan bahwa sikap pakir dalam Islam adalah merupakan cabang dari Agama Nasrani. Unsur-unsur tasawuf yang di duga mempengaruhi tasawuf Islam adalah sikap fakir. Menurut keyakinan Nasrani bahwa Isa bin Maryam adalah seorang fakir.
c.        Unsur Yunani
Kebudayaan Yunani yaitu filsafatnya telah masuk pada dunia dimana perkembangannya dimulai pada akhir daulah Umayah dan puncaknya pada daulah Abbasiyah, metode berfikir filsafat Yunani ini juga telah ikut mempengaruhi pola berfikir sebagian orang Islam yang ingin berhubungan dengan Tuhan. Kalau pada bagian uraian dimulai perkembangan tasawuf ini baru dalam taraf amaliyah (akhlak) dalam pengaruh filsafat Yunani ini maka uraian-uraian tentang tasawuf itupun telah berubah menjadi tasawuf filsafat.
 Tetapi dengan munculannya filsafat aliran Neo Platonis menggambarkan, bahwa hakikat yang tertinggi hanya dapat dicapai lewat yang diletakkan Tuhan pada hati setiap hamba setelah seseorang itu membersihkan dirinya dari pengaruh Ungkapan Neo Platonis: kenalilah dirimu dengan dirimu.
d.      Unsur Hindu/Budha
Antara tasawuf dan sisitem kepercayaan Agama Hindu/Budha dapat dilihat adanya hubungan seperti sikap fakir. Al birawi mencatat bahwa ada persamaan antara cara ibadah dan mujahadah tasawuf dengan Hindu kemudian pula paham renkarnasi (perpindahan roh dari satu badan ke badan yang lain), cara kelepasan dari dunia persis Hindu/Budha dengan persatuan diri dengan jalan mengingat Allah. Salah satu maqamat sufiyah al fana tampaknya ada persamaan dengan ajaran tentang nirwana dalam agama Hindu.
e.       Unsur Persia
Sebenarnya antara Arab dan Persia itu sudah ada hubungan semenjak lama yaitu hubungan dalam bidang politik, pemikiran, kemasyarakatan, dan sastra.  Akan tetapi belum ditemukan dalil yang kuat yang menyatakan bahwa kehidupan rohani Persia telah masuk ke tanah Arab. Yang jelas adalah kehidupan kerohanian Arab masuk ke Persia itu terjadi melalui ahli-ahli tasawuf di dunia ini.
          
3.  Konteks Lahirnya pemikiran tasawuf (Mistisisme)
Tasawuf atau mengenakan pakaian wol. Adalah nama gerakan yang mendominasi pikiran dan hati kaum muslim selama seribu tahun, dan masih kuat tertanam dalam banyak kalangan di dunia muslim. Tasawuf memelihara jiwa mereka, menyucikan hati mereka, dan memenuhi kerinduhan mereka akan kesalehan, kebajikan, kebenaran, dan kedekatan dengan tuhan. Tasawuf tumbuh, berkembang dan dengan cepat bergerak kesetiap penjuru dunuia muslim. Tasawuflah yang membuat berjuta-juta orang masuk islam. Selain melahirkan sejumlah Negara militan dan gerakan sosiopolitis, tasawuf menjadi penyebab kemunduran kekuatan muslim. Tasawuf menjadi penyebab penukaran pengetahuan rasional kaum muslim dengan pengetahuan takhayul. Ia menjadi penyebab bagi kaum muslim untuk mengabaikan dunia dan memperhatikan akherat. Tasawuf merupakan gerakan yang walaupun besar kebaikannya juga besar keburukannya dalam sejarah peradaban Islam.
Tiga aliran pemikiran bebas mengisi ajaran tasawuf dan menentukan isi serta karakternya. Pertama,Islam membawa asketisisme gurun, suatu keengganan terhadap kehidupan urban dan menetap yang mewah, al-qur’an dan bacaannya, puisi  arab dan doa kesalehan untuk memuji Tuhan, dan cinta kepada Tuhan serta kehadiran Ilahiah-Nya yang ditekankan Islam menciptakan tradisi kewalian sebagai pengabdian mutlak kepada-Nya dan Nabi-Nya. Kesalehan asketis ini menentang keterlibatan penuh dalam urusan duniawi. Kesalehan ini mendapat teladan dalam kehidupan para sahabat Nabi, Abu Dzarr Al-Ghifari ( 31/652), pemerintah khalifah Umawi, ‘Umar bin ‘abdul ‘aziz, dan perilaku alimAl-Hasan Al-Bashr (109/728). Kesalehan tasawuf tampaknya menguasai kehidupan Abu Hasyim Al-Kufi (158/776) sepenuhnya. Ia menghabiskan sebagian besar waktunyabersembahyang dan berdo’a di Masjid Kufah. Visi tasawuf mengilhami puisi Rabi’ah Al-‘Adawiyyah (184/801). Rabi’ah mengajarkan cinta kepada Tuhan yang suci dan murni karena cemas akan hukuman atau rindu akan pahala.
Kedua, gnostisisme Aleksandrian dan Hellenisme Pythagorean, yang mempengaruhi Yudaisme dan Kristianitas, menguasai Timur Dekat selama seribu tahun sebelum datangnya Islam. Ketika rakyat Timur Dekat dan Afrika Utara masuk Islam, Adalah wajar bila kiasan dan gagasan gnostik terbawa dalam muatan spiritual mereka. Dialektika ruh dan materi cahaya dan gelap, langit tinggi dan bumi yang rendah merasuk ke mana-mana. Dua pemikir Mesir yang terpengaruh gnostisisme Hellenis mengarahkanarus ini untuk memadukan muatannya dengan muatan cinta asketis kepada Tuhan dalam aliran pribumi Arabia: Al-Harits bin Asad Al-Muhasibi (222/838) dan Dzun Nun Al-Mishri (246/861). Yang pertama mengajarkan doktrin kebenaran melalui pencerahan (isyraq), dan yang kedua mengajarkan kerinduan dan kemungkinan penyatuan kembali dengan Tuhan dalam ruh. Ini menyusul kenaikan melalui kebajikan dan perenungan.
Ketiga, sebagai agama dominan dari sebagian besar provinsi di Asia yang dikuasai Islam, Buddhisme segera menjalankan pengaruhnya. Pengutukan Buddhisme terhadap dunia ini, dukungannya yang total terhadap kehidupan biarawan dan pertapaan, menemukan sarana pengungkapannya pada diri Ibrahim bin Al-Adham (159/777). Seperti dikatakan pengikutnya kemudian, kehidupan Ibrahim tak berbeda dengan kehidupan Buddha. Ibrahim berasal dari keluarga bangsawan, seorang pangeran yang berkuasa di Balkh. Ia tiba-tiba memutuskan meninggalkan kedudukan dan hartanya, keluarganya dan orang-orang  yang dicintainya, untuk menjalani kehidupan asketis menyendiri di masjid, senantiasa berdzikir dan berdo’a, mengabaikan makanan dan segala isi dunia. Abu Yazid Al-Bisthami (260/875) mengemukakan gagasan Hindu-Buddha Nirwana sebagai tujuan (baqo’) kehidupan yang menyangkal-diri dan merendahkan diri (fana’). Gagasan Hellenis dan Buddha beredar di dunia Muslim sebagai makna asing, sampai Junayd Al-Baghdadi (296/910) memadukannya dengan aliran cinta Tuhan asketis Arab. Ia memberinya istilah-istilah Islam atau Qurani. Untuk selanjutnya, tuga aliran ini bersatu dan mengalir bagai sungai besar.
4. Perkembangan Tasawuf (Mistisisme)
Kaum sufi, atau penganut tasawuf, melengkapi diri mereka dengan suatu aturan. Mereka melembagakan suatu ideologi , organisasi, program, dan ritus inisiasi serta pemujaan untuk aturan itu. Pada masa Al-Kufi dan Ibn Al-Adham, masjid merupakan tempat dimana praktik sufi berlangsung. Segera kaum sufi mengembangkan praktik ini diluar waktu-waktu shalat sehingga tidak mengganggu shalat kaum non-sufi. Mereka memilih tempat terpisah yang jauh dari gangguan. Dengan demikian zawiyah, takiyyah, atau ribath lahir sebagai lembaga yang terpisah dari masjid. Di sini, kaum sufi melewatkan hari-hari mereka dan sebagian besar malam mereka dengan shalat, berdo’a, berdzikir kepada Allah. Mereka makan sedikit , hanya memakai selembar pakaian wol, dan menjadikan lantai sebagai alas tidur merek, yang jauh dari kenikmatan dan kenyamanan rumah. Bersama mereka membentuk tarekat, suatu komunitas otonom, yang terpisah dari umat. Meskipun tarekat terbuka bagi siapa saja, tetapi ada syarar-syarat tertentu untuk menjadi anggota. Syarat tersebut antara lain: (1) keputusan untuk bergabung harus benar-benar disadari secara pribadi; semua harta-harta harus ditinggalkan; untuk tarekat, atau untuk keluarga atau orang miskin, sehingga anggota ini akan bebas dari keterikatan dengan benda-benda duniawi; (3) kepatuhan total merupakan keharusan, terutama kepada sesepuh atau syaikh, guru tarekat, organisasi atau persaudaraan, dan kepada  orang yang diutus olehnya. (4) Setiap anggota baru harus melewati masa percobaan. Setelah masa ini, calon anggota ditahbiskan menjadi anggota dan diberikan pakaian wol biru.
sementara semua sufi mempraktikkan ritual sufisme, masing-masing tarekat melembagakan pengaturan ritualnya sendiri. Yang pertama dan yang lazim adalah ritual zikir. Ritual ini terdiri dari doa dan wirid berulang yang terkadang cepat dan sederhana , dengan menyebut satu nama Allah. 
Tasawuf bertanggung jawab atas warisan besar literature dalam bahasa Arab dan bahasa Muslim lainnya. Kaum sufi melantunkan tema-tema puisi mereka dalam syair yang sangat indah. Mereka memuja tuhan dan memohon rahmat serta pertolongan-nya dengan sajak yang menyentuh hati. Di antara para penyair, yang paling dihormati adalah Ibn Al- Faridh (632/1235), Sa’di, Hafizh, dan Jalaluddin Ar-Rumi, Yang Matsnawi-nya merupakan ensklopedi pengetahuan keagamaan dan etika.
Sejak tasawuf berkembang dalam umat, dan diterima oleh pemikir dari setiap bidang pengetahuan, maka warisan pemikiran dan litelaturnya semakin bertambah banyak.
Pembaharuan tasawuf Al-Ghazali yaitu upaya menahan gerakan yang sudah wataknya melebih-lebihkan itu tak berhasil, walaupun pengaruhnya yang luar biasa. Gerakan mistisisme menjadi sulit dikendalikan dan tidak dominan lagi. Umat mengalami kemunduran, yang selama dua abad terakhir ini mereka berupaya keras mengatasi kemunduran ini. Alih-alih tetap mendisiplinkan manusia untuk mematuhi Tuhan dan menjalankan syariat, memperdalam komitmenya terhadap Islam dan enyucikan serta mengangkat jiwanya pada jalan kebenaran, tasawuf menjadi penyakit yang menyebabkan atau bahkan memperburuk gejala-gejala berikut:
a. Kasyf (pencerahan gnostik) mengantikan engetahuan. Di bawah tasawuf, dunia Muslim meninggalkan komitmennya untuk mencari pengetahuan ilmiah yang rasional, dengan upaya mendapatkan visi pengalaman mistis.
b. Karamah (Mukjizat kecil), yang diajarkan tasawuf hanya mungkin dalam keadaan penyatuan komuni dengan Tuhan.
c. Ta’abbud, kerelan ntk meninggalkan aktivitas social dan ekonomi untuk melakukan ibadah spiritualistic sepenuhnya, dan komitmen untuk mencurahkan segenap energy untuk berzikir menjadi tujuan utama.
d. Tawakal, kepasrahan total pada factor sprit untuk melahirkan hasil-hasil empiris.
e. Qismat, penyetujuan secara sembunyi-sembunyi dan pasif terhadap hasil tindakan dari kekuatan dialami yang berubah-ubah ynag mengantikan taklif.
f. Fana’ dan Adam, bukan relitas efemeralitas dan ketidak pentinggan dunia, mengantikan keseriusan muslim menyangkut eksistensi.
g. Taat, kepatuhan mutlak dan total kepada Syaikh dari salah satu tarekat sufi menggantikan tauhid, pengakuan bahwa tak ada tuhan kecuali Allah.
5.Tasawuf Islam Sebagai Subyek Pengaruh
Perdebatan sengit yang terjadi antara Max Horten Cs. yang menyatakan unsur Hindu ke dalam tasawuf Islam dengan Arberry dan A. Schimmel, yang sangat agresif membantah dan mematahkan argumentasi mereka, menjadi cukup ironis setelah kita mendengar pernyataan dari pihak Hindu sendiri. Tarachand, salah seorang sejarawan Hindu yang cukup terkenal telah menulis dalam bukunya "Influence of Islam on India Culture", bahwa tasawuf Islam lah yang sebenarnya telah mempengaruhi tasawuf Hindu sejak abad I H.
Lebih lanjut ia menyatakan bahwa Islam adalah agama dakwah dan semua pemeluknya adalah para da'i yang menyerukan risalah Islamiah. Dari situlah, berkembang pesat Islam menelusuri pantai barat India yang berdampak logis pada terjadinya integrasi dan pengkristalan nilai-nilai Islam terhadap ajaran Hindu. Kalau dikomparasikan dengan ajaran Kristen, maka Kristen hanya sedikit sekali andilnya dalam mempengaruhi ajaran Hindu. Bahkan, boleh jadi tidak sama sekali.
Tasawuf Islam semula diklaim habis-habisan sebagai obyek pengaruh ajaran dari masyriq sampai maghrib, tetapi ternyata klaim tersebut tidak lebih dari sekedar kamuflase untuk menutupi aib mereka. Statemen ini bisa dibuktikan dengan pernyataan Nicholson, bahwa dalam bidang sufisme dan psikologi, Barat telah banyak mengambil dari Islam.
Bidang sufi adalah termasuk yang paling banyak diadopsi oleh Barat. Dalam buku "History of The Arabs", Philip Hitti seorang sejarawan, mengatakan bahwa kitab Ihya 'Ulum al-Dien salah satu kitab tasawuf Islam telah banyak mempengaruhi para pemikir Yahudi dan Kristen pada masa pertengahan.
Satu bukti lagi, seperti yang dikatakan Arberry bahwa Raymond Lull dalam beberapa tulisannya telah banyak dipengaruhi oleh analisa sufisme Islam. Dan sejarah pun membuktikan bahwa para tokoh sufisme Kristen seperti Goethe, Dante, ST. Acquinas, serta Echart yang tergabung dalam kelompok Agustus juga telah dipengaruhi oleh sufisme Islam. Lebih lanjut, bukti-bukti ini banyak dikupas oleh Mr. Idris Syah dalam bukunya "The Sufis".

6. Hakekat Tasawuf Islam
Setelah menelusuri beberapa kajian sumber tasawuf Islam dalam versi orientalis yang penuh dengan pro dan kontra, maka penulis mencoba mempresentasikan hakekat sumber tasawuf Islam dari visi Islam sendiri. Dari upaya ini diharapkan dapat membersihkan asumsi utopian yang dilancarkan oleh kebanyakan orientalis. Dalam bukunya "Al-Tasawuf al-Islamy", Dr. M. Abdullah Al-Syarqawi telah memberikan empat point pendekatan untuk menguji keaslian tasawuf Islam sebagai produk risalah Islamiah.
Pendekatan tersebut adalah, pertama, spesialisasi tasawuf sebagai etika dan moral dalam Islam. Pembatasan ini juga telah diketemukan oleh Ibn Qoyim dalam kitabnya "Madarij al-Salikin" yang didukung oleh Al-Kattani dengan statemennya, "Tasawuf Islam adalah etika. Jika etikamu bertambah (bagus), maka bertambahlah kebersihan jiwamu." Seiring dengan zaman yang selalu bergulir, para sufi telah merumuskan etika agama ini menjadi suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri.
Disiplin ilmu ini yang mulai berkembang sejak abad III Hijriah dan kita kenal sampai sekarang dengan istilah ilmu Tasawuf Islam. Ilmu ini, menurut pendapat yang mu'tabar, pertama kali dikembangkan oleh Abu Yazid Al-Busthami yang diteruskan oleh muridnya Al-Junaid.
Sosiolog muslim Ibn Khaldun telah menyatakan secara definitif bahwa ilmu tasawuf adalah ilmu syar'i kontemporer dalam agama yang asal-usulnya dari para sahabat, tabiin dan para ulama setelahnya. Sedang menurut DR. Taftazani ilmu tasawuf adalah ilmu syar'i yang awal pembentukan konsepnya bersumber kepada Al-Qur’an dan Al-Sunnah.
Tesis-tesis ini cukup beralasan karena pada dasarnya secara global Risalah Islamiah telah meliputi empat dimensi, yaitu; aqidah, hukum ibadah, hukum mu'amalah, dan etika (akhlak). Bisa dibuktikan bagaimana Rasulullah banyak mengkorelasikan antara keimanan dan etika dalam hadits-haditsnya, misalnya: “Yang paling sempurna keimanan orang-orang mu'min adalah yang paling bagus etika mereka." (Al-Hadits).
Dalam disiplin ilmu tasawuf tersebut, telah dirumuskan konsep tentang merambah jalan Allah (suluk) yang diawali dengan taubat (mujahadah al-nafs), demikian juga konsep "al-ahwal wa al-maqamat".
Pengertian maqam di sini lebih dipersepsikan sebagai posisi antara seorang hamba diha-dapan Tuhannya yang diaplikasikan dalam bentuk ibadah, mujahadah dan riyadhah. Bisa dicontohkan maqam di sini seperti; taubat, zuhud, wara', faqir, sabar, ridha, tawakkal dan seterusnya. Sedangkan bentuk-bentuk ahwal adalah seperti; muraaqabah, qurb, mahabbah, khauf, rajaa, syauq, thuma'niinah, musyaahadah, yaqiin dan seterusnya.
Bagi umumnya umat Islam dan kaum sufi khususnya, tidak asing lagi bahwa semua konsep yang ada dalam al-ahwal wa al-maqamat telah disandarkan pada Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Mereka menyandarkan mujahadah al-nafs dengan QS. Al Ankabut : 69, Al Nazi'at :40-41, Yusuf:53, maqam taqwa dengan QS. Al Hujurat: 13, maqam zuhud dengan QS. Al-nisa:77 dan Al- Hasyr:9, maqam tawakkal dengan QS. Al- Thalaaq:3 dan Al-Taubah:51, maqam syukur dengan QS. Ibrahim:7, maqam shabr dengan QS. Al-Nahl:127 dan Al-Baqarah:100, maqam ridha dengan QS. Al- Maaidah:119, hal mahabbah dengan QS. Al-Maaidah:40, maqam ma'rifat dengan QS. Al-Baqarah:282 dan Al-Kahfi:65, hal khauf dengan QS. Al-Sajdah:16, hal rajaa dengan QS. Al-Ankabut:5 dan sebagainya.












D.    Kesimpulan
Tasawuf adalah salah satu dari ajaran islam. Inti dari ajaran tasawuf ialah mendekatkan diri kepada Allah dengan melalui tahapan-tahapan (ajaran)Nya yaitu maqamat dan ahwal. Ajaran-ajaran tasawuf ini bersumber dari al-Qur’an.
Adapun perspektif Dikalangan para orientalis barat biasanya dijumpai pendapat yang mengatakan bahwa sumber yang membentuk tasawuf itu ada lima, yaitu unsur Islam, unsur masehi (Agama Nasrani), unsur Yunani, unsur Hindu/Budha dan unsur Persia. 1. Tasawuf tumbuh, berkembang dan dengan cepat bergerak kesetiap penjuru dunuia muslim. Tasawuflah yang membuat berjuta-juta orang masuk islam. Selain melahirkan sejumlah Negara militan dan gerakan sosiopolitis, tasawuf menjadi penyebab kemunduran kekuatan muslim. Tasawuf menjadi penyebab penukaran pengetahuan rasional kaum muslim dengan pengetahuan takhayul. Ia menjadi penyebab bagi kaum muslim untuk mengabaikan dunia dan memperhatikan akherat. Tasawuf merupakan gerakan yang walaupun besar kebaikannya juga besar keburukannya dalam sejarah peradaban Islam.
2. tasawuf berkembang dalam umat, dan diterima oleh pemikir dari setiap bidang pengetahuan, maka warisan pemikiran dan litelaturnya semakin bertambah banyak.
3. Tasawuf secara etimologi berasal dari saff, safa’, suffah al-masjid dan suf. Tasawuf mempunyai banyak definisi, satu definisi yang mungkin bisa mewakili adalah kesadaran murni yang mengarahkan jiwa kepada amal yang sungguh-sungguh, menjauhkan diri dari kehidupan duniawi untuk endekatkan diri kepada Allah.

E.     Penutup
Demikianlah makalah yang dapat kami sampaikan, apabila ada kekurangan dan kesalahan kami minta maaf serta dengan tulus hati kami menerima saran dan kritik yang bersifat konstruktif. Akhir kata, semoga bermanfaat dan menambah khazanah bagi kita semua. Amiin.


Daftar Pustaka

                                            
Syukur, Amin, Menggugah Tasawuf, pustaka pelajaran jakarta 1999
Nasution, Harun, Islam ditinjau dari berbagai aspek, Jilid II, Jakarta: UI Prees, 1979
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1995, Hal. 660
Isma’il R. Al-Faruqi, Lois Lamya Al-Faruqi, Atlas Budaya Islam Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, Mizan, 2003, Bandung, Hal. 326-336.
Annemarie Schimmel, Dimensi Misti Dalam Islam, Pustaka Firdaus, Jakarta, Hal. 16
Asmaran As, MA, Drs. Pengantar Studi Tasawuf, PT Raja Grafindo, Jakarta, 1994, Hal. 105
Dr. Abu al Wafa Al Taftazani, Madkhal Ila Al -Tasawuf al-Islamy, Dar Al-Tsaqafah, Mesir tahun 1979.
Dr. M. Mustafa Hilmy, Al Hayat al-Ruhiyah Fii al-Islam, Hai'ah al- Mashriah al- 'Ammah Li al-Kitab, Mesir 1984.
Ibn Khaldun, Al-Muqaddimah, Nasyrah al -Mishriah, Mesir, tanpa tahun.
Dr. Abdullah Syarqawy, Al-Tasawuf al-Islamy, Mathba'ah al-Madinah, Mesir, 1993.
Prof. Dr. Abdul Halim Mahmud, Qadhiah al -Tasawuf al-Munqidz Min al-Dhalal, Dar Al-Ma'arif, Mesir, 1988.
Dr. Abdul Rahman Badawy, Tarikh al-Tasawuf al-Islamy, Wakalah Mathba'ah, Kuwait, 1970.


No comments:

Post a Comment

makalah-makalah dan tugas power point (ppt): Metode Kajian Hadis

makalah-makalah dan tugas power point (ppt): Metode Kajian Hadis : BAB I PENDAHULUAN A.   Latar Belakang Petunjuk-petunjuk agama men...