Thursday, March 3, 2016

Makalah : Kapita Selekta PAI



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pada alur sejarah peradaban mana pun, kinerja manusia secara evolutif dibangun di atas norma-norma dan  kualitas etika positif yang menjelma sebagai kebudayaan. Tatkala iini dikedepankan, secara berkelanjutan manusia akan memasuki era pencerahan seakan tanpa batas. Fenomena ini oleh Zig Zigler dalam bukunya Over The Top (1995) diidealisasikan sebagai norma-norma pendidikan, yang meniscayakan esensi dan eksistensi guru di dalamnya. Namun demikian, hingga mana norma-norma pendidikan dengan guru sebagai ujung tombaknya mampu secara evolutif membangun manusia memiliki norma-norma hidup dan beretika level tinggi, nampaknya ada pihak-pihak yang menyaksikannya. Bagi Zig Zigler, kini dominasi norma-norma parsial nyaris tak dominan lagi, karena norma itu telah mengkristal sebagai norma kehidupan.
B.     Rumusan Masalah
1.      Kompetensi apakah yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagai instructional leader?
2.      Bagaimanakah karakteristik guru yang profesional?


C.      
BAB II
PEMBAHASAN
GURU SEBAGAI KUNCI UTAMA AGENDA PROSES PEMANUSIAAN
A.    Masalah Keguruan dan Agenda Pemanusiaan
Pada alur sejarah peradaban mana pun, kinerja manusia secara evolutif dibangun di atas norma-norma dan  kualitas etika positif yang menjelma sebagai kebudayaan. Tatkala iini dikedepankan, secara berkelanjutan manusia akan memasuki era pencerahan seakan tanpa batas. Fenomena ini oleh Zig Zigler dalam bukunya Over The Top (1995) diidealisasikan sebagai norma-norma pendidikan, yang meniscayakan esensi dan eksistensi guru di dalamnya. Namun demikian, hingga mana norma-norma pendidikan dengan guru sebagai ujung tombaknya mampu secara evolutif membangun manusia memiliki norma-norma hidup dan beretika level tinggi, nampaknya ada pihak-pihak yang menyaksikannya. Bagi Zig Zigler, kini dominasi norma-norma parsial nyaris tak dominan lagi, karena norma itu telah mengkristal sebagai norma kehidupan.
1.      Norma Kehidupan
Menurut seorang penulis yang sangat produktif, sekarang ini nyaris semua orang sudah menyadari tidak ada yang benar-benar eksplisit untuk diagendakan mengenai apa yang berrnama norma keluarga, norma pendidikan, norma bisnis, norma pemerintahan, atau norma politik. Karena itu, menurut Zig Zigler, salah seorang pembicara motivasional terbaik di Amerika Serikat saat ini, kesemua norma-norma itu adalah norma kehidupan. Rasionalnya, tidak mungkin lagi kita memisahkan norma keluarga atau kehidupan yang sukses dari norma pendidikan, bisnis, atau pemerintahan dan politik. Ternyata, pembentukan norma-norma itu masih berlangsung secara evolutif sampai sekarang, seakan-akan menelusuri jalan tanpa batas semu sekalipun, sejalan dengan perultra modern seperti Amerika Serikat, ternyata norma-norma ini masih mendominasi permintaan masyarakat untuk dijadikan sebagai bahan ajar, paling tidak ada 85% si antara mereka yang meminta.
2.      Bekal Moral
Efidensi di atas membuktikan hipotesis selama ini, bahwa muatan-muatan moral, demokrasi, dan kepedulian sosial yang tersaji sebagai bahan ajar di sekolah-sekolah kita  kebanyakan diambil dari “udara” atau awang-awang. Bekal-bekal moral kepada anak didik dikemas secara satu arah, tanpa memberi peluanng bagi mereka untuk mengetahui sejauhmana aktualisasi norma-norma moral itu di masyarakat.
Tersumbatnya rasa ingin tahu para pelajar dan mahasiswa kita, harus kita akui sebagian di antaranya bersumber dari para pendidik mereka dan birokrasi di atasnya. Namun, yang lebih dominan adalah norma-norma kehidupan kita yang cenderung masih menabukan penelaahan terhadap fenomena ruang sensitif, yang di dalam budaya keterbukaan sesungguhnya biasa adanya. Padahal, pelajar dan mahasiswa punya potensi berprestasi sam dengan bangsa manapun, sepanjang norma-norma kehidupan diorganisasikan secara demokratis.
Jadi, tatkala pendidikan kita belum mampu meng-up grade prestasi belajar  anak secara signifikan, agaknya tidak sepenuhnya relevan jika hal itu ditanggulangi dengan beberapa agenda kependidikan berskala kecil, misalnya, dengan cara membuat kebijakan bongkar pasang kurikulum, memberikan pendidikan dan pelatihan kepada guru-guru, memperbanyak buku-buku ajar, dan sebagainya. Hal yang harus lebih dikedepankan justru keterbukaan norma-norma kehiduupan dan norma-norma pendidikan yang memungkinkan anak bangkit rasa ingin tahunya. Namun demikian, hingga mana hal ini dapat diantisipasi oleh guru-guru dan hingga mana pula mereka mampu mengimplementasikannya akan sangat bergantung kepada dimensi-dimensi pendukungnya, misalnya mempersempit ruang penelaahan yang bersifat sensitif. Hal ini perlu dipikirkan oleh para pembuat kebijakan, sebelum kita terjebak ke dalam lingkaran norma-norma kehidupan dan norma-norma pendidikan yang justru kurang menguntungkan.


B.     Guru, Pamong Praja  yang Manusiawi
Guru merupakan  ujung tombak proses kemanusiaan dan pemanusiaan telah diterima sepanjang sejarah pendidikan formal, bahkan sebelum itu. Hingga saat ini agenda kerja, wajah kegiatan, dan fungsi yang ditampilkan oleh guru tidak berubah, yaitu menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran di kelas. Mereka ini menjadi ujung sekaligus pengarah tombak proses kemanusiaan dan pemanusiaan melalui jalur pendidkan formal.
Pada tataran perilaku, apa yang ditampilkan oleh guru relatif khas, paling tidak banyak berbeda secara visual dengan perilaku warga masyarakat profesional bukan guru. Mereka senantiasa berperilaku seperti pamong praja tulen, sebagian besar di antaranya berperilaku secara manusiawi, tanpa ada pretensi untuk tampil eksentrik, norak, apalagi glmour. Perilaku sosial yang mereka tampilkan mencerminkan kapasitas sosial, ekonomi, mobilitas, dan kepribdian sebagai guru.
1.      Tipikal Perilaku
Sosok guru tidak hanya tercermin dalam kesederhanaan mereka berpakaian, bertutur kata, berbelanja di pasar, atau dalam pola menikmati waktu senggang, seperti rekreasi. Mereka tidak mempunyai beban untuk menyisihkan anggaran berlibur akhir tahun atau pesta ulang tahun atau berbelanja ke super market, disebabkan karena ekonominya relatif serba terbatas dan penampilan guru memang cenderung seperti itu. Mereka merasa cukup berbelanja di kaki lima atau di pasar-pasar yang biasa menawarkan harga murah.
Di samping itu, mereka cenderung bermental nrimo, tunnduk pada atasann dan ssayang pada murid, santun pada masyarakat tanpa disertai dalih untuk mendapatkan pamrih.
2.      Harga Profesi Guru
Profesi guru yang di dalam forum-forum resmi dan di naskah-naskah formal akademik begitu mulia, di masyarakat luas nampaknya masih menjadi semacam profesi kelas dua, di bawah profesi-profesi lain, seperti dokter, notaris, arsitek, dan sebagainya. Kondisi ini sangat disayangkan, sebab guru merupakan subjek yang sangat besar sumbangannya dalam membangun manusia masa depan. Di tengah-tengah makin maraknya nuansa orang kebanyakan menempatkan uang dan harta kekayaan sebagai indikator puncak prestasi pribadi dan keluarga, nampaknya profesi guru makin ditempatkan ke dalam kelompok profesi yang kurang membanggakan. Tuntutan masyarakat yang begitu besar terhadap fungsi guru dalam mendidik anak-anak mereka, yang untuk sebagian besar barangkali tidak kesampaian karena tekanan-tekanan eksternal, seperti pergeseran persyaratan kerja dan kelesuan ekonomi, membuat kesan masyarakat terhadap kredibilittas guru belum membaik.


3.      Membangkitkan Citra Guru
Apresiasi guru terhadap profesinya dan peningkatan citra masyarakat terhadap guru dan profesi yang disandangnya tidak akan lepas dari fungsi perbaikan taraf hidup mereka. Karenanya, adalah tugs para pembuat keputusan juga untuk membenahi kesejahteraan guru, antara lain menaikan gaji atau tunjangan jabatan pendidikannya. Agenda kerja pejabat pemerintah atau pimpinan yayasan untuk mengupayakan peningkatan kesejahteraan guru melalui perbaikan atas penghasilan mereka adalah wajar adanya, oleh karena kebutuhan hidup keluarga guru pun makkin meningkat, sejalan dengan pergeseran nilai uang.
Tanggungjawab guru sebagai abdi negara dan abdi masyarakat tetap tidak mungkin diletakan melebihi batas-batas kondisi internal dirinya. Guru adalah manusia biasa yanng memilikii banyak keterbatasan, seperti halnya keterbatasan manusia kebanyakan. Adalah kebanggaan bagi guru, jika dia mampu melahirkan anak didik menjadi manusia yang cerdas, berbudi luhur, dan terampil serta memiliki daya adaptabilitas yang tinggi dalam menghadapi aneka perubahan situasi.
4.      Profesi Terisolasi
Kini adalah waktu yang sangat tepat untuk memperjuangkan kenaikan gaji atau tunjangan jabatan pendidikan guru, sejalan dengan makin nampaknya kemampuan profesional guru dalam mengelola proses belajar mengajar di kelas. Perbaikan nasib mereka memungkinkan dirinya membeli dan membaca sumber informasi.
Uang hanya mungkin menjadi alat untuk memecahkan masalah ekonomi guru. Perbaikan citra profesi guru di masyarakat akan sangat banyak ditentukan oleh persepsi masyarakat terhadap profesi guru, di samping usaha guru sendiri untuk memperbaikinya. Kesadaran manusia akan makna agenda kerja yang menjadi gamitan pendidikan bagi penempaan kognisi, afeksi, dan psikomotorik pelanjut generasi, secara otomatis melahirkan prakarsa baru, berupa disposisi uuntuk tidak menerima realitas sebagaiimana adanya, tanpa pemberdayaan diri secara optimal. Karenanya, tuntutan akan kehadiran guru profesional tidak pernah surut, karena dalam altar proses kemanusiaan dan pemanusiaan itu, ia hadir sebagai subjek paling diandalkan. Tantangan para guru adalah bagaimana mereka mampu menjalankan roda pembelajaran untuk melahirkan manusia sejati pada masyarakat pengguna jasa pendidikan yang terus berubah.
5.      Bekal untuk Hidup
Dalam makna, semampu dan seterampil serta serelevan apa pun lulusan pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja, tidak akan berarti banyak, manakala para guru tidak dapat memberikan bekal kepada anak didik mengenai apa itu hakikat hidup, dan moralitas macam apa yang diperlukan anak didik untuk hidup di masyarakat.
Kemampuan profesional mereka secara evolutif harus terus berubah sejalan dengan evolusi kemajuan bidang IPTEK. Di sini guru berkedudukan menjalankan fungsi teknologisasi dan industrialisasi, antara lain mendorong pengembangan media belajar dalam paradigma teknologi pendidikan atau mengakses pemanfaatan teknologi yang ada di masyarakat uuntuk keperluan pembelajaran. Hal ini adakalanya melahirkan dilema bagi guru, dimana pada satu sisi mereka diposisikan sebagai pengembang fuungsi intrinsik pendidikan dan di sisi lain mereka harus melakukan transfer IPTEK. Karena pada era ini keberhsilan guru seringkali diukur dari kemampuannya melahirkan manusia produktif, kalau tidak boleh disebut manusia ekonomi.
Citra guru pun adakalanya makin tereduksi akibat masifitas teknologi yang menyebabkan pada aspek tertentu kedudukan mereka sebagai sumber pengetahuan menjadi nisbi. Bahkan adakalany mereka menjadi rendah diri, karena teknologi informasi yang mereka miliki tidak seberapa dibandingkan dengan yang dimiliki oleh masyarakat, yang mengakibatkan mereka tidak mampu mengakses berita dan perkembangan IPTEK yang aktual.
C.    Guru dan Murid Sama-sam Pernah Mogok
Mengikuti logika pemikiran Vollmer dan Mills jabatan guru dikategorikan sebagai profesi yang sesungguhnya, karena pekerjaan mengajar lebih mengandalkan aspek mental daripada motorik atau manual, seperti halnya notaris, dokter, dan sebagainya. Dengan staus profesionalnya itu, guru mestinya memiliki komitmen tinggi terhadap tugas. Di dalam realitas, pernah kita saksikan guru mogok mengajar dan siswa mogok belajar yang keduanya merupakan dua fenomena kependidikan yang menrik disimak. Fenomena lainnya adalah tawuran pelajar yang akut lagi kronis. Pada aspek lulusan, kita juga diikejutkan oleh makin membludaknya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi untuk jenjang sarjana dan diploma.
Guru mogok mengajar apa pun alasannya merupakan counter productive proses pendidikan dan pembelajaran yang bermisi kemanusiaan universal. Fenomena yang harus kita lihat bukan hanya mogok mengajar sebagai anomali kepribadian guru, melainkan harus diposisikan pada rasional itu mengapa mereka berperilaku seperti itu. Kecilnya intensif ekonomi nampaknya menjadi alasan klasik, namun tetap relevan diangkat ke permukaan. Dilihat dari perspektif ini, kondisi kehidupan para guru memang belum baik.
Akan tetapi, hal itu merupakan sebuah resiko pilihan profesi. Jumlah guru yang banyak dan ketakberdayaan merek melawan arus birokrasi akibat kekhawatiran dimarjinalkan, memang menjadi sasaran empuk. Di sisi lain, jumlah mereka yang besar sangat efektif menjadi ajang politisasi untuk mendukung kekuatan tertentu.
Pada tataran tugas, mereka pun makin harus profesional sejalan dengan meningkatnya kesadaran sejarah peradaban dan daya kritis siswa. Jika sebelumnya anak didik menerima segala realitas kinerja guru, kini mereka sudah mampu membedakan mana guru yang baik dan mana pula guru yang cenderung anomalis menjalankan tugas. Bukan hanya guru yang mogok. Siswa pun pernah mogok belajar. Mereka menggelar mogok belaajar tatkala kepala sekolah dan guru yang menjadi idolanya dipindahkan ke sekolah lain. Sebaliknya, mereka pun mogok belajar, manakala kepala sekolah dan guru-guru mereka cenderung anomalis dalam menjalankan tugas.
Munculnya daya kritis siswa merupakan fenomena baik, asalkan ia dijadikan sumber kearifan bagi tenaga kependidikan. Guru-guru dan kepala sekolah harus mampu tetap eksis dalam keadaan apa pun kondisi psikologi mereka.
Guru merupakan salah satu subjek yang bertanggungjawab dalam proses pendidikan budi pekerti. Tapi posisi guru makin diperburuk, karena gejala anomali di kalangan pelajar sering dilabelkan oleh masyarakat sebagai kesalahan mereka. Bahkan analis pendidikan pun cenderung berkesimpulan bahwa perilaku kekerasan dan kejahatan masyarakat, termasuk yang dilakukan oleh anak didik merupakan representasi dari kegagalan pendidikan moral oleh para guru, termasuk kegagalan pendidikan agama.
1.      Enam Referensi
Pada pertemuan para Mendikbud dari sembilan negara, tahun 1995 lalu, setidaknya telah disepakati secara bulat enam pandangan yang dapat dijadikan referensi dan agenda kerja dalam mengembangkan pendidikan pada abad ke-21. Keenam pandangan dimaksud merupakan agenda pendidikan abad ke-21 yang meliputi:
Ø  Pertama, ikut menggalang perdamaian dan ketertiban dunia, dengan titik tekan menanamkan kepada peserta didik agar dapat memahami nilai-nilai anti kekerasan, toleransi tinggi antarsesama manusia, dan keadilan sosial.
Ø  Kedua, mendidik anak untuk mempersiapkan dirinya menjadi pribadi ideal dalam kapasitasnya sebagai warga negara dan anggota masyarakat dalam tatanan kehidupan yang demokratis.
Ø  Ketiga, pendidikan harus dilakukan secara merata dan komprehensif, dengan menafikan batas-batas kemampuan ekonomi, jenis kelamin atau aspek lain yang mengarah kepada tindakan deskriminatif yang bertentangan dengan nilai hakiki pendidikan.
Ø  Keempat, pendidikan harus mampu menanamkan dasar-dasar pembangunan yang berkelanjutan dengan memperhatikan kelestarian dan pelestarian lingkungan hidup dalam makna luas.
Ø  Kelima, pendidikan harus menjadi instrumen tepat untuk mempersiapkan tenaga kerja untuk pembangunan ekonomi, dan karenanya pendidikan harus dikaitkan dengan kebutuhan dunia kerja.
Ø  Keenam, pendidikan harus berorientasi kepada ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama bagi negara-negara berkembang, agar tidak bergantung secara berkepanjangan dengan negara maju.
Enam pandangan mengenai sosok pendidikan abad ke-21 adalah kemutlakan, bahwa guru-guru masa depan harus benar-benar tampil secara profesional dilihat dari dimensi pribadi, penguasaan keilmuan dan metodologi pengajaran, dan sosialnya. Tugas guru sebagai tenaga kependidikan berspektrum luas tidak hanya memerankan fungsi sebagai subjek yang mentransfer pengetahuan, melainkan juga melakukan tugas-tugas sebagai fasilitor, motivator, dan dinamisator dalam proses pembelajaran, baik di dalam maupun di luar sekolah.
2.      Kompetensi Guru
Untuk dapat menjalankan tugas-tugas itu secara efektif dan efisien, para guru harus memiliki kompetensi tertentu. Di Indonesia telah ditetapkan sepuluh kompetensi yang harus dimiliki oleh guru sebagai instructional leader, yaitu:
a.       Memiliki kepribadian ideal sebagai guru
b.      Penguasaan landasan kependidikan
c.       Menguasai bahan pengajaran
d.      Kemampuan menyusun program pengajaran
e.       Kemampuan melaksanakan program pengajaran
f.       Kemampuan menilai hasil dan proses belajar mengajar
g.      Kemampuan menyelenggarakan program bimbingan
h.      Kemampuan menyelenggarakan administrasi sekolah
i.        Kemauan bekerjasama dengan sejawat dan masyarakat
j.        Kemampuan menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran.
Untuk dapat benar-benar tampil secara profesional, para guru harus memiliki karakteristik dasar sebagai elemen inti yang membedakannya dengan guru-guru yang belum profesional. Merujuk kepada pendapat Robert W. Rechey, karakteristik utama yang haarus dimiliki oleh para guru meliputi:
ü  Pertama, lebih mementingkan pelayanan kemanusiaan ideal daripada mementingkan layanan yang semata berdampak bagi kepentingan pribadi guru selaku penyandang profesi
ü  Kedua, adanya kesadaran dalam diri pribadi guru sebagai penyandang profesi, bahwa mereka nisbi memerlukan waktu panjang dan terus-menerus untuk mempelajari konsep dan prinsip pengetahuan khususnya yang mendukung keahliannya, baik penguasaan materi maupun metodologi pembelajaran
ü  Ketiga, memiliki kualitas tertentu untuk memasuki altar perjalanan profesi keguruan serta secara kontiniu mampu mengikuti perkembangan dalam pertumbuhan jabatan dan tuntutan institusi pendidikan pada umumnya
ü  Keempat, memiliki komitmen terhadap kode etik yang mengatur keanggotaan, tingkah laku, sikap, dan cara kerja untuk membedakannya dengan masyarakat pada umumnya
ü  Kelima, mensyaratkan suatu kegiatan intelektual  yang tinggi
ü  Keenam, adanya organisasi yang dapat meningkatkan standar pelayanan, disiplin profesi, serta kesejahteraan anggotanya (PGRI)
ü   Ketujuh, memberikan kesempatan untuk kemajuan, spesialisasi, dan kemandirian bagi penyandang profesi
ü  Kedelapan, memandang profesi sebagai suatu karir seumur hidup dan menjadi seorang anggota profesi yang permanen.





BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagai instructional leader, yaitu: memiliki kepribadian ideal sebagai guru, penguasaan landasan kependidikan, menguasai bahan pengajaran, kemampuan menyusun program pengajaran, kemampuan melaksanakan program pengajaran, kemampuan menilai hasil dan proses belajar mengajar, kemampuan menyelenggarakan program bimbingan, kemampuan menyelenggarakan administrasi sekolah, kemauan bekerjasama dengan sejawat dan masyarakat, kemampuan menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran.
2.      Karakteristik guru yang profesional yaitu: lebih mementingkan pelayanan kemanusiaan ideal daripada mementingkan layanan yang semata berdampak bagi kepentingan pribadi guru selaku penyandang profesi, adanya kesadaran dalam diri pribadi guru sebagai penyandang profesi, memiliki kualitas tertentu untuk memasuki altar perjalanan profesi keguruan serta secara kontiniu mampu mengikuti perkembangan dalam pertumbuhan jabatan dan tuntutan institusi pendidikan pada umumnya, memiliki komitmen terhadap kode etik yang mengatur keanggotaan, tingkah laku, sikap, dan cara kerja untuk membedakannya dengan masyarakat pada umumnya, mensyaratkan suatu kegiatan intelektual  yang tinggi, adanya organisasi yang dapat meningkatkan standar pelayanan, disiplin profesi, serta kesejahteraan anggotanya (PGRI), memberikan kesempatan untuk kemajuan, spesialisasi, dan kemandirian bagi penyandang profesi, memandang profesi sebagai suatu karir seumur hidup dan menjadi seorang anggota profesi yang permanen.
B.     Saran-saran
1.      Penulis berharap semoga makalah ini dapat menambah wawasan para pembaca tentang peran guru sebagai kunci utama agenda proses pemanusiaan.
2.      Penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan pembuatan makalah kami selanjutnya.







DAFTAR PUSTAKA
Danim, Sudarwan. Agenda Pembaruan Sistem Pendidikan. Cet. II; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.
                                                          

No comments:

Post a Comment

makalah-makalah dan tugas power point (ppt): Metode Kajian Hadis

makalah-makalah dan tugas power point (ppt): Metode Kajian Hadis : BAB I PENDAHULUAN A.   Latar Belakang Petunjuk-petunjuk agama men...