BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mempelajari sejarah peradaban Islam kurang lengkap
jika tidak disertakan mempelajari sejarah kehidupan manusia di Jazirah Arab.(semenanjung Arab) sebelum datangnya Islam. Karena Islam pertama muncul di
Arab dan kitabnya berbahasa Arab (suku Quraisy). Kendati sangat minim
didapatkan informasi tentang sejarah kehidupan manusia di daerah tersebut dalam
kurun waktu antara 400-571 an Masehi. Dengan kata lain, penulis bisa katakan
dalam sejarah peradaban dunia, sejarah di jazirah arab khususnya sebelum
datangnya Islam ‘dianggap’ tidak ada, atau lebih tepatnya dihilangkan dari peta
sejarah peradaban dunia.
Sebagian penulis sejarah Islam
biasanya membahas Arab Pra-Islam sebelum menulis sejarah Islam pada masa
Muhammad (570-632 M) dan sesudahnya. Mereka menggambarkan runtutan sejarah yang
saling terkait satu sama lain yang dapat memberikan informasi lebih
komprehensif tentang Arab dan Islam tentang geografi, sosial, budaya, agama,
ekonomi, dan politik Arab pra-Islam dan relasi serta pengaruhnya terhadap watak
orang Arab dan doktrin Islam. Kajian semacam ini memerlukan waktu dan referensi
yang tidak sedikit, bahkan hasilnya bisa menjadi sebuah buku tersendiri yang
berjilid-jilid seperti al-Mufaṣṣal fī Tārīkh al-‘Arab qabla al-Islām karya
Jawād ‘Alī. Oleh karena itu, kita hanya akan mencukupkan diri pada pembahasan
data-data sejarah yang lebih familiar dan gampang diakses mengenai hal itu.
Sementara itu, di Tengah Jazirah Arab, di mana
terdapat tanah suci Mekkah dan sekitarnya tidak dikuasai oleh Romawi, Persia,
maupun Habasyah. Allah telah menjaga kehormatan tanah dan penduduk disana.
Bahkan sejak masa imperialisme Barat yang menjajah dunia Islam, tak ada yang
bisa menguasai negeri suci ini karena Allah telah menjaga kesuciannya. Sebagai tempat kelahiran bangsa Semit,
semenanjung Arab menjadi tempat menetap orang-orang yang kemudian bermigrasi ke
wilayah Bulan Sabit Subur, yang kelak dikenal dalam sejarah sebagai bangsa
Babilonia, Assyira, Pholenisia, dan Ibrani. Sebagai tempat munculnya tradisi
Semit sejati, wilayah gurun pasir Arab merupakan tempat lahirnya tradisi
Yahudi, dan kemudian Kristen yang secara bersama-sama membentuk karakteristik
rumpun Semit yang telah dikenal baik.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
asal-usul Perkembangan Arab pra Islam?
2.
Bagaimana
Perkembangan Arab pra Islam?
3.
Bagaiman
kondisi social era Pra Islam?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Asal Usul
Bangsa Arab Pra Islam
Bangsa Arab adalah ras Semit yang tinggal di sekitar jazirah Arabia. Bangsa Arab purbakala adalah masyarakat terpencil sehingga sulit dilacak riwayatnya. Sedangkan bangsa arab termasuk dalam keturunan ras bangsa Caucasoid.
Bangsa arab terbagi atas dua kelombok besar, yaitu:
1. Arab Baidah
Arab Baidah ialah bangsa
Arab yang sudah tidak ada lagi, di antaranya telah tercatat dalam kita agama samawi dan syair-syair arab seperti kaum Tsamud, Ad, Jadis, dan
Thasm. Rata-rata kehidupan peradaban mereka maju dalam bidang pertanian,
peternakan, dan kerajinan. Hal tersebut karena letaknya yang strategis diantar
jalur perniagaan internasional saat itu, maka banyak penduduknya menjadi
saudagar ulung.
2. Arab Baqiah (mereka ini masih ada) terbagi pada dua kelompok:
Keturunan Baqiah masih ada
sampai sekarang, mereka terbagi dalam dua kelompok diantarnya adalah Arab Aribah yaitu kelompok yang bernenek moyang bangsa Qathan di Yaman. Kedua Arab Musta'ribah yang Kebanyakan dari penduduk
Arabia yang mendiami bagian tengah Jazirah Arabia dari Hejaz sampai ke Syam.
Kelompok Arab Musta'arabah inilah yang mendiami Mekkah tinggal bersama Nabi Ibrahim hingga terjadi percampuran (Perkawinan) yang kemudian
melahirkan suku Arab termasuk suku Quraisy, yang tumbuh dari induk suku Adnan.
Sejarah
Arab erat kaitannya dengan Ka’bah. Sejarah Ka’bah di Makkah dimulai dengan
kedatangan Ibrahim beserta istri dan anaknya Ismail yang masih bayi. Ismail
yang memiliki Mu’jizat dan kemuliaan
telah mendapat penghormatan besar, dan segenap orang dipenjuru Jazirah Arab
berdatangan ke sana. Oleh karena itu Ibrahim bersama putranya Ismai membangun
Ka’bah. Pembangunan ini dilakukan agar Ka’bah bisa dijadikan tempat mngerjakan
Syi’ar Agama Ibrahim. Maka setelah itu diserulah umat manusia oleh Ibrahim
untuk mengerjakan haji. Semenjak itu berdatanganlah manusia dari segenap
penjuru dari berbagai macam negeri ke Makkah untuk mengerjakan ibadah Haji.
Menurut Mukhtar Yahya sejarah kedatangan Khuza’ah ke
Makkah secara besar-besaran adalah ketika orang-orang arab Yaman yang berasal
dari kota Ma’arib hendak merantau di wilayah lain. Di tengah perjalanan
sampailah mereka di pinggiran kota Makkah. Orang Khuza’ah mengadakan negoisasi
kepada penguasa Jurhum untuk tinggal beberapa hari di wilayah Makkah guna
istirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Namum konon orang-orang Jurhum
mengusir secara kasar mereka, tentu hal tersebut sangat menyakitkan hati bagi
suku Khuza’ah. Akibatnya terjadilah peperangan di antara kedua suku tersebut.
Dalam peperangan tersebut Khuza’ah memperoleh kemenangan.[14] Seiringnya waktu maka Khuza’ah memegang
dua kekuasaan yang sebelumnya dipegang Jurhum, yaitu kekuasaan kenegaraan dan
kekuasaan keagamaan.
Peradaban timur tengah dipengaruhi oleh bangsa yunani
dan romawi. Pendapat ini diperkuat oleh Ahmad Amin yang dikutip oleh Badri
Yatim, dia memaparkan bahwa apa yang berkembang menjelang kebangkitan Islam
merupakan pengaruh dari budaya-budaya bangsa disekitarnya yang jauh lebih maju
dari pada kebudayaan dan peradaban Arab. Pengeruh tersebut masuk ke Jazirah
Arab melalu beberapa jalur, diantaranya melalui perdagangan, melalui politik
kerajaan, dan masuknya misi Yahudi dan Kristen. Melalui perdangan bangsa arab
telah berhubungan dengan bangsa Syiria, Habsyi, Mesir, dan Romawi, yang mana
peredaban mereka telah mendapat pengaruh dari kebudayaan Yunani.
B.
Kondisi Bangsa Arab Pra Islam
1.
Kondisi Geografis
Jazirah Arab dikelilingi oleh tiga lautan, yaitu laut merah di barat,
samudera Hindia di Selatan, dan Teluk Persia di timur. Letak geopolitik ini
sangat menguntungkan bagi kondisi sosial, ekonomi, dan politik bangsa Arab. Keadaan tanahnya sebagian besar terdiri dari Padang Pasir tandus, bukit dan batu, terutama bagian
tengah. Sedang bagian selatan atau bagian pesisir pada umumnya tanahnya cukup subur.
Untuk wilayah bagian Tengah terbagi pada:
a. Sahara Langit atau disebut pula Sahara Nufud memanjang
140 mil dari utara ke selatan dan 180 mil dari timur
ke barat. Oase
dan mata air sangat jarang, tiupan
angin sering kali menimbulkan kabut debu yang mengakibatkan daerah
ini sukar ditempuh;
b. Sahara Selatan disebut al-Ru'ul
Khali yang membentang dan menyambung
sahara Langit kearah timur sampai selatan
persia. Hampir seluruhnya merupakan daratan Keras,
tandus, dan pasir bergelombang;
c. Sahara Harrat, suatu daerah yang terdiri dari
tanah liat yang berbatu hitam bagaikan Terbakar.
Kondisi alam/tanah adalah:
- Kering dan tandus, kalaupun ada air hanyalah Oase atau Mata Air ini.
- Menyebabkan penduduknya suka berpindah-pindah (Nomaden) dari satu wilayah ke wilayah lain, oleh para ahli mereka disebut suku Badui.
- Dari segi pekerjaan mereka umumnya bekerja menggembalakan kambing dan binatang ternak lainnya.
Sementara wilayah bagian Pesisir, yaitu terdiri wilayah pesisir Laut Merah, Samudera Hindia dan Teluk Persi, sehingga kondisi tanahnya:
- Sangat subur, di tempat ini banyak dilakukan usaha pertanian;
- Di samping itu juga dilakukan usaha perdagangan;
- Penduduknya menetap dan sangat padat.
2.
Kondisi Sosial
Keadaan
bangsa Arab yang hidup di daerah padang pasir yang tandus, sedikit
banyaknya turut membuat corak kehidupan mereka berjalan agak keras, penuh persaingan, perebutan kekuasaan antara satu kabilah dengan kabilah lainnya. Siapa yang kuat, gagah perkasa itulah yang memimpin. Dalam hidup bermasyarakat, bangsa Arab
sangat dilungkupi kehidupan keduniawian. Mereka sangat menggemari hal-hal berikut ini:
1. Syair; dengan syair, orang bisa dipuji/mulia dan dihina. Dari syair ini akan tergambar kehidupan sosial bangsa Arab.
2.
Minum khamar, kendati di antara mereka ada pula yang mengharamkan hal ini;
3. Ada pula adat (tradisi) pada saat itu kebiasaan “mengawini isteri bapa”yang telah meninggal dunia;
4. Menganggap hina kaum perempuan;
5. Menguburkan anak perempuan, namun hal ini menurut Sallabi, ini hanya dilakukan oleh Bani Asad
dan Tamim;
6. Sementara mereka yang pandai membaca saat itu hanyalah sebanyak 17
orang;
7. Perbudakan suatu hal yang biasa terjadi pada masa Arab
pra-Islam. Mereka ini memelihara dan mempertahankan perbudakan.
Negara Hijaz tidak
pernah dijajah, diduduki, atau dipengaruhi oleh bangsa asing. Hal ini
disebabkan karean kondisi geografis dan kemiskinan negerinya sehingga tidak
menimbulkan hasrat bangs asing untuk menjajahnya. Dan disebabkan karena Hijaz
sejak zaman Ibrahim telah menjadi Ka’bah bagi bangsa Arab. Mereka bekarja
bersama-sama memelihar, menjaga kemananan, dan menjauhkan penjajah dari
negerinya.
3.
Kebudayaan
Akibat peperangan secara terus menerus kebudayaan arab
tidak berkembang. Karena itu, artefak sejarah arab pra islam sangat langka
didapatkan di dunia Ara dan yang dalam bentuk bahasa arab. Sejarah mereka hanya
dapat diketahui dari masa kira-kira 150 tahun menjelang lahirnya islam.
Dalam kehidupan seni dan budaya orang-orang arab
sebelum islam sangat maju. Bahasa mereka sangat indah dan kaya. Syair-syair
berjumlah banyak. Di kalangan mereka seorang penyair dan ahli berpidato
(khitabah) sangat dihormati. Tiap tahun di “Pasar Ukaz” diadakan deklamasi
sajak yang sangat luas. Hal lain yang sangat dipentingkan oleh orang arab
Jahiliyah adalah catatan keturunan (nasab), nasab digunakan untuk
bermegah-megahan dan ajang pamer dengan lawannya.
Orang-orang Arab sebelum Islam tidaklah bodoh
melainkan cerdas. Kata jahiliyah yang melekat pada Arab Jahiliyah berasal dari kata jahl tetapi
yang dimaksud disini bukan jahl lawan dari ‘ilm yaitu tidak berilmu, melainkan lawan dari hilm yaitu Safah, Ghadad, anfah (sedai, berang, tolol). Jadi pengertian
Arab Jahiliyah yang sebenarnya adalah orang-orang Arab sebelum Islam yang
membangkang kepada kebenaran, terus melawan kebenaran, sekalipun telah
diketahui olehnya kebenaran itu.
4.
Kondisi Ekonomi
Kondisi Jazirah arab yang bergurun sangat cocok
digunakan untuk berdagang sebagai penunjang kemapanan ekonomi. Orang-orang
quraisy berdagang sepanjang tahun. Di musim dingin mereka mengirim khalifah
dagang ke Yaman, sementara di musim panas kalifah dagang menuju ke Syam.
Perdagangan yang paling ramai di Makkah adalah pada bulan Zulqaidah, Zulhijjah,
dan Muharram yang mana itu merukan musim “Pasar Ukaz.” Begitu pula di bulan
Rajab, karena di bulan Rajab banyak dikerjakan Umrah. Bulan-bulan tersebut tadi
mereka namai dengan “Asyhuru’I Hurum” atau bulan-bulan yang terlarang. Termasuk
di dalamnya adalah larangan melakukan peperangan di bulan tersebut.Faktor yang
menjadikan Makkah memiliki peranan dalam perdagangan adalah ketika negeri Yaman
di Selatan berpindah ke Makkah karena negerinya dijajah oleh bangsa Habsyi dan
Persia sehingga perniagaan laut dikuasai oleh penjajah. Perpindahan bangsa
Yaman Ke Makkah sangat menguntungkan penduduk Makkah, karena bangsa Yaman
sangat piawai dan berpengalaman luas dalam bidang perdagangan. Bangsa Arab yang
yang nomaden umumnya bekerja sebagai penggembala. Mereka ini juga kadangkala menjadi pengawal para kafilah dagang yang umumnya dari penduduk perkotaan. Sementara Arab bagian selatan, pesisir atau perkotaan umumnya mereka lebih banyak bergerak di bidang perdagangan (niaga). Perdagangan ini mereka lakukan sampai ke negeri India, Indonesia dan
Cina.
5.
Kondisi Politik
Secara global-teritorial, Arab
merupakan negeri yang terletak di semenanjung Arab yang dikelilingi tiga
lautan, yaitu Laut Merah di Barat, Samudera Hindia di Selatan, dan Teluk Persia
di sebelah Timur. Letak geopolitik ini berdampak signifikan pada kondisi sosial
bangsa Arab. Negeri Yaman misalnya, diperintah oleh bermacam-macam suku dan
pemerintahan yang terbesar adalah masa pemerintahan Tababi’ah dari kabilah
Himyar. Di bagian Timur Jazirah Arab, dari kawasan Hirah hingga Iraq, yang ada
hanya daerah-daerah kecil yang tunduk kepada kekuasaan Persia hingga datangnya
Islam. Raja-raja Munadzirah sama sekali tidak berdiri sendiri dan tidak
merdeka, tetapi tunduk secara politis di bawah kekuasaan raja-raja Persia.
Bagian Utara Jazirah Arab sama dengan bagian Timur, karena di daerah itu juga
tidak ada pemerintahan bangsa Arab yang murni dan merdeka. Semua raja di sini
tunduk di bawah kekuasaan Romawi. Raja-raja Ghasasanah semuanya serupa dengan raja-raja Munadzirah. Sementara itu, di Tengah Jazirah Arab, di mana terdapat
tanah suci Mekkah dan sekitarnya, kaum Adnaniyyin menjadi penguasa yang
independen, tidak dikuasai oleh Romawi, Persia, maupun Habasyah. Allah telah
menjaga kehormatan tanah dan penduduk disana. Bahkan sejak masa imperialisme
Barat yang menjajah dunia Islam, tak ada yang bisa menguasai negeri suci ini
karena Allah telah menjaga kesuciannya.
Bangsa arab zaman
Jahiliyah tidak mempunyai bentuk pemerintahan terkenal yang besar. Mereka hanya
memiliki kabilah-kabilah yang mana tugas pemimpin hanya mengurus hal-hal dalam
keadaan perang dan damai. Perang sering terjadi antara kabilah dan suku, ganti
berganti, terjadinya selama bulan haram, dalam masa mana berlangsung “pasar
Ukaz”. Peperangan terjadi biasanya disebabkan oleh hal yang sepele dan remeh. Ditambah
lagi dengan kenyataan luasnya daerah di tengah Jazirah Arab, bengisnya alam,
sulitnya transportasi, dan merajalelanya badui yang merupakan faktor-faktor
penghalang bagi terbentuknya sebuah negara kesatuan dan menggagalkan tatanan
politik yang benar. Mereka tidak
mungkin menetap. Mereka hanya bisa loyal ke kabilahnya. Oleh karena itu, mereka
tidak akan tunduk ke sebuah kekuatan politik di luar kabilahnya yang menjadikan
mereka tidak mengenal konsep negara. Kondisi semacam ini sangat mempengaruhi
corak perekonomian orang Arab pra-Islam yang sangat bergantung pada perdagangan
daripada peternakan apalagi pertanian. Mereka dikenal sebagai pengembara dan
pedagang tangguh. Mereka juga sudah mengetahui jalan-jalan yang bisa dilalui
untuk bepergian jauh ke negeri-negeri tetangga. Adalah Hāshim (lahir 464 M), kakek buyut Nabi, yang pertamakali
membudayakan bepergian bagi suku Quraysh pada musim dingin ke Yaman dan ke
Ḥabashah ke Negus dan pada musim panas ke Syam dan ke Gaza dan barangkali
hingga sampai di Ankara lalu menemui kaisar. Ini merupakan perdangan lintas negara yang biasa mereka lakukan. Mereka
juga bisa menjalin hubungan perdagangan dengan dua kekuatan politik yang saling
bertentangan, yaitu Bizantium dan Persia tanpa memihak ke salah satu di antara
keduanya. Oleh karena itu, peradaban mereka dipengaruhi oleh aktivitas
perdagangan dalam arti bahwa mereka berinteraksi dengan masyarakat-masyarakat
seberang dan semakin menjauh dari pola badui. Jauh berbeda dengan Yaman, selain
letak geografisnya yang strategis untuk perdagangan, ia juga merupakan daerah
subur. Dengan dua kelebihan yang ada, mereka bisa mengandalkan perdangangan dan
pertanian sebagai sumber ekonomi mereka. Mereka mengirim kulit, sutera, emas,
perak, batu mulia, dan lain-lain Mesir kemudian ke Yunani, Rumania, dan
imperium Bizantium. Kerajaan Ma`īn, Saba`, dan Ḥimyar yang ada di Yaman
mencapai stabilitas politik dan ekonomi, bahkan menciptakan kehidupan yang
beradab dengan tersebarnya pasar-pasar dan bangunan-bangunan
menakjubkan yang bersandar pada pertanian dan perdangangan yang sangat maju.
Ini menunjukkan bahwa pengetahuan mereka tentang ekonomi dan politik lebih maju
daripada daerah-daerah lain di Jazirah Arab, sehingga merengkuh lebih awal
peradaban yang tinggi.
6.
Kondisi Agama
Sementara dalam bidang agama (kepercayaan) pada umumnya mereka adalah kaum penyembah berhala atau paganisme. Menurut catatan sejarah, di dinding Ka’bah terdapat 360buah patung. Bangsa Arab senang memuliakan batu-batu yang ada di sekeliling Ka’bah/Mekkah kemana mereka pergi selalu membawa batu
tersebut, untuk kemudian thawaf mengelilingi batu yang dibawanya itu, sehingga di mana-mana dibentuk patung.
Patung-patung dan berhala itu mereka kumpulkan di sekitar Ka’bah untuk disembah. Pada awalnya mereka menyembah berhala adalah hanya untuk
mendekatkan diri kepada Tuhan (Allah), atau dengan kata
lain berhala sebagai perantar untuk menyembang Tuhan. Agama kedua yang
dianut oleh bangsa arab adalah agama monoteisme, agama hanif yang dibawa oleh
Nabi Ibrahim. Pengikut agama ini sangat sedikit, bahkan ketika islam sudah ada
merekat tidak segera mengimaninya. Selain itu ada agama Masehi (kristen) yang
dianut oleh Waraqah Ibn Naufal yang mengetahui banyak tentang injil. Namun
ketika datangnya islam, Usman Ibn Hawairis dan Abdullah Ibn Jashy ragu terhadap
kebenaran islam dan lebih memilih untuk kembali memantapkan dalam menganut
agama Masehi. Agama ketiga yang dipercayai oleh bangsa arab adalah agama
Shabiah yang menyembah binatang, matahari, bintang. Selain itu ada juga
yang menyembah binatang dan mempercayai malaikat sebagai anak perempuan Tuhan
serta menyembah jin.
Dalam hal ini menurut teori Ibnu Kalbi: Bangsa Arab senang memuliakan batu-batu yang ada di sekeliling Ka’bah/Mekkah kemana mereka pergi selalu membawa batu tersebut, untuk kemudian thawaf mengelilingi batu yang dibawanya itu, sehingga di mana-mana dibentuk patung. Patung-patung dan berhala itu mereka kumpulkan di
sekitar Ka’bah untuk disembah. Di sisi lain, mereka menyembah
berhala adalah hanya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan (Allah):
ألا لله الدين الخالص ، والذين أتخذوا من دونه أوليآء مانعبدهم إلا ليقربونآ إلى لله زلف إن لله يحكم بينهم فى ما هم فيه يختلفون إن لله لا يهدى من هو كذب كفار
Artinya : Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah
agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung
selain Allah (berkata): “Tidaklah kami menyembah mereka (berhala), melainkan supaya mereka
mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan
memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya.
Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar (Az Zumar: 3).
Waktu terus
bergulir sekian lama, hingga banyak diantara mereka yang melalaikan ajaran yang
pernah disampaikan kepada mereka. Sekalipun begitu masih ada sisa-sisa tauhid
dan beberapa syiar dari agama Ibrahim, hingga muncul Amr Bin Luhay,
(Pemimpin Bani Khuza’ah). Dia tumbuh sebagai orang yang dikenal baik,
mengeluarkan shadaqah dan respek terhadap urusan-urusan agama, sehingga semua
orang mencintainya dan hampir-hampir mereka menganggapnya sebagai ulama besar
dan wali yang disegani. Kemudian Amr Bin Luhay mengadakan perjalanan ke
Syam.Disana dia melihat penduduk Syam menyembah berhala. Ia menganggap hal itu
sebagai sesuatu yang baik dan benar. Sebab menurutnya, Syam adalah tempat para
Rasul dan kitab. Maka dia pulang sambil membawa HUBAL dan
meletakkannya di Ka’bah. Setelah itu dia mengajak penduduk Mekkah untuk membuat
persekutuan terhadap Allah. Orang orang Hijaz pun banyak yang mengikuti
penduduk Mekkah, karena mereka dianggap sebagai pengawas Ka’bah dan penduduk
tanah suci. Pada saat itu, ada tiga berhala yang paling besar yang ditempatkan
mereka ditempat-tempat tertentu, seperti:
1. Manat, mereka
tempatkan di Musyallal ditepi laut merah dekat Qudaid.
2. Lata, mereka
tempatkan di Tha’if.
3. Uzza, mereka
tempatkan di Wady Nakhlah.
Banyak lagi tradisi penyembahan yang mereka
lakukan terhadap berhala-berhalanya, berbagai macam yang mereka perbuat demi
keyakinan mereka pada saat itu. Bangsa Arab berbuat seperti itu terhadap
berhala-berhalanya, dengan disertai keyakinan bahwa hal itu bisa mendekatkan
mereka kepada Allah dan menghubungkan mereka kepada-Nya, serta memberikan
manfaat di sisi-Nya. Setelah itu, kemusyrikan semakin merebak dan
berhala-berhala yang lebih kecil bertebaran disetiap tempat di Hijaz. Yang
menjadi fenomena terbesar dari kemusyrikan bangsa Arab kala itu yakni mereka
menganggap dirinya berada pada agama Ibrahim. Ada beberapa contoh tradisi
dan penyembahan berhala yang mereka lakukan, seperti :
1. Mereka
mengelilingi berhala dan mendatanginya, berkomat-kamit dihadapannya, meminta
pertolongan tatkala kesulitan, berdo’a untuk memenuhi kebutuhan, dengan penuh
keyakinan bahwa berhala-berhala itu bisa memberikan syafaat disisi Allah
dan mewujudkan apa yang mereka kehendaki.
2.
Mereka menunaikan Haji dan Thawaf disekeliling
berhala, merunduk dan bersujud dihadapannya.
3.
Mereka mengorbankan hewan sembelihan demi
berhala dan menyebut namanya.
Selain itu terdapat pula agama/kepercayaan lain di antaranya
adalah Agama Nasrani yang masuk melalui
Habsyi dan Syiri'a. Agama Yahudi terdapat di Hejaz, dan yang terakhir adalah orang-orang yang percaya kepada: Tahayul, Kihanah, Penenung, Thiarah: burung, bintang yang mempengaruhi hidup. Dalam kaitan ini Syaikhul Islam Muhammad Bin Abdul Wahab menyatakan, di antara sikap hidup mereka (orang Arab Jahiliyah, pen.) lagi ialah mengubah haluan hidup, tidak mau mempergunakan Kitab Allah, tetapi justru menjadikan kitab-kitab sihir sebagai pegangan hidup mereka.
C.
Suku Quraisy
Kedudukan kaum Quraisy sangat dimuliakan dan
berderajat tinggi dalam pandangan bangsa arab seluruhnya. Mereka dimuliakan dan
dihormati oleh seluruh penduduk Jazirah arab. Adapun keluarga yang lebih
dimuliakan dalam suku Quraisy adalah bani Abdi Manaf, selain itu adalah bani
Hasyim. Nabi Muhammad adalah keturunan bani Hasyim, bernama lengkap
Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim. Diantara keturunan nabi
Ismail yang bisa beregenerasi adalah keturunan dari kaum Adnan. Dari Adnan
keturunan Ismail dikenal dengan sebutan Bani Adnan atau Adnaniyun. Dari bani
Adaan turun temurun menurunkan Fihr Bin Malik, dan Fihr inilah yang disebut
Quraisy. Antara Quraisy dengan Adnan dalam garis keturunan berjarak beberapa
generasi. Dari suku Quraisy inilah lahirlah seorang pemimpin yang bernama Qushi
bin Kilab]. Dia adalah orang yang kuat, cerdas, berwibawa, dan ditaati. Dialah yang
telah merintis perbaikan infrastuktur seperti mendatarkan jalan, selain itu dia
juga menjadi pelopor untuk mengaakan perpindahan kekuasaan dari tangan Khuza’ah
ket tangan suku Quraisy. Sejarah peradaban arab paling modern pra Islam dimulai
dari penguasaan orang Quraisy di wilayah Arab yang dipimpin oleh nenek moyang
nabi Muhammad yaitu oleh Qusha’i. Ketika musim haji datang orang Quraisy gemar
menyajikan makanan pada orang-orang yang berhaji. Orang Quraisy sangat
menghormati orang-orang yang berhaji. Maka tak ayal ketika suku Quraisy
mengadakan perjalanan jual beli ke luar daerah juga sangat dihormati. Pada abad
5 Masehi kaum Quraisy merebut pemerintahan Makkah beserta Ka’bah dari Khuza’ah.
Setelah dipimpin kaum Quraisy Makkah menjadi lebih maju. Kemudian didirikanlah
pemerintahan yang diperkasai oleh kaum Qurasiy. Pada zaman Abdul Muthalib kota
Makkah lebih maju dan telaga Zamzam disempurnakan pemugarannya, yaitu sekitar
abad 540 M. Seiring berjalannya waktu melihat kondisi miskin dan kesempitan
akses sosial ke luar Makkah, maka salah seorang pemimpin bani Qurasiy yaitu
Hasyim mengadakan negoisasi ke Syiria yaitu daerah kekuasaan Romawi Timur.
Negoisasasi tersebut berhasil, pemimpin Romawi Timur menjami keamanan dan
perniagaan mereka. Maka setelah itu Hasyim mengatur dua macam jalur
perdagangan. Pertama perjalanan di musim panas ke Syiria, dan kedua perjalan
musim dingin ke Yaman.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
bangsa arab
termasuk dalam keturunan ras bangsa Caucasoid. Bangsa arab terbagi atas dua
kelombok besar, yaitu:
1. Arab Baidah
Arab Baidah ialah bangsa Arab yang sudah tidak ada lagi, di
antaranya telah tercatat dalam kita agama
samawi dan syair-syair arab seperti kaum Tsamud, Ad, Jadis, dan Thasm. Rata-rata
kehidupan peradaban mereka maju dalam bidang pertanian, peternakan, dan
kerajinan. Hal tersebut karena letaknya yang strategis diantar jalur perniagaan
internasional saat itu, maka banyak penduduknya menjadi saudagar ulung.
2. Arab Baqiah (mereka ini masih ada) terbagi pada dua kelompok:
Keturunan Baqiah
masih ada sampai sekarang, mereka terbagi dalam dua kelompok diantarnya adalah Arab Aribah yaitu kelompok yang bernenek moyang bangsa Qathan di Yaman. Kedua Arab Musta'ribah yang Kebanyakan dari penduduk
Arabia yang mendiami bagian tengah Jazirah Arabia dari Hejaz sampai ke Syam.
Kelompok Arab Musta'arabah inilah yang mendiami Mekkah tinggal bersama Nabi Ibrahim hingga terjadi percampuran (Perkawinan) yang kemudian
melahirkan suku Arab termasuk suku Quraisy, yang tumbuh dari induk suku Adnan.
B.
SARAN-SARAN
Kami minta
kepada sahabat-sahabat yang berkesempatan membaca makalah ini, yang tentunya
tidak lepas dari kesalahan-kesalahan dari pembuatan makalah ini, mohon di
diberikan saran untuk pengembangan kedepannya dalam membuat makalah.
DAFTAR PUSTAKA
“Kondisi Bangsa Arab Pra Islam,” http://mahluktermulia.wordpress.com/2010/05/13/kondisi-bangsa-arab-pra-islam/.
“Sejarah Arab Pra Islam,” http://spistai.blogspot.com/2009/03/sejarah-arab-pra-islam.html, Senin, 02
Maret 2009.
Al Jazairi, Abu Bakar
Jabir. Muhammad, My Beloved Prophet. 2007.
Al-farisi, Rudi Arlan. “Sejarah Peradaban Arab Pra Islam,” http://msubhanzamzami.wordpress.com/2010/10/18/kondisi-arab-pra-islam-dalam-aspek-sosial-budaya-agama-ekonomi-dan-politik/.
As-Sirjani, Raghib. Sumbangan Peradaban Islam pada
Dunia, terj. Sonif . Jakarta: al Kautsar, 2011.
Departemen Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an
dan Terjemahannya. Surabaya: Duta Ilmu, 2005.
Hasjmy, A. Sejarah Kebudayaan
Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1995.
Hollan, Julian. “Timur Tengah,” Ensikopedia Sejarah
dan Budaya Sejarah Dunia, ed. Nino Oktorino. Jakarta: Lentera Abadi, 2009.
Mufrodi, Ali. Islam di Kawasan
Kebudayaan Arab. Jakarta: Logos, 1997.
Syalabi, A. Sejarah da Kebuayaan
Islam. Jakarta: Pustaka al Husna,1992.
Taufiqqurahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat
Islam Daras Sejarah Peradaban Islam. Surabaya: Pustaka Islamika, 2003.
Yahya, Mukhtar. Perpindahan-perpindahan Kekuasaan
di Timur Tengah. Jakarta: Bulan Bintang, 1985.
Yatim, Badri Sejarah Peradaban
Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2000.
No comments:
Post a Comment