BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setelah khalifah Abbasiyah di Bagdad runtuh akibat serangan tentara Mongol,
kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilayah
kekuasaannya tercabik-cabik dalam beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain bahkan
saling memerangi. Beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam banyak yang
hancur akibat serangan bangsa Mongol itu. Namun, kemalangan tidak berhenti
sampai disitu. Timur Lenk, pemimpin bangsa mongol saat itu, juga menghancurkan
pusat-pusat kekuasaan Islam yang lain.
Keadaan politik umat islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan
kembali setelah dan berkembangnya tiga kerajaan besar : Usmani di Turki, Mughal
di India, dan Safawi di Persia. Dimasa
tiga kerjaan besar ini kejayaan masing-masing terutama dalam bentuk literatur
dan arsitek. Kemajuan umat islam di zaman ini lebih banyak merupakan warisan
kemajuan pada masa priode klasik. Perhatian di ilmu pengetahuan masih kurang.
Tentu saja bila dibandingkan kemajuan yang dicapai pada masa dinasti Abbsyiah,
khususnya di bidang ilmu pengetahuan.
Ada dua aspek menarik dari pengkajian sejarah kerajaan Safawi pada
1501-1722 M. Pertama lahir kembali dinasti Safawi adalah kebangkitan kembali
kejayaan Islam, sebelumnya pernah mengalami masa kecemerlangan. Kedua, dinasti
Safawi telah memberikan Iran semacam “Negara Nasional” dengan identitas baru
yaitu aliran Syiah yang menurut G.H. Jansen merupakan landasan bagi perkembangan
Nasionalisme Iran modern.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Proses Berdirinya Kerajaan Safawi ?
2. Bagaimana Kemajuan Peradaban Islam pada Masa Kerajaan Safawi di Persia ?
3. Bagaimana Masa Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Safawi ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Proses Berdirinya Kerajaan Safawi
Awalnya kerajaan ini berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di
Ardabila, sebuah kota di Azerbaijan, Tarekat ini diberi nama Tarekat
Safawiyah, yang diambil dari nama pendirinya Safi Al-din (1252-1334
M), dan nama itu terus dipertahankankan
sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan, nama itu terus dilestarikan
setelah gerakan ini berhasil mendirikan Kerajaan.Menurut Harun Nasution, di
Persia muncul suatu dinasti yang kemudian merupakan suatu kerajaan besar di
dunia Islam. Dinasti ini berasal dari seorang sufi bernama Syekh Ishak
Safiuddin dari Ardabila di Azerbaijan.
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa penggagas awal berdirinya Kerajaan
Safawi adalah Syekh Ishak Safiuddin dari Ardabila di Azerbaijan atau dikenal
dengan Safi Al-Din, yang semula hanya sebagai mursyid tarekat dengan
tugas dakwah agar umat Islam secara murni berpegang teguh pada ajaran
agama. Namun pada tahun selanjutnya setelah memperoleh banyak pengikut fanatik
akhirnya aliran tarekat ini berubah menjadi gerakan politik dan diteruskan
mendirikan sebuah kerajaan. Perkembangan peradaban Islam di Persia dimulai
sejak berdirinya kerajaan Safawi, yang dipelopori oleh Safi Al-Din sejak tahun
1252 hingga 1334 M. Kerajaan ini berdiri di saat Kerajaan Turki Usmani mencapai
puncak kejayaannya.
v
Silsilah Raja-Raja Kerajaan Safawi :
·
Safi Al-Din (1252-1334 M)
·
Sadar Al-Din Musa (1334-1399 M)
·
Khawaja Ali (1399-1427 M)
·
Ibrahim (1427-1447 M)
·
Juneid 1447-1460 M)
·
Haidar 1460-1494 M)
·
Ali (1494-1501 M)
·
Ismail (1501-1524 M)
·
Tahmasp I (1524-1576 M)
·
Ismail II (1576-1577 M)
·
Muhammad Khudabanda (1577-1787 M)
·
Abbas I (1588-1628 M)
·
Safi Mirza (1628-1642 M)
·
Abbas II (1642-1667 M)
·
Sulaiman (1667-1694 M)
·
Husen (1694-1722 M)
·
Tahmasp II (1722-1732 M)
·
Abbas III (1732-1736 M)
Safi Al-Din berasal dari keturunan
yang berada namun ia memilih sufi
sebagai jalan hidupnya. Ia keturunan dari Imam Syi’ah yang keenam, Musa
Al-Kazhim. Gurunya bernama Syaikh Taj Al-Din Ibrahim Zahidi (1216-1301) yang
dikenal dengan julukan Zahid Al-Gilani, karena prestasi dan ketekunannya dalam
kehidupan tasawuf, Safi Al-Din dijadikan menantu oleh gurunya tersebut. Safi
Al-Din mendirikan tarekat Safawiyah setelah ia menggantikan guru sekaligus
mertuanya yang wafat tahun 1301 M, pengikut tarekat ini sangat teguh memegang
ajaran agama. Pada mulanya gerakan tasawuf Safawiyah ini bertujuan memerangi
orang-orang ingkar dan golongan “ahli-ahli bid’ah”. Namun pada perkembangannya,
gerakan tasawuf yang bersifat lokal ini berubah menjadi gerakan keagamaan yang
mempunyai pengaruh besar di Persia, Syria dan Anatolia. Di negeri-negeri yang
berada di luar Ardabil inilah, Safi Al-Din menempatkan seorang wakil yang
diberi nama Khalifah untuk memimpin murid-muridnya di daerah masing-masing.
Suatu ajaran Agama yang dipegang secara fanatik biasanya kerapkali
menimbulkan keinginan di kalangan ajaran itu untuk berkuasa. Oleh karena itu,
lama kelamaan murid-murid tarekat Safawiyah berubah menjadi tentara yang
teratur, fanatik dalam kepercayaan dan menentang setiap orang yang bermazhab
selain Syi’ah.
Dalam dekade 1447 – 1501 M Safawi memasuki tahap gerakan politik, sama
halnya dengan gerakan sanusiyah di Afrika Utara, Mahdiyah di Sudan dan
Maturdiyah serta Naksyabandiyah di Rusia. Kecenderungan memasuki dunia politik
secara konkrit tampak pada masa kepemimpinan Juneid (1447-1460 M). Dinasti
safawi memperluas gerakannya dengan menambahkan kegiatan politik pada kegiatan
keagamaan. Perluasaan kegiatan ini ternyata menimbulkan konflik antara Juneid
dengan kekuatan politik yang ada di Persia waktu itu, misalnya konflik politik
dengan kerajaan-kerajaan Kara Koyunlu (domba hitam) salah satu suku bangsa
Turki yang berkuasa di wilayah itu yang
bermahzhab Sunni di bawah kekuasaan Imperium Usmani. Karena konflik tersebut
maka ia mengalami kekalahan dan diasingkan ke suatu tempat. Di tempat baru ini
ia mendapat perlindungan dari penguasa Diyar Bakr, AK. Koyunlu (domba putih),
juga suatu suku bangsa Turki. Ia tinggal di istana Uzun Hasan, yang ketika itu
menguasai sebagian Persia.
Selama dalam pengasingan, Juneid tidak tinggal diam. Ia malah menghimpun
kekuatan untuk kemudian beraliansi secara politik denagn Uzun Hasan. Ia juga
berhasil mempersunting salah seorang saudara perempuan Uzun Hasan. Pada
tahu 1459 M, Juneid mencoba merebut
Ardabil tetapi gagal. Pada tahun 1460 M, ia mencoba merebut Circassia tetepi
pasukan yang dipimpinnya dihadang oleh tentara Sirwan. Ia sendiri terbunuh
dalam pertempuran tersebut. Keteika itu anak Juneid, Haidar, masih kecil dan
dalam asuhan Uzun Hasan. Karena itu, kepemimpinan gerakan Safawi baru bisa
diserahkan kepadanya secara resmi pada tahun 1470 M. Hubungan Haidar dengan
Uzun Hasan semakin erat setelah Haidar mengawini salh seorang putri Uzun Hasan.
Dari perkawinan itu lahirlah Ismail, yang di kemudian hari menjadi pendiri
Kerajaan Safawi di Persia.
Kemenangan AK-Koyunlu terhadap Kara
Koyunlu tahun 1476 M, membuat gerakan militer Safawi yang dipimpin oleh Haidar
dipandang sebagai rival politik oleh AK-Koyunlu dalam meraih kekuasaan yang
selanjutnya. Padahal sebelumnya Safawi adalah sekutu AK Konyulu, tetapi itulah
politik. Ak Konyulu berusaha melenyapkan kekuatan militer dan kekuasaan Dinasti
Safawi. Karena itu, ketika Safawi menyerang wilayah Sircassia dan pasukan
Sirwan, AK Konyulu mengirim bantuan militer kepada Sirwan, sehingga pasukan
Haidar kalah dan Haidar sendiri terbunuh dalam peperangan itu.
Ali, putra dan pengganti Haidar, didesak oleh bala tentranya untuk menuntut
balas atas kematian ayahnya, terutama terhadap AK Konyulu. Tetapi Ya’kub
pemimpin AK Konyulu ketika itu dapat menangkap dan memenjarakan Ali bersama
kedua saudaranya Ibrahim dan Ismail beserta ibunya, di fars selama empat
setengah tahun (1489-1493 M). Mereka dibebaskan oleh Rustam, Putra Mahkota AK
Konyulu, dengan syarat mau membantunya memerangi saudara sepupunya. setelah
saudara sepupu Rustam itu dapat dikalahkan. Ali bersaudara (Ibrahim dan Ismail)
beserta ibunya kembali ke Ardabil. Akan tetapi tidak lama kemudian Rustam
berbalik memusuhi dan menyerang Ali bersaudara pada tahun 1494 M dan Ali
terbunuh dalam serangan ini.
Kepemimpinan gerakan Safawi selanjutnya berada di tangan Ismail, yang saat
itu masih berusia 7 tahun. Selama 5 tahun Ismail beserta pasukannya bermarkas
di Gilan, mempersiapkan kekuatan dan mengadakan hubungan dengan para pengikutnya
di Azerbaijan, Syria, Anatolia. Pasukan yang dipersiapkan itu dinamai Qizilbash
(baret merah). Ismail memanfaatkan kedudukannya sebagai mursyid untuk
mengkonsolidasikan kekuatan politiknya dengan menjalin hubungan dengan para
pengikutnya.
Di bawah pimpinan Ismail, pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbash menyerang
dan mengalahkan AK Konyulu di Sharur dekat Nakhchivan. Pasukan ini terus
berusaha memasuki dan menaklukkan Tabriz, ibu kota AK Konyulu dan berhasil
merebut serta mendudukinya. Di kota inilah Ismail memproklamirkan dirinya
sebagai Raja pertama Dinasti Safawi. Ia disebut juga sebagai Ismail I. Dengan
ia sendiri sebagai Syaikhnya yang pertama dan menetapkan Syi’ah Dua Belas
sebagai agama resmi kerajaan Safawi. Dengan diproklamasikannya kerajaan Safawi
sebagai kerajaan dan ditetapkan pula Syi’ah sebagai agama kerajaan maka
merdekalah Persia dari pengaruh dari kerajaan Usmani dan kekuatan asing
lainnya. Peristiwa inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Kerajaan Safawi
yang akan turut memberikan kontribusi dalam perkembangan kekuasaan Islam.
B. Kemajuan Peradaban Islam pada Masa Kerajaan Safawi di Persia
Pada masa pemerintahan
Ismail, Safawi berhasil mengembangkan
wilayah kekuasaannya sampai ke daerah Nazandaran, Gurgan, Yazd, Diyar Bakr,
Baghdad, Sirwan dan Khurasan hingga meliputi ke daerah bulan sabit subur
(fortile crescent). Kemudian ia beruasaha mengembangkan wilayahnya sampai ke
Turki Usmani tetapi mengadap kekuatan besar dari Kerajaan Turki Usmani tetapi
menghadapi kekuaatan besar dari kerajaan Turki Usmani yang sangat membenci
golongan Syi’ah. Dalam perebutan wilayah ini Safawi mengalami kekalahan yang
menyebabkan Ismail mengalami depresi yang meruntuhkan kebanggaan dan rasa
percaya dirinya sehingga ia menempuh kehidupan dengan cara menyepi dan hidup
hura-hura. Hal ini berpengaruh pada stabilitas politik dalam kerajaan Safawi.
Contohnya adalah terjadinya perebutan kekuasaan antara pimpinan suku-suku
Turki, Pejabat-pejabat keturunan Persia dan Qizilbash.
Keadaan ini baru dapat
diatasi pada masa pemerintahan raja Abbas I. Langkah-langkah yang ditempuh oleh Abbas I untuk memperbaiki situasi adalah
:
1. Menghilang dominasi
pasukan Qizilbash atas kerajaan Safawi dengan membentuk pasukan baru yang
beranggotakan budak-budak yang berasal dari tawanan perang bangsa Georgia,
Armenia dan Srcassia.
2. Mengadakan perjanjian
damai dengan Turki Usmani dengan cara Abbas I berjanji tidak akan menghina tiga
khalifah pertama dalam Islam (Abu Bakar, Unar, Usman) dalam khotbah Jumatnya.
Usaha-usaha tersebut terbukti membawa hasil yang baik dan membuat kerajaan
Safawi kembali kuat. Kemudian Abbas I meluaskan wilayahnya dengan merebut
kembali daerah yang telah lepas dari Safawi maupun mencari daerah baru. Abbas I
berhasil menguasai Herat (1598 M), Marw dan Balkh. Kemudian Abbas I mulai
menyerang kerajaan Turki Usmani dan berhasil menguasai Tabriz, Sirwani, Ganja,
Baghdad, Nakhchivan, Erivan dan Tiflis. Kemudian pada 1622 M Abbas I berhasil
menguasai kepulauan Hurmuz dan mengubah pelabuhan Gumrun menjadi pelabuhan
Bandar Abbas.
Pada masa Abbas I inilah kerajaan Safawi mengalami masa kejayaan yang
gemilang. Diantara bentuk kejayaannya adalah :
1.
Bidang Politik dan Pemerintahan
Pengertian kemajuan
dibidang politik disini adalah terwujudnya integritas wilayah Negara yang luas
yang dikawal oleh suatu angkatan bersenjata yang tangguh dan diatur oleh suatu
pemerintahan yang kuat, serta mampu memainkan peranan dalam percaturan politik
internasional.
Sebagaimana lazimnya
kekuatan politik suatu Negara ditentukan oleh kekuatan angkatan bersenjata,
Syah Abbas I juga telah melakukan langkah politiknya yang pertama, membangun
angkatan bersenjata dinasti Safawi yang kuat, besar dan modern. Tentara
Qizilbash yang pernah menjadi tulang punggung Dinasti Safawi pada awalnya
dipandang Syah Abbas tidak diharapkan lagi, sehingga ia membangun suatu angkatan bersenjata reguler. Inti
satuan militer ini ia ambil dari bekas tawanan perang bekas orang-orang
Kristern di Georia dan di Chircassia. Mereka dibina dengan pendidikan militer
yang militan dan persenjataan yang modern. Sebagai pimpinannya ia mengangkat
Allahwardi Khan, salah seorang dari Ghulam.
Berkat kegigihannya
Syah Abbas mampu mengatasi kemelut di dalam negeri yang mengganggu stabilitas
negara dan berhasil merebut wilayah-wilayah yang pernah disebut oleh kerajaan
lain pada masa sebelumnya.
2.
Bidang Ekonomi
Kerajaan Safawi pada
masa Syah Abbas mengalami kemajuan dibidang ekonomi, terutama industri dan
perdagangan. Stabilitas politik Kerajaan Safawi pada masa Abbas I ternyata
telah memacu perkembangan perekonomian Safawi, lebih-lebih setelah kepulauan
Hurmuz dikuasai dan pelabuhan Gumrun diubah menjadi Bandar Abbas. Hal ini
dikarenakan Bandar ini merupakan salah satu jalur dagang antar Timur dan Barat.
Yang biasa diperebut oleh Belanda, Inggris, dan Perancis, sesungguhnya menjadi
milik Kerajaan Safawi. Selain itu Safawi juga mengalami kemajuan sektor
pertanian terutama di daerah Bulan Sabit Subur (fortile crescent).
3. Bidang Ilmu Pengetahuan, Filsafat dan Sains
Dalam sejarah Islam,
bangsa Persia dikenal sebagai bangsa yang peradaban tinggi dan berjasa dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila
pada masa Kerajaan Safawi tradisi keilmuan ini terus berlanjut.
Ada beberapa ilmuwan
yang selalu hadir di majlis istana yaitu Baha Al-Din Al-Syaerazi (generalis
iptek), Sadar Al-Din Al-Syaerazi (filosof), dan Muhammad Baqir bin Muhammad
Damad (teolog, filosof, observatory kehidupan lebah-lebah). Dalam bidang ilmu
pengetahuan, Safawi lebih mengalami kemajuan dari pada kerajaan Mughal dan
Turki Usmani. Pada masa Safawi Filsafat dan Sains bangkit kembali di dunia
Islam, khususnya dikalangan orang-orang persia yang berminat tinggi pada
perkembangan kebudayaan. Perkembangan baru ini erat kaitannya dengan aliran
Syiah yang ditetapkan Dinasti Safawi sebagai agama resmi Negara.
Dalam Syiah Dua Belas
ada dua golongan, yakni Akhbari dan Ushui. Mereka berbeda didalam memahami
ajaran agama. Yang pertama cenderung berpegang kepada hasil ijtihad para
mujtahid Syiah yang sudah mapan. Sedang kedua mengambil dari sumber ajaran
Islam, Al-Qur’an dan Hadits, tanpa terikat kepada para mujthadi. Golongan
Ushuli inilah yang palling berperan pada masa Safawi.
Menurut Hodhson, ada
dua aliran filsafat yang berkembang pada masa Safawi tersebut. Pertama, aliran
filsafat “Perifatetik” sebagaimana yang dikemukakan oleh Aristoteles dan
Al-Farabi. Kedua filsafat Isyraqi yang dibawa oleh Syaharawadi pada abad ke
XII. Kedua aliran ini banyak dikembangkan di perguruan Isfahan dan Syiraj. Di
bidang filosof ini muncul beberapa orang filosof diantaranya Muhammad Baqir
Damad (W. 1631 M) yang dianggap guru ketiga sesudah Aristoteles dan Al-Farabi,
tokoh lainnya misalnya Mulla Shadra yang menurut sejartah ia adalah seorang
dialektikus yang paling cakap di zamannya.
4. Bidang Perkembangan Fisik dan Seni
Para penguasa kerajaan menjadikan Isfahan menjadi kota Kerajaan yang sangat
indah. Disana terdapat bangunan-bangunan besar dan indah seperti masjid, rumah
sakit, jembatan raksasa di atas Zende Rud dan Istana Chilil Sutun. Kota Isfahan
juga diperindah dengan taman-taman wisata yang ditata secra apik. Ketika Abbas
I wafat di Isfahan terdapat 162 Masjid, 48 Akademi, 1802 penginapan dan 273
pemandian umum.
Di bidang seni, kemajuan nampak begitu kentara dalam gaya arsitektur bangunan-bangunannyaseperti
terlihat pada mesjid Shah yang dibangun tahun 1611 M dan mesjid Syaikh Lutf
Allah yang dibangun tahun 1603 M. Unsur seni lainnya terlihat pula adanya
peninggalan berbentuk kerajinan tangan, keramik, karpet, permadani, pakaian dan
tenunan, mode, tembikar, dan benda seni lainnya. Seni lukis mulai dirintis
sejak zaman Raja Tahmasp I.
Demikianlah puncak kemajuan yang dicapai oleh Kerajaan Safawi, kemajuan
yang dicapainya membuat kerajaan ini menjadi salah satu dari tiga kerajaan
besar Islam yang disegani oleh lawan-lawannya, terutama dalam bidang politik
dan militer. Kerajaan ini telah memberikan kontribusinya mengisi peradaban
Islam melalui kemajuan-kemajuan dalam bidang ekonomi, ilmu pengetahuan,
peninggalan seni dan gedung-gedung bersejarah.
C. Masa Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Safawi
Masa Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Safawi dimulai sejak Raja Abbas I telah tiada, sepeninggal Abbas I kerajaan
Safawi berturut-turut diperintah oleh enam raja, yaitu Safi Mirza (1628-1642
M), Abbas II (1642-1667 M), Sulaiman (1667-1694 M), Husen (1694-1722 M),
Tahmasp II (1722-1732 M), Abbas III (1732-1736 M). Pada masa raja-raja
tersebut, kondisi Kerajaan Safawi tidak menunjukkan grafik naik dan berkembang,
tetapi justru memperlihatkan kemunduran yang akhirnya membawa kepada
kehancuran, karena Kerajaannya ketika itu diperintah oleh raja-raja yang lemah
dan memiliki perangai dan sifat yang buruk. Hal ini menyebabkan rakyat kurang
respon dan timbul sikap masa bodoh terhadap pemerintahan. Raja-raja yang
memerintah setelah Abbas I adalah sebagai berikut:
No
|
Nama Raja
|
Masa
Berkuasa
|
Indikasi
Kemunduran
& Kehancuran
|
1
|
Safi Mirza
|
1628-1642
|
·
Jiwa lidershipnya lemah.
·
Sangat kejam terhadap para pembesar Kerajaan.
·
Memiliki sifat cemburu terhadap petinggi kerajaan
·
Kota Qandahar lepas dan diduduki Kerajaan Mughal
(Sultan Syah Jehan).
·
Dan Bagdad direbut oleh Kerajaan Turki Usmani.
|
2
|
Abbas II
|
1642-1667
M
|
·
Sifat dan Moralnya jelek.
·
Pemabuk/suka minum minuman keras.
|
3
|
Sulaiman
|
1667-1694
|
·
Kejam terhadap para pembesar Kerajaan, terutama terhadap orang-orang yang
dicurigainya.
·
Karena sifat & moralnya yang buruk itu rakyat bersikap masa bodoh
terhadap pemerintahannya
|
4
|
Husen
|
1694-1722
M
|
·
Memberi kekuasaan yang besar kepada para ‘ulama Syi’ah.
·
Ulama Syi’ah sering salah guna kewenangan/kekuasaan
yang diberikan raja.
·
Ulama Syi’ah sering memaksakan pendapat terhadap penganut aliran Sunni
sehingga membuat golongan Sunni marah. Konflik yang terjadi antara golongan
Syi’ah dengan Sunni berimplikasi pada sistem pemerintahan menjadi tidak
stabil secara berkelanjutan.
·
Pernah terjadi pemberontakan bangsa Afghan yang di pimpin oleh Mir Vays
yang kemudian digantikan oleh Mir Mahmud. Pada masa pemberontakan Mir mahmud
ini, kota Qandahar lepas dari safawi, kemudian disusul kota Isfahan. Pada 12
oktober 1722 M Shah Husein menyerah.
|
5
|
Tahmasp II
|
1722-1732
M
|
·
Dengan dukungan dari suku Qazar Rusia, ia memproklamirkan diri sebagai
raja yang berkuasa atas Persia dengan pusat kekuasannya di Astarabad.
Kemudian ia bekerja sama dengan Madhir Khan untuk memerangi bangsa Afghan
yang menduduki kota Isfahan. Isfahan berhasil direbut dan Safawi kembali
berdiri. Kemudian Tahmasp II dipecat oleh Nadir Khan pada 1732 M.
|
6
|
Abbas III
|
1732-1736
M
|
·
Tidak berpengalaman.
·
Diangkat menjadi Raja pada saat masih kecil.
·
Pada 1736 M, Abbas III dilengserkan kemudian kerajaan Safawi diambil alih
oleh Nadir Khan. Dengan begitu, maka berakhirlah kerajaan Safawi.
|
Hanya satu abad setelah ditinggal
Abbas I, kerajaan ini mengalami kehancuran. Faktor-faktor yang menyebabkan
berakhirnya kerajaan Safawi :
1. Konflik panjang dengan
kerajaan Turki Usmani. Hal ini disebabkan oleh perbedaan mazhab antar kedua
kerajaan. Bagi Kerajaan Usmani, berdirinya Kerajaan Safawi yang beraliaran
Syi’ah merupakan ancaman langsung terhadap wilayah kekuasaannya. Konflik antara
kedua kerajaan tersebut berlangsung lama, meskipun konflik itu pernah berhenti
sejenak ketika tercapai perdamaian antara keduanya pada masa Raja Shah Abbas I,
namun tak lama kemudian Abbas meneruskan konflik tersebut, dan setelah itu
dapat dikatakan tida ada lagi perdamaian antara kedua kerajaan besar Islam itu.
2. Adanya dekadensi moral yang melanda sebagaian
para pemimpin Kerajaan Safawi.
3. Pasukan Ghulam
(budak-budak) yang dibentuk Abbas I tidak memiliki semangat perang yang tinggi
seperti Qilzibash (baret merah) hal ini dikarenakan pasukan tersebut
tidak disiapkan secara terlatih dan tidak melalui proses pendidikan rohani.
Seperti yang di alami oleh pasukan Qilzibash, sementara anggota pasukan Qilzibash
yang baru tidak memiliki militansi dan semangat yag sam,a dengan anggota Qilzibash
sebelumnya.
4. Seringnya terjadi
konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan dikalangan keluarga istana.
Dengan demikian
bentuk-bentuk institusi kenegaraan, kesukuan dan institusi keagamaan safawiyah
yang diciptakan oleh Abbas I telah mengalami perubahan secara mencolok pada
akhir abad tujuh belas dan awal abad ke delapan belas.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kerajaan Safawi beradal dari sebuah tarekat yang berdiri di Ardabil,
tarekat tersebut bernama Safawi. Kerajaan Safawi berada dipuncak kejayaan pada
masa kekuasaan Abbas I. Banyak kemajuan yang dicapai kerajaan Safawi antara
lain dalam bidang politik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan bidang pembangunan
fisik dan seni. Akan tetapi setelah Abbas meninggal, kerajaan Safawi mengalami kemunduran,
disebabkan raja yang memerintah sangat lemah, sering terjadinya konflik intern
dalam perebutan kekuasaan dikalangan keluarga istana. Hanya dalam satu abad
setelah ditinggalkan Abbas, Kerajaan Safawi hancur.
B. Saran
Kami menyadari bahwa
dalam penyusunan makalah kami ini masih ada kekurangan dan kelemahan,
sebagaimana pepatah mengatakan tidak ada manusia yang luput dari kesalahan dan
kehilafan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun dari para pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, A. Mukti, dkk (Ed.), Ensiklopedi Islam, Jakarta : Departemen
Agama RI, 1988.
Engneer, Asghar Ali, Asal-Usul dan Perkembangan Islam, Yogyakarta:
Insist Bekerja Sama dengan Pustaka Pelajar, 1999.
Hamka, Sejarah Umat Islam III, Jakarta : Bulan Bintang, 1981.
Hassan, Hassan Ibrahim, Sejarah dan
Kebudayaan Islam, Yogyakarta : Kota Kembang, 1989.
Harun, Maidir dan Firdaus, Sejarah Peradaban Islam, Padang: IAIN IB
Press, 2001.
Holt P.M, dkk(ed) The Cambridge
History of Islam, vol.IA, London : Cambridge University Press, 1970.
Maryam, Siti, Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik hingga Modern, Yogyakarta:
Jurusan SPI Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga, 2007.
Maududi, Abu A’la, Khilafah dan Kerajaan, Bandung : Mizan 1984.
Nasution, Harun, Pembaharuan dalam
Islam :Sejarah, Pemikiran dan Gerakan, Jakarta : Bulan Bintang, 1992.
Samsul Munir, Sejarah Peradaban
Islam, Jakarta : Amzah, 2009.
Supriyadi, Dedi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka setia,
2008.
Syalabi, Ahmad, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid 2, Jakarta :
Pustaka Al-Husna, 1983.
Thohir, Peradaban di Kawasan Dunia
Islam, Jakarta : PT Raja Grafindo Ajid.
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban
Islam, Dirasah Islamiyah II, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2010.
No comments:
Post a Comment