BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Pusat kekuasaan Islam adalah Spanyol Selatan atau
Andulusia. Nama Andalusia berasal dari istilah Al-Andalus yang digunakan oleh orang Arab,
berasal dari orang-orang Vandal yang telah menetap di wilayah ini. Stabilitas
pada Muslim Spanyol terwujud pada pembentukan Bani Umayyah Andalusia, yang
berlangsung tahun 756 hingga 1031. Yang berjasa adalah Amir Abd al-Rahman, yang mampu
menyatukan berbagai kelompok-kelompok Muslim yang telah
menaklukkan Spanyol untuk bersama-sama menguasainya.
Pada tahun 711 pasukan Muslim datang ke
Spanyol dan dalam tujuh tahun menaklukkan Semenanjung Iberia.
Ini lalu menjadi salah satu peradaban
Islam yang besar; mencapai puncaknya pada Khalifah Umayyah Cordoba pada abad
ke-10. Kekuasaan
Muslim menurun setelah itu dan berakhir pada tahun 1492 ketika Granada
ditaklukkan. Jantung kekuasaan Islam adalah Spanyol Spanyol atau
Andulusia. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Spanyol hingga
jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana, Islam memainkan peranan yang sangat
besar.
Maka
dalam hal ini, kami akan membahas lebih lanjut masalah “ISLAM DI ANDALUSIA”.
B. RUMUSAN
MASALAH
Adapun yang menjadi
rumusan masalah dalam makalah ini yaitu sebagai berikut:
1.
Bagaimana
proses berdirinya Islam di Andalusia?
2.
Bagaimana
proses kemajuan Islam di Andalusia?
3.
Apa saja
yang menjadi faktor kemunduran dan kehancuran Islam di Andalusia?
BAB
II
PEMBAHASAN
A. SEJARAH
BERDIRINYA ISLAM DI ANDALUSIA
Ketika berada di bawah kekuasan Romawi, wilayah ini dikenal
dengan nama Asbania. Pada abad ke– 5 M, Andalusia dikuasai olah Bangsa Vandal
yang berasal dari wilayah ini sejak itu wilayah ini disebut Vandalusia yang
oleh umat Islam akhirnya disebut “ Andalusia “.
Sejak pertama kali berkembang di Andalusia sampai dengan
berakhirnya kekuasaan Islam di sana, Islam telah memainkan peranan yang sangat
besar. Masa ini berlangsung selama hampir delapan abad ( 711 – 1492 M ). Pada
tahap awal semenjak menjadi kekuasaan Islam, Andalusia diperintah oleh
wali-wali yang diangkat oleh pemerintah Bani Ummayah di Damaskus. Pada periode
ini kondisi sosial politik Andalusia masih diwarnai perselisihan disebabkan
karena kompleksitas etnis dan golongan. Disamping itu juga timbul gangguan dari
sisa- sisa musuh Islam di Andalusia yang bertempat tinggal di wilayah - wilayah
pedalaman. Periode ini berakhir dengan datangnya Abdur Rahman Al – Dakhil ke
Andalusia. Sebagaimana disebutkan terdahulu, Andalusia di duduki umat Islam
pada zaman Khalifah Al – Walid ( 705 – 715 M ), salah seorang Khalifah dari
Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Sebelum penaklukan Andalusia, umat
Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu
provinsi dari Dinasti Bani Umayyah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu
terjadi di zaman khalifah Abdul Malik ( 685 – 705 M).[1]
Jika kita melihat ke
belakang, sebelum mereka menaklukkan Andalusia, pada masa pemerintahan Khalifah
sebelum Al–Walid yaitu khalifah Abdul Malik (685–705 M ), umat Islam telah
menguasai Afrika Utara dan menjadikannya salah satu provinsi dari dinasti Umayyah,
dan yang menjadi Gubernurnya adalah Hasan Bin Nu’man Al Ghassani. Namun pada
masa pemerintahan Dinasti Umayyah pada khalifah Al – Walid, Gubernur di Afrika
Utara tersebut digantikan kepada Musa Ibn Nushair. Pada Musa Ibn Nushair,
mereka berhasil memduduki Al -Jazair dan Maroko dan daerah bekas Barbar.
Peristiwa
pengambil alihan kekuasaan dari para wali ke tangan para Amir yang disebut
dengan periode keamiran hingga terbentuknya sistem khilafah saat itu. Dari
situlah mulai dikenal khilafah Bani Umayah II. Amir pertama yang berhasil menguasai
Andalusia adalah Abdurrahman al-Dakhil, salah seorang cucu Abdul Malik Ibn
Marwan yang berhasil meloloskan diri dari kejaran pasukan Abu Abbas al-Saffah.
Melalui rute yang tidak biasa dia lalui, akhirnya ia berhasil memasuki wilayah
Palestina, terus ke Mesir, Afrika Utara hingga tiba di Ceuta (Septah). Di
wilayah inilah ia mendapat bantuan dari bangsa Barbar dan menyusun kekuatan
militer guna menyelesaikan konflik etnik politik antara bangsa Arab Mudhariyah dengan
Himyariyah di Andalusia.[2]
Abdurrahman diminta oleh pihak Arab Himyariyah untuk membantu merencanakan dan
melaksanakan pemberontakan terhadap kelompok Mudhariyah. Gubernur Yusuf Ibn
Abdurrahman al-Fikry, yang mewakili kelompok Arab Mudhariyah, menindas kelompok
Arab Himyariyah. Sebelum melancarkan serangan, Abdurrahman mengutus orang
kepercayaannya bernama Badar untuk mencari tahu tentang perkembangan terakhir
yang terjadi. Utusan itu diterima dengan baik oleh kabilah-kabilah Arab karena
ia merupakan utusan dari keturunan Bani Umayah yang pernah berkuasa di
Damaskus. Badar memperoleh informasi mengenai perkembangan politik mutakhir
yang terjadi di Andalusia. Berita inilah yang kemudian ia sampaikan kepada Abdurrahman
al-Dakhil. Dari data dan informasi yang dikumpulkan, akhirnya Abdurrahman dan
para pendukungnya memasuki wilayah Andalusia pada tahun 755 M. Dan memenangkan
peperangan di Massarat pada tahun itu juga, sehingga ia menduduki tahta
kekuasaan Andalusia sebagai bagian dari kekuasaan Dinasti Umayah di Andalusia,
yang saat itu telah hancur dikalahkan oleh kekuatan Bani Abbas.
Kedatangan Abdurrahman al-Dakhil
dan para pendukungnya membuat marah Yusuf Ibn Abdurrahman al-Fikry. Karena ia
dianggap penentang dan mengancam kekuasaannya di Andalusia. Kedatangan mereka
ke Andalusia ini tidak dianggap oleh Yusuf. Dengan berbagai cara, Yusuf mencoba
mengusir Abdurrahman al-Dakhil keluar dari Andalusia. Sikap dan perbuatan Yusuf
Ibn Abdurrahman al-Fikry ini menimbulkan kemarahan Abdurrahman al-Dakhil dan
para pendukungnya. Sehingga kelompok Abdurrahman melakukan serangan atas
kekuasaan Yusuf di Cordova pada tahun 139 H/758 M. Kemenangan ini membawa harum
nama Abdurrahman al-Dakhil. Sejak saat itulah ia mendirikan kekuasaan Islam di
Andalusia, sebagai bagian dari kepanjangan kekuasaan Bani Umayyah yang telah
dihancurkan Bani Abbas pada tahun 132 H/750 M.
B. PROSES
KEMAJUAN ISLAM DI ANDALUSIA
Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di
Andalusia, umat Islam telah mencapai kejayaannya disana. Banyak prestasi yang
mereka peroleh bahkan pengaruhnya membawa ke Eropa, dan kemudian dunia kepada
kemajuan yang lebih kompleks, diantara yang telah terbangun adalah :
1. Kemajuan Intelektual
Masyarakat Andalusia Islam merupakan masyarakat majemuk yang
terdiri dari komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan), Al-Muwalladun
(orang-orang Andalusia yang masuk islam), Barbar (umat islam yang berasal dari
Afrika Utara) Al-Shaqallibah (penduduk antara konstantinipel dan Bulgaria yang
menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa islam untuk dijadikan tentara
bayaran). Yahudi Kristen yang berbudaya arab dan Kristen yang masih menentang
kehadiran islam. Semua komunitas ini kecuali yang terakhir, memberikan saham
intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang melahirkan
kebangkitan ilmiah, sastra dan pembangunan fisik di Andalusia.[3]
Kemajuan-kemajuan intelektual ini dapat dilihat di berbagai bidang antara lain
:
a. Filsafat
Minat terhadap
filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 selama
pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, yaitu Muhammad Ibn Abdl Al-Rahman
(832-886 M).[4]
Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat Arab-Andalusia
adalah Abu Bakr Muhammad Ibn Al-Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah. Tokoh
utama kedua adalah Abu Bakr Ibn Thufail, ia banyak menulis masalah kedokteran,
astronomi dan filsafat. Karya filsafatnya yang sangat terkenal adalah Hay Ibn
Yaqzhan. Bagian akhir abad ke 12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut
Aristoteles yang dikenal sebagai komentator pikiran-pikiran dialah Ibn Rusyd
(Averroes) hidup antara 1126-1198 M, karena itu pula ia dijuluki sebagai
Aristoteles II, pengaruhnya sangat menonjol atas pendukung filsafat skholastik
Kristen dan pikiran-pikiran Sarjana Eropa pada abad pertengahan.[5]
b.
Sains
Dalam bidang ini bermunculan tokoh-tokoh ilmuwan seperti
Abbas Ibn Farnas termashyur dalam ilmu kimia dan astronomi orang yang pertama
menemukan pembuatan kaca dari batu, Ibrahim bin Naqqash dalam bidang astronomi
dapat menentukan kapan terjadinya gerhana matahari dan kapan lamanya, ia juga
berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya
dan bintang-bintang. Ahmad ibn Abbas dari Cordova ahli dalam bidang obat-obatan
dan banyak lagi tokoh-tokoh yang disebutkan namun sangat besar jasanya dalam
perkembangan dan pencerahan ilmu pengetahuan pada masa itu.[6]
c.
Fikih
Dalam bidang fikih, Andalusia Islam dikenal sebagai penganut
mahzab Maliki. Yang memperkenalkan mahzab ini adalah Ziad Ibn Abd Al-Rahman. Perkembangan
selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi qadhi pada masa Hisyam Ibn
abd.Al-Rahman. Ahli-ahli fikihnya lainnya diantaranya adalah Abu Bakar Ibn
Al-Quthiyah, Munzir Ibn Sa’id Al-Baluti, dan Ibn Hazm yang terkenal.[7]
d.
Musik dan Kesenian
Tokohnya Al-Hasan Ibn Nafi yang dijuluki Zaryab, Zaryab yang
selalu tampil mempertunjukkan kebolehannya yang terkenal sebagai pengubah lagu.
Karya-karya sastra banyak bermunculan, seperti Al-Iqad
Al-Farid karya Ibn Abd Rabbih, Al-Dzakhirah fi Mahasin Ahl Al-Jazirah oleh ibn
Bassam, Kitab Al-Qalaid buah karya Al-Fath Ibn Khaqan dan banyak lagi yang
lain.
2.
Kemajuan
Pembangunan
Kemajuan
Bani Umayyah di Andalusia diraih pada masa pengganti Abd al-Rahman al-Dakhil.
Kemajuan Kordova ditandai dengan pembangunan yang megah diantaranya:
1.
al-Qashr
al-Kabir , kota satelit yang didalamnya terdapat gedung-gedung istana
megah.
2.
Rushafat,
istana yang dikelilingi oleh taman yang di sebelah barat laut Cordova.
3.
Masjid jami’
Cordova, dibangun tahun 170 H/786 M yang hingga kini masih tegak.
4.
Al-Zahra,
kota satelit di bukit pegunungan Sierra Monera pada tahun 325 H/936 M. Kota ini
dilengkapi dengan masjid tanpa atap (kecuali mihrabnya) dan air mengalir
ditengah masjid, danau kecil yang berisi ikan-ikan yang indah, taman hewan
(margasatwa), pabrik senjata, dan pabrik perhiasan. [8]
3.
Perkembangan Ekonomi
Perkembangan
baru spanyol juga didukung oleh kemakmuran ekonomi pada abad ke-9 dan abad
ke-10. Perkenalan dengan pertanian irigasi yang didasarkan pada pola-pola
negeri Timur mengantarkan pada pembudidayaan sejumlah tanaman pertanian yang
dapat diperjual-belikan, meliputi buah ceri, apel, buah delima, pohon ara, buah
kurma, tebu, pisang, kapas, rami dan sutera. Pada saat yang sama, Spanyol
memasuki fase perdagangan yang cerah lantaran hancurnya penguasaan armada
Bizantium terhadap wilayah barat laut Tengah. Beberapa kota seperti seville dan
Cordova mengalami kemakmuran lantaran melimpahnya produksi pertanian dan
perdagangan internasional.
4. Kemegahan Pembangunan Fisik
Aspek
pembangunan fisik yang mendapat perhatian umat islam sangat banyak seperti
dalam perdagangan. Jalan-jalan dan pasar dibangun seindah mungkin. Di samping
itu pula bidang pertanian juga tidak ketinggalan dengan memperkenalkan sistem
irigasi, kemudian memperkenalkan pertanian padi, jeruk, kebun dan taman-taman.
C. FAKTOR
KEMUNDURAN DAN KEHANCURAN ISLAM DI ANDALUSIA
Dalam masa
kekuasaan Islam di Spanyol yang begitu lama tentu memberikan catatan besar
dalam mengembangkan dan memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi peradaban
dunia. Namun, sejarah panjang yang telah diukir kaum muslim menuai kemunduran
dan kehancuran. Kemunduran dan kehancuran disebabkan oleh beberapa faktor
antara lain:
1. Konflik Islam dengan Kristen
Keadaan ini
berawal dari kurang maksimalnya para penguasa muslim di Andalusia dalam
melakukan proses Islamisasi. Hal ini mulai terlihat ketika masa kekuasaan
setelah al-Hakam II yang dinilai tidak secakap dari khalifah sebelumnya. Bagi
para penguasa, dengan ketundukan kerajaan-kerajaan kristen dibawah kekuasaan
kristen hanya dengan membayar upeti saja, sudah cukup puas bagi mereka. Mereka
membiarkan umat Kristen menganut agamanya dan menjalankan hukum adat dan
tradisi kristen, termasuk hirarki tradisional, asal tidak ada perlawanan
senjata.[9]
Namun,
kehadiran Arab Islam tetap dianggap sebagai penjajah sehingga malah memperkuat
nasionalisme masyarakat Spanyol Kristen. Hal ini menjadi salah satu penyebab
kehidupan negara Islam di Andalusia tidak pernah berhenti dari pertentangan
antara Islam dan Kristen. Akhirnya pada abad ke-11, umat Islam Andalusia
mengalami kemunduran, sedang umat Kristen memperoleh kemajuan pesat dalam
bidang IPTEK dan strategi perang.
2. Tidak Adanya Ideologi Pemersatu
Hal ini
terjadi hingga abad ke-10 atas perlakuan para penguasa muslim sebagaimana
politik yang dijalankan Bani Umayyah terhadap para mu’allaf yang berasal dari
umat setempat. Mereka diperlakukan tidak sama seperti tempat-tempat daerah
taklukan Islam lainnya. Kenyataan ini ditandai dengan masih diberlakukannya
istilah ibad dan muwalladun, suatu ungkapan yang dinilai
merendahkan.
Akhirnya
kelompok-kelompok etnis non-Arab terutama etnis Salvia dan Barbar, sering
menggerogoti dan merusak perdamaian. Hal ini menimbulkan dampak besar bagi
perkembangan sosio-ekonomi di Andalusia. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada ideologi
pemersatu yang mengikat kebangsaan mereka. Bahkan banyak diantara mereka yang
berusaha menghidupkan kembali fanatisme kesukuan guna mengalahkan Bani Umayyah.
3. Kesulitan Ekonomi
Dalam
catatan sejarah, pada paruh kedua masa Islam di Andalusia, para penguasa begitu
aktif mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam, sehingga mengabaikan
pengembangan perekonomian. Akibatnya timbul kesulitan ekonomi yang memberatkan
dan berpengaruh bagi perkembangan politik dan militer. Kenyataan ini diperparah
lagi dengan datangnya musim paceklik dan membuat para petani tidak mampu
membayar pajak. Selain itu, penggunaan keuangan negara tidak terkendali oleh
para penguasa muslim.
4. Tidak jelasnya Sistem Peralihan
kekuasaan
Kekuasaan
merupakan hal yang menjadi perebutan diantara ahli waris. Karena inilah
kekuasaan Bani Umayyah runtuh dan Muluk al-Thawaif muncul. Maka, Granada yang
awalnya menjadi pusat kekuasaan Islam terakhir di Spanyol akhirnya jatuh ke
tangan Ferdinand dan Isabella.
5. Keterpencilan
Spanyol
Islam bagaikan negeri terpencil dari dunia Islam yang lain. Ia selalu berjuang
sendirian, tanpa mendapat bantuan kecuali dari Afrika Utara. Oleh karena itu,
tidak ada kekuatan alternatif yang mampu membendung kebangkitan Kristen disana.
[10]
AKHIR KEKUASAAN ISLAM DI ANDALUSIA
Pada pertengahan abab ke – 11 Posisi non-Muslim di
Spanyol memburuk secara substansial, ketika para penguasa lebih ketat dan Islam
datang di bawah tekanan besar dari luar. Orang Kristen tidak diizinkan memiliki rumah lebih tinggi
daripada umat Islam, tidak boleh mempekerjakan pelayan Muslim, dan harus
memberi jalan kepada umat Islam di jalanan.
Orang Kristen tidak boleh menampilkan
simbol-simbol iman mereka di luar, bahkan tidak boleh membawa Alkitab. Ada
penganiayaan dan eksekusi. Salah satu peristiwa terkenal adalah pembunuhan
terencana di Granada pada tahun 1066, dan ini diikuti dengan kekerasan dan
diskriminasi lebih lanjut di mana kerajaan Islam itu sendiri berada di bawah
tekanan. Bersamaan dengan mundurnya kerajaan Islam, dan lebih banyak wilayah
yang diambil alih kembali oleh penguasa Kristen, orang Muslim di daerah Kristen
menemukan diri mereka menghadapi tekanan-tekanan yang sama dengan yang
sebelumnya mereka telah lakukan terhadap orang lain. Namun, secara keseluruhan,
banyak kelompok agama minoritas akan menjadi lebih buruk setelah Islam
digantikan di Spanyol oleh Kristen. Ada juga budaya aliansi, terutama dalam
arsitektur - 12 singa di istana Al-Hambra adalah pengaruh Kristen.
Masjid di Cordoba, sekarang diubah menjadi katedral
masih, agak ironis, yang dikenal sebagai La Mezquita atau secara
harfiah, masjid. Masjid ini dibangun pada akhir abad ke-8 oleh pangeran
Ummayyad Abd Al-Rahman bin Muawiyah. Di bawah pemerintahan Abdul Rahman III (r.
912-961) Islam Spanyol mencapai kekuasaan terbesarnya, setiap Mei, kampanye
diluncurkan menuju perbatasan Kristen, ini juga merupakan puncak budaya
peradaban Islam di Spanyol.
Runtuhnya kekuasaan Islam di Spanyol adalah karena tidak
hanya meningkatkan agresi dari negara-negara Kristen, tapi juga melahirkan
perpecahan di antara para penguasa muslim. Bencana itu datang baik dari pusat
dan ekstremitas. Pada awal abad ke-11, kekhalifahan Islam satu-satunya telah
hancur menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Pusat Islam besar pertama yang jatuh ke
tangan Kristen adalah Toledo pada tahun 1085.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Andalusia,
sebuah negeri yang meninggalkan jejak begitu besar di sepanjang sejarah umat
Islam pada awal perkembangan Islam di dunia Eropa.Tentu hal ini menyita banyak
perhatian besar dari berbagai khalayak umat Islam.Dikatakan demikian, karena
penguasaan Islam terhadap semenanjung Iberia lebih khusus Andalusia, telah
menunjukkan bahwa Islam telah tersebar ke negara Eropa.
Mulai dari
tahapan awal proses masuknya Islam, dimana wilayah Spanyol diduduki oleh
khalifah-khalifah dalam setiap dinasti-dinasti yang didirikan dalam setiap
periodenya. Tentu, hal ini banyak memiliki peranan yang sangat penting dan
besar dalam perkembangan umat Islam.Dimana pada akhirnya Islam pernah
berjaya di Spanyol dan berkuasa selama tujuh setengah abad. Suatu masa
kekuasaan dalam waktu yang sangat lama untuk mengembangkan Islam.
Namun, di
balik usaha keras umat Islam mempertahankan kejayaan pada masa sekian abad itu,
umat Islam menghadapi kesulitan yang amat berat.Dimana pada suatu ketika, umat
Islam diterpa serangan-serangan penguasa Kristen yang sampai-sampai umat Islam
tidak kuasa menahan serangan-serangan penguasa Kristen yang semakin kuat
itu.Sehingga pada akhirnya Islam menyerahkan kekuasaannya dan semenjak itu
berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol.
Demikianlah
Islam di Andalusia, walaupun pada akhirnya berakhir dengan kekalahan, namun
islam muncul sebagai suatu kekuatan budaya dan sekaligus menghasilkan cabang-cabang
kebudayaan dalam segala ragam dan jenisnya. Banyak sekali kontribusi Islam bagi
kebangunan peradaban dan kebudayaan baru Barat. Sumbangan Islam itu telah
menjadi dasar kemajuan Barat terutama dalam bidang-bidang politik, ekonomi,
sains dan teknologi, astronomi, filsafat, kedokteran, sastra, sejarah dan
hukum.
B.
Saran
Demikianlah yang sempat kami paparkan dalam makalah kami,
dan penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran dari para pembaca
sekalian.
DAFTAR PUSTAKA
Amin,
Samsul Munir,, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah, 2009.
Ismail,
Faisal, Paradigma Kebudayaan Islam, Yogyakarta: Titian Ilahi
Press, 1996.
Mubarok,
Jaih, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004.
A.Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, jilid 2, Pustaka al – Husna, Jakarta, 1983
Badry Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1993
[1]Ibid ,hal.88
[2]Prof.K.A,Sejarah
Islam ( Tarikh Pra Modern ), Cet.II , 1997,Raja Grafindo Persada,Jakarta
,2000,hal.301-302.
[3]
Harun Nasution , Op.cit,hal. 82
[5]
Faisal Ismail , Paradigma Kebudayaan Islam , Cet I , Titian Ilahi , Press ,
1996 , Yogyakarta , hal. 154
[6] Ahmad
Syahlabi , Op.Cit,hal. 86
[9]
Hasan Ibrahim Hasan , Tarikh al-Islam al-Sitasi wa al-Dini wa al-Tsaqafi wa
al-Ijtima’,Maktabah al-Nahdhah , t.t , Kairo . hal . 502
[10]Badri Yatim, op. cit., hlm. 107