Thursday, March 3, 2016

Makalah : Islam di Andalusia Spanyol



BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR  BELAKANG
Pusat kekuasaan Islam adalah Spanyol Selatan atau Andulusia. Nama Andalusia berasal dari istilah Al-Andalus yang digunakan oleh orang Arab, berasal dari orang-orang Vandal yang telah menetap di wilayah ini. Stabilitas pada Muslim Spanyol terwujud pada pembentukan Bani Umayyah Andalusia, yang berlangsung tahun 756 hingga 1031. Yang berjasa adalah Amir Abd al-Rahman, yang mampu menyatukan berbagai kelompok-kelompok Muslim yang telah menaklukkan Spanyol untuk bersama-sama menguasainya. Pada tahun 711 pasukan Muslim datang ke Spanyol dan dalam tujuh tahun menaklukkan Semenanjung Iberia. Ini lalu menjadi salah satu peradaban Islam yang besar; mencapai puncaknya pada Khalifah Umayyah Cordoba pada abad ke-10. Kekuasaan Muslim menurun setelah itu dan berakhir pada tahun 1492 ketika Granada ditaklukkan. Jantung kekuasaan Islam adalah Spanyol Spanyol atau Andulusia. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana, Islam memainkan peranan yang sangat besar.
Maka dalam hal ini, kami akan membahas lebih lanjut masalah “ISLAM DI ANDALUSIA”.
B.      RUMUSAN MASALAH
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini yaitu sebagai berikut:
1.      Bagaimana proses berdirinya Islam di Andalusia?
2.      Bagaimana proses  kemajuan Islam di Andalusia?
3.      Apa saja yang menjadi faktor kemunduran dan kehancuran Islam di Andalusia?
BAB II
PEMBAHASAN

A.     SEJARAH BERDIRINYA ISLAM DI ANDALUSIA
Ketika berada di bawah kekuasan Romawi, wilayah ini dikenal dengan nama Asbania. Pada abad ke– 5 M, Andalusia dikuasai olah Bangsa Vandal yang berasal dari wilayah ini sejak itu wilayah ini disebut Vandalusia yang oleh umat Islam akhirnya disebut “ Andalusia “.
Sejak pertama kali berkembang di Andalusia sampai dengan berakhirnya kekuasaan Islam di sana, Islam telah memainkan peranan yang sangat besar. Masa ini berlangsung selama hampir delapan abad ( 711 – 1492 M ). Pada tahap awal semenjak menjadi kekuasaan Islam, Andalusia diperintah oleh wali-wali yang diangkat oleh pemerintah Bani Ummayah di Damaskus. Pada periode ini kondisi sosial politik Andalusia masih diwarnai perselisihan disebabkan karena kompleksitas etnis dan golongan. Disamping itu juga timbul gangguan dari sisa- sisa musuh Islam di Andalusia yang bertempat tinggal di wilayah - wilayah pedalaman. Periode ini berakhir dengan datangnya Abdur Rahman Al – Dakhil ke Andalusia. Sebagaimana disebutkan terdahulu, Andalusia di duduki umat Islam pada zaman Khalifah Al – Walid ( 705 – 715 M ), salah seorang Khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Sebelum penaklukan Andalusia, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari Dinasti Bani Umayyah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman khalifah Abdul Malik ( 685 – 705 M).[1]
 Jika kita melihat ke belakang, sebelum mereka menaklukkan Andalusia, pada masa pemerintahan Khalifah sebelum Al–Walid yaitu khalifah Abdul Malik (685–705 M ), umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya salah satu provinsi dari dinasti Umayyah, dan yang menjadi Gubernurnya adalah Hasan Bin Nu’man Al Ghassani. Namun pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah pada khalifah Al – Walid, Gubernur di Afrika Utara tersebut digantikan kepada Musa Ibn Nushair. Pada Musa Ibn Nushair, mereka berhasil memduduki Al -Jazair dan Maroko dan daerah bekas Barbar.
Peristiwa pengambil alihan kekuasaan dari para wali ke tangan para Amir yang disebut dengan periode keamiran hingga terbentuknya sistem khilafah saat itu. Dari situlah mulai dikenal khilafah Bani Umayah II. Amir pertama yang berhasil menguasai Andalusia adalah Abdurrahman al-Dakhil, salah seorang cucu Abdul Malik Ibn Marwan yang berhasil meloloskan diri dari kejaran pasukan Abu Abbas al-Saffah. Melalui rute yang tidak biasa dia lalui, akhirnya ia berhasil memasuki wilayah Palestina, terus ke Mesir, Afrika Utara hingga tiba di Ceuta (Septah). Di wilayah inilah ia mendapat bantuan dari bangsa Barbar dan menyusun kekuatan militer guna menyelesaikan konflik etnik politik antara bangsa Arab Mudhariyah dengan Himyariyah di Andalusia.[2] Abdurrahman diminta oleh pihak Arab Himyariyah untuk membantu merencanakan dan melaksanakan pemberontakan terhadap kelompok Mudhariyah. Gubernur Yusuf Ibn Abdurrahman al-Fikry, yang mewakili kelompok Arab Mudhariyah, menindas kelompok Arab Himyariyah. Sebelum melancarkan serangan, Abdurrahman mengutus orang kepercayaannya bernama Badar untuk mencari tahu tentang perkembangan terakhir yang terjadi. Utusan itu diterima dengan baik oleh kabilah-kabilah Arab karena ia merupakan utusan dari keturunan Bani Umayah yang pernah berkuasa di Damaskus. Badar memperoleh informasi mengenai perkembangan politik mutakhir yang terjadi di Andalusia. Berita inilah yang kemudian ia sampaikan kepada Abdurrahman al-Dakhil. Dari data dan informasi yang dikumpulkan, akhirnya Abdurrahman dan para pendukungnya memasuki wilayah Andalusia pada tahun 755 M. Dan memenangkan peperangan di Massarat pada tahun itu juga, sehingga ia menduduki tahta kekuasaan Andalusia sebagai bagian dari kekuasaan Dinasti Umayah di Andalusia, yang saat itu telah hancur dikalahkan oleh kekuatan Bani Abbas.
Kedatangan Abdurrahman al-Dakhil dan para pendukungnya membuat marah Yusuf Ibn Abdurrahman al-Fikry. Karena ia dianggap penentang dan mengancam kekuasaannya di Andalusia. Kedatangan mereka ke Andalusia ini tidak dianggap oleh Yusuf. Dengan berbagai cara, Yusuf mencoba mengusir Abdurrahman al-Dakhil keluar dari Andalusia. Sikap dan perbuatan Yusuf Ibn Abdurrahman al-Fikry ini menimbulkan kemarahan Abdurrahman al-Dakhil dan para pendukungnya. Sehingga kelompok Abdurrahman melakukan serangan atas kekuasaan Yusuf di Cordova pada tahun 139 H/758 M. Kemenangan ini membawa harum nama Abdurrahman al-Dakhil. Sejak saat itulah ia mendirikan kekuasaan Islam di Andalusia, sebagai bagian dari kepanjangan kekuasaan Bani Umayyah yang telah dihancurkan Bani Abbas pada tahun 132 H/750 M.
B.      PROSES KEMAJUAN ISLAM DI ANDALUSIA
Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di Andalusia, umat Islam telah mencapai kejayaannya disana. Banyak prestasi yang mereka peroleh bahkan pengaruhnya membawa ke Eropa, dan kemudian dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks, diantara yang telah terbangun adalah :


1. Kemajuan Intelektual
Masyarakat Andalusia Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan), Al-Muwalladun (orang-orang Andalusia yang masuk islam), Barbar (umat islam yang berasal dari Afrika Utara) Al-Shaqallibah (penduduk antara konstantinipel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa islam untuk dijadikan tentara bayaran). Yahudi Kristen yang berbudaya arab dan Kristen yang masih menentang kehadiran islam. Semua komunitas ini kecuali yang terakhir, memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang melahirkan kebangkitan ilmiah, sastra dan pembangunan fisik di Andalusia.[3] Kemajuan-kemajuan intelektual ini dapat dilihat di berbagai bidang antara lain :
      a. Filsafat
        Minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, yaitu Muhammad Ibn Abdl Al-Rahman (832-886 M).[4]
Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat Arab-Andalusia adalah Abu Bakr Muhammad Ibn Al-Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah. Tokoh utama kedua adalah Abu Bakr Ibn Thufail, ia banyak menulis masalah kedokteran, astronomi dan filsafat. Karya filsafatnya yang sangat terkenal adalah Hay Ibn Yaqzhan. Bagian akhir abad ke 12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang dikenal sebagai komentator pikiran-pikiran dialah Ibn Rusyd (Averroes) hidup antara 1126-1198 M, karena itu pula ia dijuluki sebagai Aristoteles II, pengaruhnya sangat menonjol atas pendukung filsafat skholastik Kristen dan pikiran-pikiran Sarjana Eropa pada abad pertengahan.[5]
      b. Sains
Dalam bidang ini bermunculan tokoh-tokoh ilmuwan seperti Abbas Ibn Farnas termashyur dalam ilmu kimia dan astronomi orang yang pertama menemukan pembuatan kaca dari batu, Ibrahim bin Naqqash dalam bidang astronomi dapat menentukan kapan terjadinya gerhana matahari dan kapan lamanya, ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ahmad ibn Abbas dari Cordova ahli dalam bidang obat-obatan dan banyak lagi tokoh-tokoh yang disebutkan namun sangat besar jasanya dalam perkembangan dan pencerahan ilmu pengetahuan pada masa itu.[6]
      c. Fikih
Dalam bidang fikih, Andalusia Islam dikenal sebagai penganut mahzab Maliki. Yang memperkenalkan mahzab ini adalah Ziad Ibn Abd Al-Rahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi qadhi pada masa Hisyam Ibn abd.Al-Rahman. Ahli-ahli fikihnya lainnya diantaranya adalah Abu Bakar Ibn Al-Quthiyah, Munzir Ibn Sa’id Al-Baluti, dan Ibn Hazm yang terkenal.[7]
      d. Musik dan Kesenian
Tokohnya Al-Hasan Ibn Nafi yang dijuluki Zaryab, Zaryab yang selalu tampil mempertunjukkan kebolehannya yang terkenal sebagai pengubah lagu.
Karya-karya sastra banyak bermunculan, seperti Al-Iqad Al-Farid karya Ibn Abd Rabbih, Al-Dzakhirah fi Mahasin Ahl Al-Jazirah oleh ibn Bassam, Kitab Al-Qalaid buah karya Al-Fath Ibn Khaqan dan banyak lagi yang lain.
      2. Kemajuan Pembangunan
Kemajuan Bani Umayyah di Andalusia diraih pada masa pengganti Abd al-Rahman al-Dakhil. Kemajuan Kordova ditandai dengan pembangunan yang megah diantaranya:
1.       al-Qashr al-Kabir , kota satelit yang didalamnya terdapat gedung-gedung istana megah.
2.      Rushafat, istana yang dikelilingi oleh taman yang di sebelah barat laut Cordova.
3.      Masjid jami’ Cordova, dibangun tahun 170 H/786 M yang hingga kini masih tegak.
4.      Al-Zahra, kota satelit di bukit pegunungan Sierra Monera pada tahun 325 H/936 M. Kota ini dilengkapi dengan masjid tanpa atap (kecuali mihrabnya) dan air mengalir ditengah masjid, danau kecil yang berisi ikan-ikan yang indah, taman hewan (margasatwa), pabrik senjata, dan pabrik perhiasan. [8]

3. Perkembangan Ekonomi
Perkembangan baru spanyol juga didukung oleh kemakmuran ekonomi pada abad ke-9 dan abad ke-10. Perkenalan dengan pertanian irigasi yang didasarkan pada pola-pola negeri Timur mengantarkan pada pembudidayaan sejumlah tanaman pertanian yang dapat diperjual-belikan, meliputi buah ceri, apel, buah delima, pohon ara, buah kurma, tebu, pisang, kapas, rami dan sutera. Pada saat yang sama, Spanyol memasuki fase perdagangan yang cerah lantaran hancurnya penguasaan armada Bizantium terhadap wilayah barat laut Tengah. Beberapa kota seperti seville dan Cordova mengalami kemakmuran lantaran melimpahnya produksi pertanian dan perdagangan internasional.
4. Kemegahan Pembangunan Fisik
Aspek pembangunan fisik yang mendapat perhatian umat islam sangat banyak seperti dalam perdagangan. Jalan-jalan dan pasar dibangun seindah mungkin. Di samping itu pula bidang pertanian juga tidak ketinggalan dengan memperkenalkan sistem irigasi, kemudian memperkenalkan pertanian padi, jeruk, kebun dan taman-taman.
                                                           


C.      FAKTOR KEMUNDURAN DAN KEHANCURAN ISLAM DI ANDALUSIA
          Dalam masa kekuasaan Islam di Spanyol yang begitu lama tentu memberikan catatan besar dalam mengembangkan dan memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi peradaban dunia. Namun, sejarah panjang yang telah diukir kaum muslim menuai kemunduran dan kehancuran. Kemunduran dan kehancuran disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
      1. Konflik Islam dengan Kristen
Keadaan ini berawal dari kurang maksimalnya para penguasa muslim di Andalusia dalam melakukan proses Islamisasi. Hal ini mulai terlihat ketika masa kekuasaan setelah al-Hakam II yang dinilai tidak secakap dari khalifah sebelumnya. Bagi para penguasa, dengan ketundukan kerajaan-kerajaan kristen dibawah kekuasaan kristen hanya dengan membayar upeti saja, sudah cukup puas bagi mereka. Mereka membiarkan umat Kristen menganut agamanya dan menjalankan hukum adat dan tradisi kristen, termasuk hirarki tradisional, asal tidak ada perlawanan senjata.[9]
Namun, kehadiran Arab Islam tetap dianggap sebagai penjajah sehingga malah memperkuat nasionalisme masyarakat Spanyol Kristen. Hal ini menjadi salah satu penyebab kehidupan negara Islam di Andalusia tidak pernah berhenti dari pertentangan antara Islam dan Kristen. Akhirnya pada abad ke-11, umat Islam Andalusia mengalami kemunduran, sedang umat Kristen memperoleh kemajuan pesat dalam bidang IPTEK dan strategi perang.
      2. Tidak Adanya Ideologi Pemersatu
Hal ini terjadi hingga abad ke-10 atas perlakuan para penguasa muslim sebagaimana politik yang dijalankan Bani Umayyah terhadap para mu’allaf yang berasal dari umat setempat. Mereka diperlakukan tidak sama seperti tempat-tempat daerah taklukan Islam lainnya. Kenyataan ini ditandai dengan masih diberlakukannya istilah ibad dan muwalladun, suatu ungkapan yang dinilai merendahkan.
Akhirnya kelompok-kelompok etnis non-Arab terutama etnis Salvia dan Barbar, sering menggerogoti dan merusak perdamaian. Hal ini menimbulkan dampak besar bagi perkembangan sosio-ekonomi di Andalusia. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada ideologi pemersatu yang mengikat kebangsaan mereka. Bahkan banyak diantara mereka yang berusaha menghidupkan kembali fanatisme kesukuan guna mengalahkan Bani Umayyah.
      3. Kesulitan Ekonomi
Dalam catatan sejarah, pada paruh kedua masa Islam di Andalusia, para penguasa begitu aktif mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam, sehingga mengabaikan pengembangan perekonomian. Akibatnya timbul kesulitan ekonomi yang memberatkan dan berpengaruh bagi perkembangan politik dan militer. Kenyataan ini diperparah lagi dengan datangnya musim paceklik dan membuat para petani tidak mampu membayar pajak. Selain itu, penggunaan keuangan negara tidak terkendali oleh para penguasa muslim.

      4. Tidak jelasnya Sistem Peralihan kekuasaan
Kekuasaan merupakan hal yang menjadi perebutan diantara ahli waris. Karena inilah kekuasaan Bani Umayyah runtuh dan Muluk al-Thawaif muncul. Maka, Granada yang awalnya menjadi pusat kekuasaan Islam terakhir di Spanyol akhirnya jatuh ke tangan Ferdinand dan Isabella.
      5. Keterpencilan
Spanyol Islam bagaikan negeri terpencil dari dunia Islam yang lain. Ia selalu berjuang sendirian, tanpa mendapat bantuan kecuali dari Afrika Utara. Oleh karena itu, tidak ada kekuatan alternatif yang mampu membendung kebangkitan Kristen disana. [10]
AKHIR KEKUASAAN ISLAM DI ANDALUSIA
                Pada pertengahan abab ke – 11 Posisi non-Muslim di Spanyol memburuk secara substansial, ketika para penguasa lebih ketat dan Islam datang di bawah tekanan besar dari luar. Orang Kristen tidak diizinkan memiliki rumah lebih tinggi daripada umat Islam, tidak boleh mempekerjakan pelayan Muslim, dan harus memberi jalan kepada umat Islam di jalanan. Orang Kristen tidak boleh menampilkan simbol-simbol iman mereka di luar, bahkan tidak boleh membawa Alkitab. Ada penganiayaan dan eksekusi. Salah satu peristiwa terkenal adalah pembunuhan terencana di Granada pada tahun 1066, dan ini diikuti dengan kekerasan dan diskriminasi lebih lanjut di mana kerajaan Islam itu sendiri berada di bawah tekanan. Bersamaan dengan mundurnya kerajaan Islam, dan lebih banyak wilayah yang diambil alih kembali oleh penguasa Kristen, orang Muslim di daerah Kristen menemukan diri mereka menghadapi tekanan-tekanan yang sama dengan yang sebelumnya mereka telah lakukan terhadap orang lain. Namun, secara keseluruhan, banyak kelompok agama minoritas akan menjadi lebih buruk setelah Islam digantikan di Spanyol oleh Kristen. Ada juga budaya aliansi, terutama dalam arsitektur - 12 singa di istana Al-Hambra adalah pengaruh Kristen.
Masjid di Cordoba, sekarang diubah menjadi katedral masih, agak ironis, yang dikenal sebagai La Mezquita atau secara harfiah, masjid. Masjid ini dibangun pada akhir abad ke-8 oleh pangeran Ummayyad Abd Al-Rahman bin Muawiyah. Di bawah pemerintahan Abdul Rahman III (r. 912-961) Islam Spanyol mencapai kekuasaan terbesarnya, setiap Mei, kampanye diluncurkan menuju perbatasan Kristen, ini juga merupakan puncak budaya peradaban Islam di Spanyol.
Runtuhnya kekuasaan Islam di Spanyol adalah karena tidak hanya meningkatkan agresi dari negara-negara Kristen, tapi juga melahirkan perpecahan di antara para penguasa muslim. Bencana itu datang baik dari pusat dan ekstremitas. Pada awal abad ke-11, kekhalifahan Islam satu-satunya telah hancur menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Pusat Islam besar pertama yang jatuh ke tangan Kristen adalah Toledo pada tahun 1085.







BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Andalusia, sebuah negeri yang meninggalkan jejak begitu besar di sepanjang sejarah umat Islam pada awal perkembangan Islam di dunia Eropa.Tentu hal ini menyita banyak perhatian besar dari berbagai khalayak umat Islam.Dikatakan demikian, karena penguasaan Islam terhadap semenanjung Iberia lebih khusus Andalusia, telah menunjukkan bahwa Islam telah tersebar ke negara Eropa.
Mulai dari tahapan awal proses masuknya Islam, dimana wilayah Spanyol diduduki oleh khalifah-khalifah dalam setiap dinasti-dinasti yang didirikan dalam setiap periodenya. Tentu, hal ini banyak memiliki peranan yang sangat penting dan besar dalam perkembangan umat Islam.Dimana  pada akhirnya Islam pernah berjaya di Spanyol dan berkuasa selama tujuh setengah abad. Suatu masa kekuasaan dalam waktu yang sangat lama untuk mengembangkan Islam.
Namun, di balik usaha keras umat Islam mempertahankan kejayaan pada masa sekian abad itu, umat Islam menghadapi kesulitan yang amat berat.Dimana pada suatu ketika, umat Islam diterpa serangan-serangan penguasa Kristen yang sampai-sampai umat Islam tidak kuasa menahan serangan-serangan penguasa Kristen yang semakin kuat itu.Sehingga pada akhirnya Islam menyerahkan kekuasaannya dan semenjak itu berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol.
Demikianlah Islam di Andalusia, walaupun pada akhirnya berakhir dengan kekalahan, namun islam muncul sebagai suatu kekuatan budaya dan sekaligus menghasilkan cabang-cabang kebudayaan dalam segala ragam dan jenisnya. Banyak sekali kontribusi Islam bagi kebangunan peradaban dan kebudayaan baru Barat. Sumbangan Islam itu  telah menjadi dasar kemajuan Barat terutama dalam bidang-bidang politik, ekonomi, sains dan teknologi, astronomi, filsafat, kedokteran, sastra, sejarah dan hukum.
B.      Saran

Demikianlah yang sempat kami paparkan dalam makalah kami, dan penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran dari para pembaca sekalian.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, Samsul Munir,, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah, 2009.
Ismail, Faisal, Paradigma Kebudayaan Islam, Yogyakarta: Titian Ilahi Press,     1996. 
Mubarok, Jaih, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004.

A.Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, jilid 2, Pustaka al – Husna, Jakarta, 1983

Badry Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1993





[1]Ibid ,hal.88
[2]Prof.K.A,Sejarah Islam ( Tarikh Pra Modern ), Cet.II , 1997,Raja Grafindo Persada,Jakarta ,2000,hal.301-302.


[3] Harun Nasution , Op.cit,hal. 82
[4]Majdid Fakhri , Sejarah Filsafat Islam , Pustaka Jaya , 1996,Jakarta,hal.357

[5] Faisal Ismail , Paradigma Kebudayaan Islam , Cet I , Titian Ilahi , Press , 1996 , Yogyakarta , hal. 154
[6] Ahmad Syahlabi , Op.Cit,hal. 86
[7] Badry Yatim , Op.Cit,hal. 102 - 103


[8]Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004), hlm. 71.

[9] Hasan Ibrahim Hasan , Tarikh al-Islam al-Sitasi wa al-Dini wa al-Tsaqafi wa al-Ijtima’,Maktabah al-Nahdhah , t.t , Kairo . hal . 502


[10]Badri Yatim, op. cit., hlm. 107

Makalah : Kapita Selekta PAI



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pada alur sejarah peradaban mana pun, kinerja manusia secara evolutif dibangun di atas norma-norma dan  kualitas etika positif yang menjelma sebagai kebudayaan. Tatkala iini dikedepankan, secara berkelanjutan manusia akan memasuki era pencerahan seakan tanpa batas. Fenomena ini oleh Zig Zigler dalam bukunya Over The Top (1995) diidealisasikan sebagai norma-norma pendidikan, yang meniscayakan esensi dan eksistensi guru di dalamnya. Namun demikian, hingga mana norma-norma pendidikan dengan guru sebagai ujung tombaknya mampu secara evolutif membangun manusia memiliki norma-norma hidup dan beretika level tinggi, nampaknya ada pihak-pihak yang menyaksikannya. Bagi Zig Zigler, kini dominasi norma-norma parsial nyaris tak dominan lagi, karena norma itu telah mengkristal sebagai norma kehidupan.
B.     Rumusan Masalah
1.      Kompetensi apakah yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagai instructional leader?
2.      Bagaimanakah karakteristik guru yang profesional?


C.      
BAB II
PEMBAHASAN
GURU SEBAGAI KUNCI UTAMA AGENDA PROSES PEMANUSIAAN
A.    Masalah Keguruan dan Agenda Pemanusiaan
Pada alur sejarah peradaban mana pun, kinerja manusia secara evolutif dibangun di atas norma-norma dan  kualitas etika positif yang menjelma sebagai kebudayaan. Tatkala iini dikedepankan, secara berkelanjutan manusia akan memasuki era pencerahan seakan tanpa batas. Fenomena ini oleh Zig Zigler dalam bukunya Over The Top (1995) diidealisasikan sebagai norma-norma pendidikan, yang meniscayakan esensi dan eksistensi guru di dalamnya. Namun demikian, hingga mana norma-norma pendidikan dengan guru sebagai ujung tombaknya mampu secara evolutif membangun manusia memiliki norma-norma hidup dan beretika level tinggi, nampaknya ada pihak-pihak yang menyaksikannya. Bagi Zig Zigler, kini dominasi norma-norma parsial nyaris tak dominan lagi, karena norma itu telah mengkristal sebagai norma kehidupan.
1.      Norma Kehidupan
Menurut seorang penulis yang sangat produktif, sekarang ini nyaris semua orang sudah menyadari tidak ada yang benar-benar eksplisit untuk diagendakan mengenai apa yang berrnama norma keluarga, norma pendidikan, norma bisnis, norma pemerintahan, atau norma politik. Karena itu, menurut Zig Zigler, salah seorang pembicara motivasional terbaik di Amerika Serikat saat ini, kesemua norma-norma itu adalah norma kehidupan. Rasionalnya, tidak mungkin lagi kita memisahkan norma keluarga atau kehidupan yang sukses dari norma pendidikan, bisnis, atau pemerintahan dan politik. Ternyata, pembentukan norma-norma itu masih berlangsung secara evolutif sampai sekarang, seakan-akan menelusuri jalan tanpa batas semu sekalipun, sejalan dengan perultra modern seperti Amerika Serikat, ternyata norma-norma ini masih mendominasi permintaan masyarakat untuk dijadikan sebagai bahan ajar, paling tidak ada 85% si antara mereka yang meminta.
2.      Bekal Moral
Efidensi di atas membuktikan hipotesis selama ini, bahwa muatan-muatan moral, demokrasi, dan kepedulian sosial yang tersaji sebagai bahan ajar di sekolah-sekolah kita  kebanyakan diambil dari “udara” atau awang-awang. Bekal-bekal moral kepada anak didik dikemas secara satu arah, tanpa memberi peluanng bagi mereka untuk mengetahui sejauhmana aktualisasi norma-norma moral itu di masyarakat.
Tersumbatnya rasa ingin tahu para pelajar dan mahasiswa kita, harus kita akui sebagian di antaranya bersumber dari para pendidik mereka dan birokrasi di atasnya. Namun, yang lebih dominan adalah norma-norma kehidupan kita yang cenderung masih menabukan penelaahan terhadap fenomena ruang sensitif, yang di dalam budaya keterbukaan sesungguhnya biasa adanya. Padahal, pelajar dan mahasiswa punya potensi berprestasi sam dengan bangsa manapun, sepanjang norma-norma kehidupan diorganisasikan secara demokratis.
Jadi, tatkala pendidikan kita belum mampu meng-up grade prestasi belajar  anak secara signifikan, agaknya tidak sepenuhnya relevan jika hal itu ditanggulangi dengan beberapa agenda kependidikan berskala kecil, misalnya, dengan cara membuat kebijakan bongkar pasang kurikulum, memberikan pendidikan dan pelatihan kepada guru-guru, memperbanyak buku-buku ajar, dan sebagainya. Hal yang harus lebih dikedepankan justru keterbukaan norma-norma kehiduupan dan norma-norma pendidikan yang memungkinkan anak bangkit rasa ingin tahunya. Namun demikian, hingga mana hal ini dapat diantisipasi oleh guru-guru dan hingga mana pula mereka mampu mengimplementasikannya akan sangat bergantung kepada dimensi-dimensi pendukungnya, misalnya mempersempit ruang penelaahan yang bersifat sensitif. Hal ini perlu dipikirkan oleh para pembuat kebijakan, sebelum kita terjebak ke dalam lingkaran norma-norma kehidupan dan norma-norma pendidikan yang justru kurang menguntungkan.


B.     Guru, Pamong Praja  yang Manusiawi
Guru merupakan  ujung tombak proses kemanusiaan dan pemanusiaan telah diterima sepanjang sejarah pendidikan formal, bahkan sebelum itu. Hingga saat ini agenda kerja, wajah kegiatan, dan fungsi yang ditampilkan oleh guru tidak berubah, yaitu menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran di kelas. Mereka ini menjadi ujung sekaligus pengarah tombak proses kemanusiaan dan pemanusiaan melalui jalur pendidkan formal.
Pada tataran perilaku, apa yang ditampilkan oleh guru relatif khas, paling tidak banyak berbeda secara visual dengan perilaku warga masyarakat profesional bukan guru. Mereka senantiasa berperilaku seperti pamong praja tulen, sebagian besar di antaranya berperilaku secara manusiawi, tanpa ada pretensi untuk tampil eksentrik, norak, apalagi glmour. Perilaku sosial yang mereka tampilkan mencerminkan kapasitas sosial, ekonomi, mobilitas, dan kepribdian sebagai guru.
1.      Tipikal Perilaku
Sosok guru tidak hanya tercermin dalam kesederhanaan mereka berpakaian, bertutur kata, berbelanja di pasar, atau dalam pola menikmati waktu senggang, seperti rekreasi. Mereka tidak mempunyai beban untuk menyisihkan anggaran berlibur akhir tahun atau pesta ulang tahun atau berbelanja ke super market, disebabkan karena ekonominya relatif serba terbatas dan penampilan guru memang cenderung seperti itu. Mereka merasa cukup berbelanja di kaki lima atau di pasar-pasar yang biasa menawarkan harga murah.
Di samping itu, mereka cenderung bermental nrimo, tunnduk pada atasann dan ssayang pada murid, santun pada masyarakat tanpa disertai dalih untuk mendapatkan pamrih.
2.      Harga Profesi Guru
Profesi guru yang di dalam forum-forum resmi dan di naskah-naskah formal akademik begitu mulia, di masyarakat luas nampaknya masih menjadi semacam profesi kelas dua, di bawah profesi-profesi lain, seperti dokter, notaris, arsitek, dan sebagainya. Kondisi ini sangat disayangkan, sebab guru merupakan subjek yang sangat besar sumbangannya dalam membangun manusia masa depan. Di tengah-tengah makin maraknya nuansa orang kebanyakan menempatkan uang dan harta kekayaan sebagai indikator puncak prestasi pribadi dan keluarga, nampaknya profesi guru makin ditempatkan ke dalam kelompok profesi yang kurang membanggakan. Tuntutan masyarakat yang begitu besar terhadap fungsi guru dalam mendidik anak-anak mereka, yang untuk sebagian besar barangkali tidak kesampaian karena tekanan-tekanan eksternal, seperti pergeseran persyaratan kerja dan kelesuan ekonomi, membuat kesan masyarakat terhadap kredibilittas guru belum membaik.


3.      Membangkitkan Citra Guru
Apresiasi guru terhadap profesinya dan peningkatan citra masyarakat terhadap guru dan profesi yang disandangnya tidak akan lepas dari fungsi perbaikan taraf hidup mereka. Karenanya, adalah tugs para pembuat keputusan juga untuk membenahi kesejahteraan guru, antara lain menaikan gaji atau tunjangan jabatan pendidikannya. Agenda kerja pejabat pemerintah atau pimpinan yayasan untuk mengupayakan peningkatan kesejahteraan guru melalui perbaikan atas penghasilan mereka adalah wajar adanya, oleh karena kebutuhan hidup keluarga guru pun makkin meningkat, sejalan dengan pergeseran nilai uang.
Tanggungjawab guru sebagai abdi negara dan abdi masyarakat tetap tidak mungkin diletakan melebihi batas-batas kondisi internal dirinya. Guru adalah manusia biasa yanng memilikii banyak keterbatasan, seperti halnya keterbatasan manusia kebanyakan. Adalah kebanggaan bagi guru, jika dia mampu melahirkan anak didik menjadi manusia yang cerdas, berbudi luhur, dan terampil serta memiliki daya adaptabilitas yang tinggi dalam menghadapi aneka perubahan situasi.
4.      Profesi Terisolasi
Kini adalah waktu yang sangat tepat untuk memperjuangkan kenaikan gaji atau tunjangan jabatan pendidikan guru, sejalan dengan makin nampaknya kemampuan profesional guru dalam mengelola proses belajar mengajar di kelas. Perbaikan nasib mereka memungkinkan dirinya membeli dan membaca sumber informasi.
Uang hanya mungkin menjadi alat untuk memecahkan masalah ekonomi guru. Perbaikan citra profesi guru di masyarakat akan sangat banyak ditentukan oleh persepsi masyarakat terhadap profesi guru, di samping usaha guru sendiri untuk memperbaikinya. Kesadaran manusia akan makna agenda kerja yang menjadi gamitan pendidikan bagi penempaan kognisi, afeksi, dan psikomotorik pelanjut generasi, secara otomatis melahirkan prakarsa baru, berupa disposisi uuntuk tidak menerima realitas sebagaiimana adanya, tanpa pemberdayaan diri secara optimal. Karenanya, tuntutan akan kehadiran guru profesional tidak pernah surut, karena dalam altar proses kemanusiaan dan pemanusiaan itu, ia hadir sebagai subjek paling diandalkan. Tantangan para guru adalah bagaimana mereka mampu menjalankan roda pembelajaran untuk melahirkan manusia sejati pada masyarakat pengguna jasa pendidikan yang terus berubah.
5.      Bekal untuk Hidup
Dalam makna, semampu dan seterampil serta serelevan apa pun lulusan pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja, tidak akan berarti banyak, manakala para guru tidak dapat memberikan bekal kepada anak didik mengenai apa itu hakikat hidup, dan moralitas macam apa yang diperlukan anak didik untuk hidup di masyarakat.
Kemampuan profesional mereka secara evolutif harus terus berubah sejalan dengan evolusi kemajuan bidang IPTEK. Di sini guru berkedudukan menjalankan fungsi teknologisasi dan industrialisasi, antara lain mendorong pengembangan media belajar dalam paradigma teknologi pendidikan atau mengakses pemanfaatan teknologi yang ada di masyarakat uuntuk keperluan pembelajaran. Hal ini adakalanya melahirkan dilema bagi guru, dimana pada satu sisi mereka diposisikan sebagai pengembang fuungsi intrinsik pendidikan dan di sisi lain mereka harus melakukan transfer IPTEK. Karena pada era ini keberhsilan guru seringkali diukur dari kemampuannya melahirkan manusia produktif, kalau tidak boleh disebut manusia ekonomi.
Citra guru pun adakalanya makin tereduksi akibat masifitas teknologi yang menyebabkan pada aspek tertentu kedudukan mereka sebagai sumber pengetahuan menjadi nisbi. Bahkan adakalany mereka menjadi rendah diri, karena teknologi informasi yang mereka miliki tidak seberapa dibandingkan dengan yang dimiliki oleh masyarakat, yang mengakibatkan mereka tidak mampu mengakses berita dan perkembangan IPTEK yang aktual.
C.    Guru dan Murid Sama-sam Pernah Mogok
Mengikuti logika pemikiran Vollmer dan Mills jabatan guru dikategorikan sebagai profesi yang sesungguhnya, karena pekerjaan mengajar lebih mengandalkan aspek mental daripada motorik atau manual, seperti halnya notaris, dokter, dan sebagainya. Dengan staus profesionalnya itu, guru mestinya memiliki komitmen tinggi terhadap tugas. Di dalam realitas, pernah kita saksikan guru mogok mengajar dan siswa mogok belajar yang keduanya merupakan dua fenomena kependidikan yang menrik disimak. Fenomena lainnya adalah tawuran pelajar yang akut lagi kronis. Pada aspek lulusan, kita juga diikejutkan oleh makin membludaknya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi untuk jenjang sarjana dan diploma.
Guru mogok mengajar apa pun alasannya merupakan counter productive proses pendidikan dan pembelajaran yang bermisi kemanusiaan universal. Fenomena yang harus kita lihat bukan hanya mogok mengajar sebagai anomali kepribadian guru, melainkan harus diposisikan pada rasional itu mengapa mereka berperilaku seperti itu. Kecilnya intensif ekonomi nampaknya menjadi alasan klasik, namun tetap relevan diangkat ke permukaan. Dilihat dari perspektif ini, kondisi kehidupan para guru memang belum baik.
Akan tetapi, hal itu merupakan sebuah resiko pilihan profesi. Jumlah guru yang banyak dan ketakberdayaan merek melawan arus birokrasi akibat kekhawatiran dimarjinalkan, memang menjadi sasaran empuk. Di sisi lain, jumlah mereka yang besar sangat efektif menjadi ajang politisasi untuk mendukung kekuatan tertentu.
Pada tataran tugas, mereka pun makin harus profesional sejalan dengan meningkatnya kesadaran sejarah peradaban dan daya kritis siswa. Jika sebelumnya anak didik menerima segala realitas kinerja guru, kini mereka sudah mampu membedakan mana guru yang baik dan mana pula guru yang cenderung anomalis menjalankan tugas. Bukan hanya guru yang mogok. Siswa pun pernah mogok belajar. Mereka menggelar mogok belaajar tatkala kepala sekolah dan guru yang menjadi idolanya dipindahkan ke sekolah lain. Sebaliknya, mereka pun mogok belajar, manakala kepala sekolah dan guru-guru mereka cenderung anomalis dalam menjalankan tugas.
Munculnya daya kritis siswa merupakan fenomena baik, asalkan ia dijadikan sumber kearifan bagi tenaga kependidikan. Guru-guru dan kepala sekolah harus mampu tetap eksis dalam keadaan apa pun kondisi psikologi mereka.
Guru merupakan salah satu subjek yang bertanggungjawab dalam proses pendidikan budi pekerti. Tapi posisi guru makin diperburuk, karena gejala anomali di kalangan pelajar sering dilabelkan oleh masyarakat sebagai kesalahan mereka. Bahkan analis pendidikan pun cenderung berkesimpulan bahwa perilaku kekerasan dan kejahatan masyarakat, termasuk yang dilakukan oleh anak didik merupakan representasi dari kegagalan pendidikan moral oleh para guru, termasuk kegagalan pendidikan agama.
1.      Enam Referensi
Pada pertemuan para Mendikbud dari sembilan negara, tahun 1995 lalu, setidaknya telah disepakati secara bulat enam pandangan yang dapat dijadikan referensi dan agenda kerja dalam mengembangkan pendidikan pada abad ke-21. Keenam pandangan dimaksud merupakan agenda pendidikan abad ke-21 yang meliputi:
Ø  Pertama, ikut menggalang perdamaian dan ketertiban dunia, dengan titik tekan menanamkan kepada peserta didik agar dapat memahami nilai-nilai anti kekerasan, toleransi tinggi antarsesama manusia, dan keadilan sosial.
Ø  Kedua, mendidik anak untuk mempersiapkan dirinya menjadi pribadi ideal dalam kapasitasnya sebagai warga negara dan anggota masyarakat dalam tatanan kehidupan yang demokratis.
Ø  Ketiga, pendidikan harus dilakukan secara merata dan komprehensif, dengan menafikan batas-batas kemampuan ekonomi, jenis kelamin atau aspek lain yang mengarah kepada tindakan deskriminatif yang bertentangan dengan nilai hakiki pendidikan.
Ø  Keempat, pendidikan harus mampu menanamkan dasar-dasar pembangunan yang berkelanjutan dengan memperhatikan kelestarian dan pelestarian lingkungan hidup dalam makna luas.
Ø  Kelima, pendidikan harus menjadi instrumen tepat untuk mempersiapkan tenaga kerja untuk pembangunan ekonomi, dan karenanya pendidikan harus dikaitkan dengan kebutuhan dunia kerja.
Ø  Keenam, pendidikan harus berorientasi kepada ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama bagi negara-negara berkembang, agar tidak bergantung secara berkepanjangan dengan negara maju.
Enam pandangan mengenai sosok pendidikan abad ke-21 adalah kemutlakan, bahwa guru-guru masa depan harus benar-benar tampil secara profesional dilihat dari dimensi pribadi, penguasaan keilmuan dan metodologi pengajaran, dan sosialnya. Tugas guru sebagai tenaga kependidikan berspektrum luas tidak hanya memerankan fungsi sebagai subjek yang mentransfer pengetahuan, melainkan juga melakukan tugas-tugas sebagai fasilitor, motivator, dan dinamisator dalam proses pembelajaran, baik di dalam maupun di luar sekolah.
2.      Kompetensi Guru
Untuk dapat menjalankan tugas-tugas itu secara efektif dan efisien, para guru harus memiliki kompetensi tertentu. Di Indonesia telah ditetapkan sepuluh kompetensi yang harus dimiliki oleh guru sebagai instructional leader, yaitu:
a.       Memiliki kepribadian ideal sebagai guru
b.      Penguasaan landasan kependidikan
c.       Menguasai bahan pengajaran
d.      Kemampuan menyusun program pengajaran
e.       Kemampuan melaksanakan program pengajaran
f.       Kemampuan menilai hasil dan proses belajar mengajar
g.      Kemampuan menyelenggarakan program bimbingan
h.      Kemampuan menyelenggarakan administrasi sekolah
i.        Kemauan bekerjasama dengan sejawat dan masyarakat
j.        Kemampuan menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran.
Untuk dapat benar-benar tampil secara profesional, para guru harus memiliki karakteristik dasar sebagai elemen inti yang membedakannya dengan guru-guru yang belum profesional. Merujuk kepada pendapat Robert W. Rechey, karakteristik utama yang haarus dimiliki oleh para guru meliputi:
ü  Pertama, lebih mementingkan pelayanan kemanusiaan ideal daripada mementingkan layanan yang semata berdampak bagi kepentingan pribadi guru selaku penyandang profesi
ü  Kedua, adanya kesadaran dalam diri pribadi guru sebagai penyandang profesi, bahwa mereka nisbi memerlukan waktu panjang dan terus-menerus untuk mempelajari konsep dan prinsip pengetahuan khususnya yang mendukung keahliannya, baik penguasaan materi maupun metodologi pembelajaran
ü  Ketiga, memiliki kualitas tertentu untuk memasuki altar perjalanan profesi keguruan serta secara kontiniu mampu mengikuti perkembangan dalam pertumbuhan jabatan dan tuntutan institusi pendidikan pada umumnya
ü  Keempat, memiliki komitmen terhadap kode etik yang mengatur keanggotaan, tingkah laku, sikap, dan cara kerja untuk membedakannya dengan masyarakat pada umumnya
ü  Kelima, mensyaratkan suatu kegiatan intelektual  yang tinggi
ü  Keenam, adanya organisasi yang dapat meningkatkan standar pelayanan, disiplin profesi, serta kesejahteraan anggotanya (PGRI)
ü   Ketujuh, memberikan kesempatan untuk kemajuan, spesialisasi, dan kemandirian bagi penyandang profesi
ü  Kedelapan, memandang profesi sebagai suatu karir seumur hidup dan menjadi seorang anggota profesi yang permanen.





BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagai instructional leader, yaitu: memiliki kepribadian ideal sebagai guru, penguasaan landasan kependidikan, menguasai bahan pengajaran, kemampuan menyusun program pengajaran, kemampuan melaksanakan program pengajaran, kemampuan menilai hasil dan proses belajar mengajar, kemampuan menyelenggarakan program bimbingan, kemampuan menyelenggarakan administrasi sekolah, kemauan bekerjasama dengan sejawat dan masyarakat, kemampuan menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran.
2.      Karakteristik guru yang profesional yaitu: lebih mementingkan pelayanan kemanusiaan ideal daripada mementingkan layanan yang semata berdampak bagi kepentingan pribadi guru selaku penyandang profesi, adanya kesadaran dalam diri pribadi guru sebagai penyandang profesi, memiliki kualitas tertentu untuk memasuki altar perjalanan profesi keguruan serta secara kontiniu mampu mengikuti perkembangan dalam pertumbuhan jabatan dan tuntutan institusi pendidikan pada umumnya, memiliki komitmen terhadap kode etik yang mengatur keanggotaan, tingkah laku, sikap, dan cara kerja untuk membedakannya dengan masyarakat pada umumnya, mensyaratkan suatu kegiatan intelektual  yang tinggi, adanya organisasi yang dapat meningkatkan standar pelayanan, disiplin profesi, serta kesejahteraan anggotanya (PGRI), memberikan kesempatan untuk kemajuan, spesialisasi, dan kemandirian bagi penyandang profesi, memandang profesi sebagai suatu karir seumur hidup dan menjadi seorang anggota profesi yang permanen.
B.     Saran-saran
1.      Penulis berharap semoga makalah ini dapat menambah wawasan para pembaca tentang peran guru sebagai kunci utama agenda proses pemanusiaan.
2.      Penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan pembuatan makalah kami selanjutnya.







DAFTAR PUSTAKA
Danim, Sudarwan. Agenda Pembaruan Sistem Pendidikan. Cet. II; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.
                                                          

makalah-makalah dan tugas power point (ppt): Metode Kajian Hadis

makalah-makalah dan tugas power point (ppt): Metode Kajian Hadis : BAB I PENDAHULUAN A.   Latar Belakang Petunjuk-petunjuk agama men...